249. Sesudah Yesus wafat (Mat 27:51-56)

Kepala pasukan – 27:54
Bukan untuk pertama kalinya dalam Kisah Sengsara Yesus Matius menyebut serdadu-serdadu Romawi. Menurut ayat-ayat sebelumnya, mereka membawa Yesus ke gedung pengadilan, menanggalkan pakaian-Nya, mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menaruh sebuah mahkota duri atas kepada-Nya, berlutut di hadapan-Nya sambil mengolok-olok. Mereka meludahi Yesus, memukulkan kepada-Nya dengan sebatang buluh, dan setelah puas “bermain,” mereka membawa Yesus ke Golgota. Sebelum menyalibkan-Nya, para serdadu itu membagi-bagikan pakaian-Nya, lalu duduk sambil menjaga-Nya. Dalam seluruh cerita terdahulu itu satu kali pun tidak disebut kepala pasukan. Tetapi, bahwa ia ada di Golgota sebagai pimpinan dan penanggung jawab eksekusi, tidak usah diragu-ragukan. Dalam Injil Markus tercatat bahwa kepala pasukan itu berdiri berhadap-hadapan dengan Yesus (Mrk  15:39).

Menjadi sangat takut – 27:54
Setelah Yesus wafat, terjadilah berbagai peristiwa-tanda (Mat 27:51-53). Dalam kisah ini, peristiwa yang paling menonjol, yaitu gempa bumi, disebut dengan jelas, sedangkan yang lain-lain disinggung secara umum saja. Ungkapan umum, apa yang telah terjadi, mengacu kepada peristiwa-peristiwa yang menyusul gempa bumi. Matius mencatat bahwa melihat semuanya itu, para prajurit sangat takut. Ini bukan “takut” biasa, melainkan takut para serdadu yang pada umumnya dilatih justru untuk tidak takut!

Sungguh, Orang ini Anak Allah – 27:54
Menurut kisah ini, Yesus diakui sebagai Anak Allah baik oleh kepala pasukan maupun oleh para serdadu. Menurut Injil Markus, pengakuan serupa keluar dari mulut kepala pasukan saja (Mrk 15:39). Dalam bagian pertama Injil Matius, dua kali Yesus sudah diakui sebagai Anak Allah. “Sesungguhnya Engkau Anak Allah” – begitulah kata murid-murid setelah mereka melihat Yesus berjalan di atas air (Mat 14:33). :Engkau adalah Mmemsias, Anak Allah yang hidup” – kata Petrus di Kaisarea Filipi (Mat 16:16). Tetapi, kedua pengakuan itu disuarakan oleh murid-murid Yesus sendiri. Kini hal yang sama dilakukan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal Yesus. Namun, berkat pengakuan itu, dalam arti tertentu mereka “merangkul Yesus.” Pengakuan itu dibuka dengan sebuah kata penuh penegasa, yaitu sungguh. Ya, dulu Mahkamah Agama Yahudi menolak keputraan ilahi Yesus. Kini, keputraan ilahi itu diakui oleh orang-orang yang dicap “kafir”!

Masuk akalkah pengakuan ini?
Sepanjang masa selalu ada orang yang meragu-ragukan “laporan” para penulis Injil sehubungan dengan pengakuan tadi. Mereka berkata, “Tidak masuk di akal bahwa serdadu-serdadu Romawi mampu mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Boleh jadi bahwa mereka akhirnya menyadari kebaikan Yesus, bahkan kesucian-Nya. Melihat sikap Yesus dalam derita-Nya, boleh jadi mereka mengagumi Yesus sebagai seorang pahlawan. Namun, mengakui Yesus sebagai Anak Allah? No!” Pertama, perlu diketahui bahwa serdadu-serdadu dalam tentara  Romawi sering kali bukan orang-orang Roma, bahkan bukan warga negara Roma! Maka, mereka belum tentu sekafir dipikirkan banyak orang! Kedua, sebelumnya Yesus sudah diakui sebagai manusia tak bersalah oleh dua orang “kafir,” yaitu oleh istri Pilatus, bahkan oleh Pilatus sendiri. Setiap manusia memiliki kemampuan alami untuk melihat dan mengakui kebenaran. Ketiga, kepala pasukan dan para serdadunya menyangsikan sengsara dan wafat Yesus dengan pandangan jauh lebih obyektif daripada semua saksi lain di tempat itu. Mereka tidak punya alasan apa-apa untuk membenci Yesus. Maka, hati nurani mereka lebih mudah menerima rahmat Allah daripada orang-orang Yahudi yang menutup pintu hatinya terhadap kebenaran. Keempat, pengakuan kepala pasukan dan para serdadunya berperan dalam Injil Matius bukan sebagai laporan belaka, melainkan terutama sebagai tanda tentang iman akan Yesus yang sebentar lagi akan mekar dalam hati banyak orang asing. Pengakuan yang cukup mengejutkan ini selaras dengan apa yang sudah dinubuatkan dalam Mazmur 22 yang melatarbelakangi Kisah Sengsara Yesus. Bunyinya begini, “Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada Tuhan, dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya” (Mzm 22:28). Kelimat, dari sejarah awal kekristenan diketahui secara pasti bahwa tidak lama sesudah Yesus bangkit, sejumlah orang “kafir” menerima Yesus. Contohnya ialah Kornelius (Kis 10) dan kepala penjara yang menjaga Petrus (Kis 16:25-34). Boleh diingat pula penyamun yang mengakui Yesus tidak lama sebelum wafat-Nya.
Pengakuan kepala pasukan bersama serdadu-serdadunya cocok sekali dengan keyakinan penulis Injil Matius. Pada awal hidup-Nya, kekudusan Yesus diakui oleh para majus yang datang khusus untuk menyembah-Nya. Setelah menghembuskan napas terakhr, kekudusan Yesus diakui oleh beberapa orang asing yang menjaga-Nya di Golgota. Lewat pengakuan yang berani ini, tanpa menyadarinya, serdadu-serdadu asing menyatakan betapa tidak adilnya keputusan Mahkamah Agama Yahudi terhadap Yesus.