251. Pemakaman Yesus (Mat 27:57-61)

Kisah pemakaman Yesus
Kisah pemakaman Yesus dapat dibagi tiga, yaitu: 1) Yusuf minta jenazah Yesus; 2) Yesus dimakamkan; 3) Makam dijaga. Kisah ini dapat dibaca dalam semua Injil, namun masing-masing kisahnya berbeda-beda. Dalam semua kisah itu ditegaskan bahwa Yesus dimakamkan di suatu tempat tertentu yang dapat diingat; jenazah-Nya tidak dimasukkan ke dalam kuburan masal.

Sikap bangsa Romawi
Tidak diketahui secara pasti bagaimana sikap bangsa Romawi terhadap mayat orang yang disalibkan. Sebab penguasa Roma bersikap berbeda terhadap warga-warganya sendiri dan yang bukan warganya. Sikap itu tidak sama pula di semua negara yang mereka jajah. Yesus disalibkan karena dituduh mengklaim diri-Nya sebagai “Raja orang Yahudi.” Bagaimana sesungguhnya sikap Pilatus terhadap Yesus pun tidak dapat dipastikan. Namun, diketahui bahwa Pilatus bukan orang brutal secara berlebih-lebihan. Ia tidak punya alasan kuat untuk melarang jenazah Yesus dimakamkan. Satu-satunya alasannya untuk tidak mengizinkan Yesus dimakamkan mungkin saja rasa takut, supaya ia sendiri jangan dituduh sebagai musuh kaisar. Tuduhan ini dapat dilontarkan orang, seandainya Yesus benar-benar dipandang sebagai pemberontak dan penghina kaisar.

Sikap bangsa Yahudi
Lain halnya dengan bangsa Yahudi. Dalam kitab Ulangan tercatat begini, “Apabila seorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; jaganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu” (Ul 21:22-23). Bagaimana sikap orang-orang Yahudi sendiri dalam hal pemakaman jenazah Yesus? Karena mereka sendiri tidak menyalibkan Yesus, mereka kiranya tidak berkeberatan kalau mayat Yesus dikubur saja.

Menjelang malam – 27:57
Dalam ayat 57 Mat mencatat begini, “Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.” Kalau ayat 57 ini dibandingkan dengan ayat sejajarnya dalam Injil Markus, maka diakui bahwa sebelum bicara tentang Yusuf dari Arimatea, Markus dengan cukup rinci menyebut waktu dan hari dimulainya kesibukan sekitar pemakaman jenazah Yesus. Teksnya berbunyi begini, “Sementara itu mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat” (Mrk 15:42). Pada waktu menyusun kitabnya, penulis Injil Matius memecah-mecahkan “data” Mrk menjadi tiga anak kalimat, lalu menempatkannya pada awal alinea-alinea penting dalam kisahnya., Data pertama mengenai menjelang malam ditempatkannya pada awal ayat 57 ini. Data kedua mengenai hari persiapan, disebutnya baru pada awal ayat 62. Data ketiga, yaitu hari Sabat, dijadikannya pembuka ayat pertama dalam bab 28. Bagaimana harus diartikan ungkapan menjelang malam? Ungkapan ini memang kabur, namun kiranya mengacu kepada petang yang menurut pandangan Yahudi berakhir pada pkl 16.30.

Datanglah seorang – 27:57
Sehubungan dengan orang yang datang dar Arimatea pun, catatan Markus berbeda dengan data dalam Injil Matius. Matius memperkenalkan Yusuf sebagai orang kaya, orang Arimatea yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Lain bunyi teks Mrk: “Yusup, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah …” (Mrk 15:43). Orang yang membaca kedua teks ini dan yang tidak terbiasa dengan berbagai seluk-beluk Kitab Suci, pasti bingung. Yang mana benar? Apakah Yusuf itu seorang “penanti Kerajaan Allah” sebagaimana dikatakan oleh Markus, ataukah ia “murid Yesus” sebagaimana dikatakan oleh Matius? Teka-teki ini dapat dipecahkan secara memuaskah bila diterima bahwa pada waktu menguburkan jenazah Yesus, Yusuf dari Arimatea memang belum menjadi murid Yesus; ia menjadi murid-Nya sesudah kebangkitan Yesus. Justru karena itulah namanya diabadikan dalam semua Injil. Dengan memperkenalkannya sebagai “penanti Kerajaan Allah,” Markus bermaksud mengatakan satu hal saja: Sama seperti anggota-anggota Majelis Besar yang lain, Yusuf pun menolak Yesus. Tetapi, karena ia seorang saleh yang selalu ingin mematuhi Hukum Taurat, maka ia bersedia menguburkan jenazah Yesus. Dengan menyebutnya “penanti Kerajaan Allah,” Markus mensinyalir apa yang terjadi kemudian, sesudah Yesus bangkit: Yusuf menjadi murid Yesus. Mat yang menyusun Injil sesudah Markus, langsung memperkenalkannya sebagai murid Yesus, padahal pada waktu menguburkan Yesus, Yusuf sesungguhnya belum menjadi murid Yesus. Perlu disadari bahwa berita tentang Yusuf ini ditempatkan oleh Matius langsung sesudah catatan tentang sekelompok wanita yang “melihat dari jauh” namun sama sekali tidak melibatkan diri dalam pemakaman Yesus. Sebagai pengikut-pengikut Yesus Yesus para wanita itu memang tidak berhak berbuat apa-apa. Pada waktu itu di Golgota tidak ada pula seorang rasul atau pria lain yang telah menjadi murid Yesus. Ternyata semua “murid” itu diganti oleh seorang pria ayang bukan murid Yesus. Ia tinggal bersama Yesus sampai Ia mati. Dalam arti ini pun Yusuf dari Arimatea dapat dipandang sebagai “murid Yesus.” Sebab Ia berani menguburkan jenazah Yesus.

Seorang kaya – 27:57
Menurut Mat, Yusuf dari Arimatea adalah seorang kaya. Mat tidak memperkenalkannya sebagai anggota Majelis Agung. Justru karena ia kaya maka Pilatus mengabulkan permohonannya. Dalam bab 19 Matius memperkenalkan seorang muda yang menghampiri Yesus sambil bertanya, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Karena kayanya, pemuda itu gagal menjadi murid Yesus. Yusuf dari Arimatea adalah seorang kaya. Namun, justru dialah menerima tantangan Yesus, “Ikutlah Aku” (19:21) yang tidak diterima oleh si pemuda dulu. Mungkin karena itu pula Mat dalam Injilnya tidak suka mencela orang-orang kaya seperti Lukas. Mat tampaknya tidak alergi terhadap uang dan kekayaan. Sebanyak 28 kali dalam Injilnya ia berbicara tentang “emas,” “perak,” “telenta,” dan dalam hal ini ia sangat berbeda dengan Mark yang membicarakan uang sekali saja, dan dengan Lukas yang membicarakannya empat kali saja! Boleh jadi bahwa Mat bersikap hati-hati terhadap masalah kekayaan, sebab dalam jemaahnya ada cukup banyak orang kaya.