Jumat, 15 April 2022 – JUMAT AGUNG

c-139 – Yes. 52:13-53:12 – “Sesugguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya” (ay 4a)

ORANG BENAR YANG DIANIAYA

  1. Nyanyian keempat mengenai Hamba Yahwe ini barangkali merupakan puncak pemikiran keagamaan bangsa Israel. Kematian pun digambarkan di dalammnya sebagai sesuatu yang berharga. Hamba menyerahkan hidupnya sebagai korban penebus salah, sedangkan semua penderitaan yang ditanggungnya, membawa berkat kepada manusia.
  2. Dalam jemaah Yahudi yang tinggal di pembuangan, para nabi berperan sebagai pengganti pimpinan lama. Dengan adanya mereka, bangsa Yahudi memperoleh semacam lembaga yang baru. Setelah para pengantara terdahulu, yaitu raja-raja dan imam-imam secara praktis telah kehilangan kedudukannya, jemaat para buangan menyadari, bahwa di antaranya terdapat sekelompok orang yang berdasarkan panggilannya merasa bertanggung jawab atas hidup mereka, yaitu para nabi. Para nabi menyampaikan kepada jemaat itu firman Allah. Mereka menanggung dosa orang lain serta mengantara bagi mereka. Para nabi bahkan berusaha menjadi lebih solider dengan saudara-saudara sebangsanya, walaupun sikap mereka itu sering ditanggapi salah, sehingga mereka pun berjuang melawan keputusasaan hatinya. Justru kenyataan sedemikian menumbuhkan di kalangan orang Yahudi pengharapan akan Mesias. Pengharapan itu terungkap dalam nyanyian-nyanyian pengenai Hamba Yahwe.
  3. Pribadi Hamba, yang dilagukan bangsa Yahudi di pembuangan, sebenarnya tidak jelas. Tidak selalu dapat dipastikan apakah mereka maksudkan seorang saja atau sekelompok orang. Namun yang dapat dipastikan, Hamba itu menjelmakan kerinduan hati bangsa akan datangnya seorang tokoh akhir zaman, yang mulai digambarkan sejak nabi Yeremia dan Yehezkiel. Namun berbeda dengan gagasan Yehezkiel, di mana Hamba itu menanggung dosa secara simbolis saja, dalam teks ini Hamba itu benar-benar membawa bilur-bilur dosa dalam tubuhnya sendiri. Berbeda dengan gagasan Yeremia, di mana Hamba melibatkan diri dalam bahaya yang dapat berakhir baginya dengan kemartiran, Hamba dari kitab Yesaya ini menghadap bahaya itu demi kesejahteraan seluruh umat manusia.
  4. Mudah dipahami, mengapa murid-murid Yesus sering kali membaca teks Yesaya ini untuk mencari di dalammnya arti wafat Guru mereka di salib. Dan kranya dapat dipastikan, bahwa Yesus sendiri secara langsung mengutip teks ini pada saat-saat yang paling menentukan dalam kehidupan-Nya.

Yoh. 18:1-19:42 – “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (ay 11)