242. Yesus disalibkan (Mat 27:35-50)

Menyalibkan Dia – 27:35
Kalimat tentang penyaliban Yesus amat singkat dalam semua Injil. Tidak ada sepatah kata pun tentang bentuk salib, bagaimana Yesus persisnya disalibkan, dan seberapa Ia menderita. Di masa sekarang, salib dapat dijumpai hampir di semua rumah Katolik dan bentuknya selalu sama. Namun, kata Yunani stauros atau kata Latin crux tidak dengan sendirinya mengacu kepada bentuk yang dikenal itu. Sesungguhnya salib dapat berbentuk sepotong balok saja dan para hukuman dapat ditancapkan padanya dengan macam-macam cara, yaitu disulakan (ditikam sampai tembus), digantung, dipaku, diikat dengan tali. Cara pertama dipakai untuk langsung membunuh, sedangkan cara-cara lain dimaksudkan untuk memperhebat penderitaan. Dalam abad IV sM orang-orang Roma mengeksekusikan dua ribu orang Yahudi di salib. Cicero, orator Romawi terkenal, mengatakan bahwa penyaliban adalah hukuman yang paling keji dan menjijikkan. Dari seluruh Kisah Sengsara Yesus dapat disimpulkan bahwa Yesus diharuskan memikul balok horisontal ke bukit Golgota, lalu balok itu disatukan dengan yang sudah tertancap di bukit itu secara vertikal. Bentuknya tidak pasti, mungkin berupa huruf T atau serupa dengan yang biasa digantung di rumah-rumah. Tidak diketahui pula jarak antara badan orang yang disalibkan dengan tanah. Tidak jarang badan itu sangat dekat dengan tanah, sehingga binatang-binatang buas dapat memporakporandakan kaki orang yang digantung di salib. Diperkirakan bahwa Yesus digantung agak tinggi, sekitar 2 m, sebab orang yang kemudian menghidangkan anggur asam kepada-Nya harus menggunakan sebatang buluh untuk sampai ke mulut Yesus. Para kriminalis dipaku ataupun diikat dengan tali pada balok yang mereka bawa, dan baru kemudian ditempatkan pada balok vertikalnya. Dalam Injil tidak ada catatan apa pun apakah Yesus dipaku. Namun, dalam Luk 24:39, Yesus yang sudah bangkit berkata, :Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku.” Yohanes dalam Injilnya bicara tentang “bekas paku” (Yoh 20:25), sehingga umat Kristen yakin bahwa Yesus memang dipaku, walaupun Ia kiranya tidak dipaku seperti umumnya digambarkan. Yang dipaku bukan telapak tangan-Nya melainkan pergelangan tangan-Nya. Masing-masing kaki Yesus kiranya dipaku sendiri-sendiri pada kedua sisi balok vertikal salib. Supaya si hukuman tidak dapat lolos, maka bagian luar kakinya diamankan dengan sepotong kayu zaitun; kayu itulah dipaku pada kakinya. Apakah tubuh Yesus di salib ditopang oleh suatu injakan kaki sebagaimana sering digambarkan oleh para peluikis dan pemahat? Hal ini tidak dapat dipastikan. Kalau diingat bahwa Yesus meninggal dalam waktu singkat, maka tubuh-Nya kiranya tergantung di salib tanpa topangan apa-apa.

Membagi-bagikan pakaiannya – 27:35
Dalam semua Injil dikatakan bahwa pakaian Yesus dibagi-bagi oleh para serdadu. Biasanya si hukuman harus berjalan ke tempat eksekusinya dalam keadaan bugil. Namun, demi Yesus atau demi para penduduk Yerusalem yang karena alasan keagamaan jijik memandang orang tak berpakaian, penguasa Romawi kiranya membuat kekecualian. Hal yang sama kiranya dapat dikatakan mengenai Yesus di salib: Ia kiranya tidak seluruhnya telanjang, walaupun seharusnya demikian. Dalam Mzm 22:19 dapat dibaca sebuah nas yang isinya hampir sama dengan peristiwa di Golgota, “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.” Pakaian Yesus diambil oleh empat serdadu. Salah seorang dari mereka bertugas sebagai komandan. Soal pakaian ini secara lebih rinci diperhatikan oleh Yoh dalam Injilnya (19:23-24).