240. Yesus dibawa untuk disalibkan (Mat 27:31b-32)

Seorang dari Kirene – 27:32
Selanjutnya Matius menulis begini, “Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.” Menurut para Sinoptisi, Simon dari Kirene mengambil bagian aktif dalam perjalanan Yesus menuju tempat eksekusi. Tetapi, Simon itu sama sekali tidak disebut dalam Injil Yohanes, sehingga ada sejumlah ahli yang berpendapat bahwa figur Simon itu diciptakan penulis demi mendramatisasikan Kisah Sengsara Yesus. Namun, kebanyakan ahli sangat yakin bahwa Simon adalah saksi mata yang amat penting dalam penyaliban Yesus dan bahwa tidak ada alasan apa pun untuk meragu-ragukan eksistensinya. Dalam Injil Markus malah disebut nama dua anak Simon itu. Memang harus diakui bahwa Simon muncul dalam Kisah Sengsara Yesus secara tidak terduga-duga. Ia dipaksa memikul salib Yesus dan hal itu terjadi secara sangat kebetulan. Cara ia dipaksa digambarkan dalam Injil Lukas. Dikatakan salib “diletakkan di atas bahu” Simon, “supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus” (Luk 23:26). Namun, yang paling mengherankan dalam berita tentang Simon, “supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus” (Luk 23:26). Namun, yang paling mengherankan dalam berita tentang Simon ini ialah kenyataan bahwa para serdadu Romawi mengizinkan Yesus dibantu memikul salib, padahal bukan demikianlah kebiasaan mereka. Apakah mereka melakukannya karena iba pada Yesus? Mereka tidak iba. Dalam Injil Matius dan Markus dengan amat jelas diceritakan bahwa sebelumnya para serdadu memperlakukan Yesus secara kejam. Kalau mereka memaksa Simon untuk memikul salib Yesus, maka hal itu dilakukan karena mereka khawatir bahwa Yesus akan kehabisan tenaga dan mati sebelum Ia sampai ke tempat eksekusi. Dugaan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Yesus wafat tidak lama setelah dipaku pada salib, dan hal ini menimbulkan rasa heran dalam hati Pilatus (Mrk 15:44). Dalam kisah ini Simon dikaitkan dengan Kirena, ibukota wilayah Kirenaika yang kini terletak di Libia dan yang pada waktu itu dikuasai Mesir. Menurut Yosefus, penulis Yahudi dari Aleksandria, Firaun Ptolomeus I Soter dalam abad IV SM menempatkan sejumlah keluarga Yahudi di kota-kota Libia untuk memperkuat wilayah pinggiran Mesir itu. Orang-orang Yahudi yang tinggal di Kirena memiliki sebuah sinagoga tersendiri di kota Yerusalem (Kis 6:9). Para pewarta Kristen asal Kirena disebut dalam Kis 11:20, sedangkan Lukius dari Kirene disebut bersama Simon Niger dalam Kis 13:1 sebagai pemimpin Kristen di Antiokhia. Jadi, tidak aneh bahwa pada waktu Yesus memikul salib-Nya, Ia dibantu oleh seorang Yahudi bernama Simon yang berasal dari Kirene. Tidak mengherankan pula tradisi selanjutnya bahwa di kemudian hari Simon itu menjadi Kristen. Dalam Injil Markus dan Lukas dikatakan bahwa Simon itu datang dari “luar kota.” Ini tidak berarti bahwa pada hari itu ia bekerja di ladang. Mungkin saja ia meninjau ladangnya atau berjalan-jalan di luar Yerusalem. Simon adalah nama Yunani, sehingga asal Yahudinya tidak dapat dipastikan. Anak-anaknya bernama Aleksander (nama Yunani) dan Rufus (nama Romawi yang biasa di kalangan para budak).

Injil Yohanes dan Simon
Sebagaimana dikatakan di atas, dalam Injil Yohanes nama Simon tidak muncul sama sekali. Mengapa? Mereka yang membaca Kitab Suci secara saksama tentu mengetahui bahwa setiap penulis Injil menggambarkan Yesus secara khas sambil memperkenalkan “kristologi”nya (kristologi: pandangan tentang Yesus Kristus). Penulis Injil Yohanes tidak menyebut Simon dari Kirena, sebab Simon itu “kurang cocok” dengan teologinya. Penulis Injil Yohanes berulang kali menegaskan wibawa Yesus. Menurut dia, Yesus “mengontrol” dan menguasai “jalan hidup-Nya” saat demi saat, sampai Ia mati. Kekuasaan dan wibawa-Nya ditampilkan-Nya di Taman Getsemani, ketika para penangkap-Nya rebah dan tidak sanggup maju (Yoh 18:6). Pada waktu diadili, Yesus berani menantang Imam Besar sambil berkata, “Mengapa engkau menanyai Aku?” (Yoh 18:21). Yesus malah menantang Pilatus dengan berkata, “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku” (Yoh 19:11). Maka di jalan salib pun Yesus tidak perlu dibantu oleh siapa pun juga.

Memikul salib – 27:32
Salib (Y: stauros) yang disebut dalam teks ini ternyata dipikul oleh Yesus, lalu oleh Simon. Kata salib dalam Injil mengacu kepada balok kayu horisontal saja (L: patibulum), sebab balok vertikalnya (L: stipes atau staticulum) sudah siap tertancap di tempat eksukusi. Balok horisontal yang dipikul itu tidak jauh berbeda dengan balok yang dipakai untuk memblokir pintu besar. Seringkali balok itu dipikul di belakang tengkuk leher sehingga mnyerupai kuk tanpa pemikulnya dikebelakangkan dan disangkutkan pada balok itu. Inilah sebabnya para seniman Kristen masal awal menggambarkan Yesus memikul balok horisontal itu saja. Berbad-abad lamanya para pelukis suka menggambarkan Yesus sebagai orang yang memikul bagian atas salib, sedangkan Simon membantu-Nya dari belakang. Namun, dalam kenyataannya Simon memikul seluruh balok salib itu, sehingga – menurut Inji Lukas – Ia dengan bebas menyapa para wanita yang menangisi-Nya.