Minggu, 20 Maret 2022

C-113 – Kel 3:1-8a.13-15 – “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka” (ay 7)

AKU AKAN ADA

  1. Setelah melarikan diri dari negeri Mesir, Musa tiba di sebuah negeri yang asing baginya. Di situ ia memperisteri seorang wanita. Tetapi ia belum sempat mempelajari maupun memahami secukupnya kebiasaan-kebiasaan agama suku Badui yang telah menampungnya.
  2. Pada suatu hari, secara kebetulan saja, Musa memasuki salah satu tempat suci, milik suku Badui itu. Di situ ia melihat sebuah pohon suci yang tiba-tiba disambar petir (ay 2-3). Peristiwa yang aneh ini menjadi bagi Musa titik awal dari suatu pengalaman keagamaan, yang menentukan jalan hidupnya untuk seterusnya. Musa mulai menyadari, bahwa Allah para leluhur bangsa Midian sama dengan Allah leluhurnya sendiri, yaitu dengan Allah pemberi janji (ay 6). Maka dalam hatinya tumbuhlah keyakinan, bahwa Yahwe tidak akan menolak bantuan bagi umat-Nya yang tertindas dan diperbudak oleh bangsa Mesir (ay 7-8).
  3. Sebagai bakal utusan Allah, Musa tahu juga, bahwa ia tidak akan diterima oleh saudara-saudaranya di Mesir, selama ia tidak mengenal nama Dia yang mengutusnya (ay 13). Maka Yahwe berkata kepadanya: “Aku ada yang Aku ada” (ay 14) atau lebih tepat: “Aku akan ada yang Aku akan ada.” Ungkapan ini dapat diterjemahkan begini: “Kamu akan mengenal Aku dalam tindakan-tindakan yang akan Kuambil demi kamu.” Dengan demikian Allah mempertahankan rahasia-Nya dan sekaligus menyatakan keterlibatan-Nya dalam sejarah bangsa Israel maupun dalam tugas yag diserahkan-Nya kepada Musa.
  4. Manusia zaman sekarang sama sekali tidak lebih maju dalam cara penyebutan Allah daripada Musa. Akan tetapi sejak kedatangan Kristus kita sudah mengetahui bahwa Allah hanya dapat dijumpai dalam kemanusiaan-Nya.

Luk 13:1-9 – “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (ay 5)