244. Yesus disalibkan (Mat 27:35-50)

Engkau yang mau meruntuhkan … membangun kembali – 27:40
Ayat ini berisi kalimat yang diucapkan Yesus di hadapan Mahkamah Agama sebagai salah satu tuduhan terhadap diri-Nya. Tetapi, kalimat itu tersaji di sini dalam “edisi” tertentu, sebab ditambah dengan kata-kata, “selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Pembaca Injil tidak boleh lupa bahwa Mat menulis kitabnya cukup lama sesudah Yesus bangkit. Pada waktu itu soal “Bait Suci” tidak dipikirkan lagi, sebab bangunan itu sudah dirubuhkan oeh tentara Romawi. Tetapi, soal “Yesus itu Anak Allah” menjadi pokok pembahasan hangat di kalangan Gereja sendiri. Dengan menyinggungnya di sini, Mat hendak menegaskan bahwa keputraan ilahi Yesus sejak dahulu disalahartikan! Pada awal kegiatan Yesus, Setan sudah menawarkan kuasa atas dunia kepada Yesus, kalau Ia memang Putra Allah (Mat 4:8-9). Yesus menegur Petrus sebagai Setan sebab ia berpendapat bahwa Putra Allah tidak boleh mendeita (Mat 16:22-23). Padahal, Putra Allah sejati bukan penguasan dunia dan bukan pribadi yang tidak boleh atau tidak mau menderita! Putra Allah sejati adalah Putra Manusia sejati pula, sehingga Ia sepenuh-penuhnya manusia (yang memang menderita) dan sepenuh-penuhnya Allah (yang memang mulia, tetapi tidak menurut paham dunia).

Imam-imam kepala … mengolok-olok Dia – 27:41
Kelompok ini disebut dalam Injil Markus pula. Tetapi, Mat menambahnya dengan para tua-tua. Dengan demikian Mat menampilkan semua kelompok yang mewakili umat Yahudi dalam Mahkamah Agama. Sebagai penguasa agama, kelompok ini mengolok-olokkan Yesus secara keagamaan. Menurut Injil Markus, mereka mengolok Yesus sebagai Mesias, Raja Israel (15:32). Menurut Injil Lukas – sebagai Mesias, orang yang dipilih Allah dan Raja orang Yahudi (23:35-37). Menurut Injil Matius – sebagai Raja Israel, Anak Allah.

Ia telah berkata: Aku Anak Allah – 27:43
Seperti dikatakan tadi, rakyat menghujat Yesus, sambil berkata, “Jikalau Engkau anak Allah, turunlah dari salib itu !” (ay 40). Ternyata para anggota Mahkamah Agama pun menyebut Yesus sebagai Anak allah. Mengapa Mat kembali lagi kepada gelar “Anak Allah” ini? Jawabannya sama dengan di atas: Sebab gelar itulah menjadi salah satu pokok perhatian umat Kristen pada masa itu. Menurut dia, Yesus adalah Raja Israel, karena Dia memang Anak Allah.

Diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan – 27:42
Baik rakyat maupun para pemimpin Yahudi menantang Yesus, “Selamatkanlah diri-Mu!” (ay 40), “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” (ay 42). Yesus harus turun dari salib (ay 40 dan 42) ataupun diselamatkan oleh Allah (ay 42). Mengapa mereka menantang demikian? Sebab mereka dipengaruhi oleh isi Mazmur yang berkata, “Ia menyerah kepada Tuhan; biarlah Dia meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepada-Nya?” (Mzm 22:9). Mereka berani mengiyakan isi Mazmur itu, sebab “Ia telah berkata: ‘Aku adalah Anak Allah’”. Pada waktu menulis kisah ini, Matius mungkin juga ingat apa yang dikatakan dalam kitab Kebijaksanaan tentang seorang benar yang menderita berat karena ejekan orang fasik. Orang jahat itu menantang begini, “Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya” (Keb 2:17-18). Jadi, Yesus ditantang berdasarkan na-nas PL sendiri. Namun, para penantang itu tidak mengenal ajaran Yesus yang dengan tegas mengatakan, “Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya!” (Mat 16:25). Tantangan untuk turun dari salib justru berlawanan total dengan penegasan Yesus yang menuntut, supaya “setiap orang yang mau mengikuti-Nya harus menyangkal dirinya, memikul salib, dan mengikuti Dia” (Mat 16:24). Seandainya Yesus turun dari salib, maka Ia akan melakukan hal yang persis terbalik dengan tuntutan-Nya. Dan Ia tidak mungkin diakui oleh para pengikut-Nya sebagai Anak Allah. Setan sebanyak tiga kali menantang Yesus juga, “Jika Engkau Anak Allah …” (Mat 4:1-11). Kalau manusia berpikir bahwa keputraan Allah searti dengan “bebas dari penderitaan,” maka ia sama sekali tidak mengerti Allah.