246. Yesus disalibkan (Mat 27:35-50)

Ia memanggil Elia – 27:47
Yesus berseru kepada Allah, “Allah-Ku …”, dan seruan ini dicatat dalam Injil Matius dan Markus saja, tetapi dalam Injil Matius, bunyinya: Eli, Eli, sedangkan dalam Injil Markus: Eloi, Eloi (Mrk 15:34). Seruan Yesus ini langsung dikaitkan oleh beberapa orang yang hadir dekat salib-Nya dengan Nabi Elia. Timbul pertanyaan: (1) Mengapa seruan Yesus disalahartikan sebagai pemanggilan Elia; (2) Apa hubungan salah paham itu dengan pemberian anggur asam kepada Yesus? Menurut ahli bahasa Semit, kata Eli memang mudah ditangkap sebagai sapaan yang ditujukan kepada Elia (lain halnya dengan Eloi!). Nabi Elia dipandang sebagai tokoh akhir zaman, sebagai pembuat mukjizat dalam keadaan gawat, sebagai pendahulu kedatangan Allah (Mat 4:5). Menurut Mat, orang-orang di sekitar salib Yesus tidak menangkap makna kegelapan. Mereka tidak (mau) menangkap pula seruan Yesus. Maka, mereka menjadikannya bahan olokan tambahan. Dengan cara ini Mat menegaskan permusuhan mereka terhadap Yesus.

Anggur asam – 27:48-49
Pemberian anggur asam kepada Yesus oleh seorang yang ada dekat salib Yesus menggemakan Mzm 69:22. Ini barangkali bukan suatu tanda permusuhan terhadap Yesus. Orang itu kiranya yakin bahwa Yesus memanggil Elia. Tetapi, ia langsung dicegah oleh orang-orang lain, sambil mengemukakan alasan, “Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.” Teman-teman orang itu khawatir bahwa karena minum anggur asam itu Yesus akan mati lebih cepat. Mereka justru mau menikmati sengsara Yesus lebih lama lagi sambil menunggu apakah Elia akan datang menolong Dia.

Berseru pula – 27:50
Menurut ayat terakhir kisah ini, Yesus untuk kedua kalinya berseru dengan suara nyaring. Kalau diterima bahwa Yesus di salib merasa benar-benar ditinggalkan oleh Allah, maka seruan ini boleh diartikan sebagai lanjutan seruan pertama. Mula-mula Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku.” Selanjutnya tanpa bicara lagi, tetapi dengan suara nyaring, Ia mengungkapkan isi bagian kedua ayat mazmur ini, yaitu “Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku” (Mzm 22:2).

Menyerahkan nyawa-Nya – 27:50
Yesus menyerahkan nyawa-Nya, tulis Mat. Menurut arti aslinya, Yesus “melepaskan hidup dan energinya” dengan penuh penyerahan. Ia tidak mau mempertahankannya lagi. Ia terlalu tersiksa.

Bagaimana sejarahnya?
“Laporan” Injil mengenai kata-kata terakhir Yesus di salib ternyata tidak sama. Tulisan Mat dan Mrk agak serupa. Menurut Luk, setelah berseru dengan suara nyaring, Yesus berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Menurut Yoh, pada saat-saat terakhir Yesus berkata, “Aku harus,” lalu “Sudah selesai.” Berdasarkan penyelidikan saksama para ahli, yang paling “historis” ialah seruan Yesus, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Antara lain, karena seruan ini tampaknya bernada pesimistik sekali dan umat Kristen masa awal tidak akan mencatatnya begitu saja, seandainya tidak historis. Namun, karena Yesus jarang sekali mengungkapkan peraaan hati-Nya, ada kemungkinan pula bahwa Yesus tiak mengucapkan apa-apa di salib! Mengapa? Antara lain, karena Luk dan Yoh menyajikan ucapan lain sama sekali. Seruan, “Allah-Ku …, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” bisa saja diartikan sebagai ungkapan Gereja masa paling awal yang sungguh bingung sehubungan kematian Yesus. “Apa yang mau dicapai Allah melalui kematian Yesus itu? – begitulah kiranya pertanyaan para pengikut Yesus masa awal itu. Dan seandainya dugaan ini benar, maka ada tiga kemungkinan, yaitu: (1) Yesus bungkam; (2) Yesus berseru dengan suara nyaring tanpa berkata apa-apa; (3) Yesus mengucapkan satu kata singkat saja.
Menurut Injil Markus dan Matius, Yesus tidak berkata apa-apa di salib sampai pkl 3. Sama seperti Hamba dari kitab Yesaya (53:7), Ia “tidak membuka mulutnya.” Kemungkinan kedua lebih meyakinkan. Sebab dalam semua Injil dilaporkan bahwa Yesus berseru dengan suara nyaring (Ibr 5:7). Yang paling meyakinkan ialah kemungkinan ketiga. Kata apa yang diucapkan Yesus? Eli, artinya, “Allah-Ku”!

Sebab kematian Yesus
Para ahli ilmu kedokteran telah berusaha menentukan sebab-sebab fisiologis kematian Yesus. Tetapi, pada umumnya mereka kurang pandai membaca Injil. Mereka membacanya sebagai “laporan faktual” semata-mata. Karena “laporan” Injil sungguhh miskin akan data, maka mereka berspekulasi macam-macam. Dulu ada seorang ahli ternama yang yakin bahwa Yesus meninggal mendadak karena serangan jantung. Sesudahnya muncul terori bahwa Yesus mati karena tercekik, tidak mampu bernapas lagi. Ada juga teori-teori lain, tetapi satu per satu ditolak seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran. Hingga kini tidak ada jawaban yang pasti. Yang berangkali paling masuk di akal ialah teori bahwa Yesus wafat karena “shock” yang disebabkan oleh dehidrasi dan kehilangan darah.