245. Yesus disalibkan (Mat 27:35-50)

Penyamun-penyamun … mencela-Nya juga –  27:44
Pada akhir kisah ini, sama seperti Mrk, Mat menyebut para penyamun yang disalibkan bersama dengan Yesus. Ternyata mereka pun mencela Yesus, padahal mereka senasib dengan-Nya. Kenyataan ini sangat tragis. Menurut Mat, kedua penyamun mencela Yesus dengan cara yang sama seperti orang-orang lain. Yesus di salib tidak punya seorang sahabat pun. Ia memang seorang benar yang dari segala sudut dikelilingi oleh musuh saja. Sungguh tepat kata-kata pemazmur, “Aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak” (Mzm 22:7).

Kegelapan meliputi seluruh daerah itu – 27:45
Pembaca kisah ini tentu bertanya-tanya: Apakah kegelapan menjelang wafat Yesus sungguh kejadian alami atau mukjizat ataupun suatu kiasan (berlatar belakang bahasa PL ataupun keyakinan Yunani bahwa kematian seorang tokoh sering diiringi peristiwa-peristiwa ajaib?). Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara pasti! Namun, dapat dipastikan bahwa aya-ayat sebelumnya (27:39-44) maupun ayat-ayat narasi ini berlatar belakang PL. Pada waktu menciptakan alam semesta, Allah menghadapi gulita (Kej 1:2-3).  Salah satu tulah yang menimpa Mesir menjelang Keluaran ialah kegelapan tiga hari (Kej 10:21-23). Kegelapan Paskah pertama ini cocok sekali dengan kegelapan Paskah Yesus. Kegelapan melambangkan murka Allah. Yesus diejek-ejek oleh orang-orang sekitar-Nya, tetapi lewat kegelapan, Allah memberi kepada para pengejek itu suatu tanda peringatan akan hukuman yang akan datang. Lebih-lebih bila diingat bahwa sebelumnya seluruh rakyat Yahudi menyatakan kesediaannya menanggung risiko atas kematian Yesus (27:25).

Berserulah Yesus dengan suara nyaring – 27:46
Selanjutnya, menurut Injil Matius, pada pkl 3 petang, sesudah tiga jam kegelapan, Yesus bicara untuk pertama dan terakhir kalinya. Matius mencatat bahwa Yesus berseru dengan suara nyaring, dan hal yang sama dicatatnya kemudian, dalam ayat 50. Ini seruan orang yang minta pertolongan.

Eli, Eli, lama sabakhtani – 27:46
Yesus berseru sambil mengutip ayat kedua Mzm 22, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Yesus berdoa, kali ini dengan suara keras, sebab Ia mengharapkan intervensi Allah. Doa dengan suara nyaring tidak asing dalam Kitab Suci (Luk 17:15; 19:37-38; 1Raj 8:55; Yeh 11:13; dll). Namun, dalam kisah ini, seruan nyaring Yesus berperan serupa dengan tanda-tanda lain yang mengiringi kematian Yesus (kegelapan, terkoyaknya tirai Bait Suci, gempa bumi …). Dengan berseru, Mengapa?, Yesus benar-benar menyatakan apa yang sedang dialami-Nya. Ia ditinggalkan oleh semua murid-Nya. Ia dihina habis-habisan. Ia menyaksikan kegelapan mencekam. Tetapi, Ia tidak melihat reaski apa pun dari pihak Allah. Ia sungguh diliputi oleh kuasa kegelapan. Dalam keadaan ditinggalkan, Ia tidak meragu-ragukan eksistensi Allah ataupun kuasa-Nya. Ia hanya bertanya, mengapa Dia yang dipanggil-Nya Allah-Ku bungkam total. Yang sangat aneh dalam kisah ini ialah cara Yesus menyapa Allah; Ia menyebut-Nya Allah, padahal biasanya Ia menyapa-Nya sebagai “Bapa.” Juga di Getsemani (Mat 26:39)! Pada saat terakhir hidup-Nya, Yesus bicara kepada Allah sebagaimana Ia diajarkan oleh ibu-Nya dulu dan sebagaimana Allah diserukan oleh bangsa Yahudi. Sebagai manusia sejati, lewat derita di salib Yesus sungguh belajar menjadi taat. Hal ini dengan tepat diungkapkan oleh penulis Surat kepada Orang Ibrani, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa … dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut … Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr 5:7-8).

Mengapa Engkau meninggalkan Aku? – 27:46
Apakah Yesus putus asa di salib? Tidak mungkin! Putus asa adalah salah satu dosa berat, padahal PB dengan tegas menyatakan bahwa Yesus tidak pernah melakukan dosa (2Kor 5:21; Ibr 4:15; 1Ptr 2:22; Yoh 8:46; 1Yoh 3:35). Yesus justru berdoa, maka Ia tidak putus asa. Dengan berseru, “Allahku,” Ia justru mengandalkan Allah. Tetapi, Ia memang mencapai titik terendah sengsara, sehingga Ia mengharapkan Allah bertindak dan mencabut Dia dari rasa “ditinggalkan.” Sejumlah komentator berusaha “mempermanis” seruan Yesus ini dengan berkata bahwa Yesus mengutip kata-kata awal Mazmur saja, tetapi sesungguhnya Ia memikirkan seluruh isinya, termasuk doa penuh sukacita yang muncul dalam ayat 25, “Allah mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.” Namun, Mat biasanya mengutip nas-nas PL secara tepat. Seandainya ia berpikiran seperti para komentator itu, ia pasti akan mengutip ayat 25 itu juga. Yesus memang “ditinggalkan” oleh Allah, sebab Yesus sendiri rela menjadi seorang hamba sejati. Tetapi, begitu Yesus wafat, Allah langsung mulai bertindak secara mengagumkan: Ia membangkitkan-Nya!