255. Makam Yesus dijaga (Mat 27:62-66)

Perintahkanlah untuk menjaga kubur – 27:64
Selanjutnya delegasi itu minta Pilatus memerintahkan supaya kubur Yesus dijaga. Setidak-tidaknya sampai hari yang ketiga. Sebelumnya Yusuf dari Arimatea minta agar Pilatus menyerahkan mayat Yesus untuk dikuburkan. Pilatus mengabulkan permohonan itu. Kini Pilatus diminta memberi perintah yang tampaknya bermusuhan dengan pengikut Yesus, dan permohonan kedua itu pun dikabulkannya. Mengapa? Karena: 1) Delegasi itu hanya minta bantuan dari pihak Pilatus; 2) Alasan yang disodorkan kepadanya, tampaknya cukup meyakinkan; 3) Waktunya sudah mendesak.

Penyesatan terakhir akan lelbih buruk akibatnya – 27:64
Delegasi bicara tentang kemungkinan para pengikut Yesus akan mencuri mayat-Nya, lalu menyebarkan berita (bohong) bahwa Yesus telah bangkit. Demi meyakinkan Pilatus, juru bicara delegasi menutup permohonannya dengan sebuah kalimat-pepatah, “Penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya daripada yang pertama.” Kalimat serupa dengannya dapat dijumpai dalam Mat 12:45, “Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” Dengan berkata demikian, delegasi mengungkapkan keyakinannya bahwa seluruh ajaran Yesus hanyalah penyesatan. Namun – betapa mengherankan! – mereka menanggapi secara serius sekali ucapan Yesus tentang kebangkitan-Nya!

Mencuri mayat
Tepatkah kekhawatiran delegasi Yahudi itu mengenai kemungkinan mayat Yesus akan dicuri oleh para murid-Nya? Secara historis diketahui bahwa di zaman itu jarang sekali ada orang yang berani membongkar kubur. Kalau itu terjadi, maka alasannya selalu satu saja, yaitu untuk mencuri harta yang dimasukkan ke dalam kubur. Dalam kasus Yesus ini, masalahnya ialah pemindahan mayat, lagi pula bukan untuk menguburkannya di tempat lebih terhormat, melainkan untuk menyembunyikannya dan menipu masyarakat. Pilatus menganggap kemungkinan ini sebagai sesuatu yang real, sehingga ia tidak berkeberatan mengabulkan permohonan delegasi. Namun, secara historis kemungkinan bahwa para pengikut Yesus merencanakan lalu melaksanakan pencurian mayat Yesus, sungguh tidak masuk di akal. Sebab pada saat Yesus ditangkap, mereka semua telah melarikan diri. Mungkinkah mereka tiba-tiba berani mencuri mayat Yesus sambil berpikir bahwa pencurian semacam ini dapat meyakinkan masyarakat tentang bangkitnya Yesus?

Ini penjaga-penjaga bagimu! – 27:65
Pilatus tidak berkeberatan mengabulkan permohonan delegasi Yahudi. Artinya Pilatus menyuruh beberapa serdadu Romawi menjaga kubur Yesus. Selanjutnya regu penjaga itu diurus oleh delegasi itu sendiri ataupun oleh pimpinannya. Jadi, regu itu “diinjam” untuk dua haru saja. Bahwa terjadi demikian, mudah disimpulkan dari ayat 66, “Dengan bantunan penjaga-penjaga itu mereka (=delegasi itu) memeterai kubur itu dan menjaganya.

Cerita selanjutnya
Kisah ini berlanjut dalam Mat 28:2-4.11-15. Menjelang menyingsingnya fajar, datanglah Maria Magdalena dan Maria yang lain menengok kubur Yesus. Waktu mendekati kubur, “terjadilah gempa bumi yang hebat, sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.” Kejadian luar biasa itu menimbulkan ketakutan dalam hati para penjaga, sehingga mereka menjadi seperti orang-orang mati. Mereka yang seharusnya menjaga Yesus yang sudah mati, menjadi mirip mayat! Setelah “terbangun”, beberapa dari para penjaga itu memasuki Yerusalem dan “memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.” Pada saat Yesus wafat terjadi gempa bumi juga. Para prajurit dekat salib “menjadi sangat takut” juga. Tetapi, pada waktu itu kepala pasukan dan para prajuritnya justru menyatakan imannya, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (27:54). Sesudah Yesus bangkit, keadaannya terbalik. Setelah mendengar berita para penjaga, para imam kepala berkumpul seperti dulu, sebelum Yesus disalibkan. Mereka “memberikan sejumlah besar uang kepada sertadu-serdadu itu dan berkata, ‘Kamu harus mengatakan bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur’.” Lewat kisah ini Matius dengan konsisten sekali menggambarkan para imam kepala Yahudi serta cara kerja mereka. Semua tuduhan yang dilontarkan terhadap Yesus, memang bohong belaka. Orang yang bohong sekali saja, biasanya harus bohong sampai urusannya selesai. Akibat bohong itu, tersiarlah berita bohong “di antara orang Yahudi sampai sekarang ini,” kata Mat. Yang paling menarik dalam kalimat terakhir ini ialah ungkapan orang Yahudi. Sejak kejadian itu jurang pemisah antara para pengikut Yesus dan bangsa Yahudi semakin lebar. Matius malah mencatat kalimat tersebut seolah-olah ia sendiri bukan Yahudi! Dan memang begitulah kenyatannya! Lama kelamaan orang-orang Kristen Yahudi mulai begitu dibenci dan dihindari dalam pergaulan sehari hari, sehingga mereka tidak merasa Yahudi lagi. Inilah salah satu sebabnya mereka akhirnya pergi ke segala ujung bumi demi memberitakan Injil yang sebenarnya.