239. Yesus dibawa untuk disalibkan (Mat 27:31b-32)

Ayat-ayat peralihan (31b-32)
Setelah diperolok-olok, diludahi dan dipukul, Yesus dibawa ke tempat eksekusi, sesuai dengan perintah Pilatus (Mat 27:26). Jadi, Yesus dibawa ke luar markas tentara Romawi, ke luar kota Yerusalem, tempat Ia diadili dan dijatuhi hukuman mati. Informasi ini tercantum dalam semua Injil. Selanjutnya Yesus harus menjalani jalan salib. Inilah isi kedua ayat peralihan ini. Lukas melengkapinya dengan nubuat Yesus kepada wanita-wanita Yerusalem yang menangisi-Nya. Dalam ulasan ini, mubuat tersebut tidak dibahas.

Mereka membawa Dia ke luar – 27:31
Dalam teks ini dikatakan bahwa Yesus dibawa ke luar oleh mereka, yaitu oleh para serdadu yang belum lama sebelumnya membawa-Nya ke dalam gedung pengadilan (Mat 27:27), tempat Ia dihina dan disiksa. Dalam Injil Matius dan Markus memang dicatat bahwa Yesus dibawa ke luar, namun lokasi eksekusi Yesus tidak disebut secara rinci. Biarpun demikian dari data yag tersaji dalam Injil Matius, Markus dan Lukas, mudah disimpulkan bahwa Yesus disalibkan di luar tembok-tembok kota Yerusalem. Lokasinya berdekatan dengan jalan atau dengan suatu jalan setapak, sebab orang-orang yag mondar-mandir di jalan itu dapat berbicara kepada Yesus dan didengar oleh-Nya (bacalah mis Mat 27:39). Tampaknya jalan ini biasanya ditempuh para penduduk kampung –kampung berdekatan yang hendak memasuki kota Yerusalem. Jalan inilah ditempuh pula oleh Simon dari Kirene yang menurut Injil Lukas “datang dari luar kota” (Luk 23:26). Dalam Injil Yohanes ditegaskan bahwa “tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota” (Yoh 19:17). Selanjutnya dijelaskan bahwa di “dekat tempat Yesus disalibkan ada suatu taman.” Semua data ini ternyata cocok dengan apa yang diketahui para ahli sejarah sehubungan dengan kebiasaan bangsa Yahudi dan Roma. Dalam kitab Imamat ditegaskan bahwa seorang penghujat harus dibawa ke luar perkemahan dan seluruh jemaah harus melontarinya dengan batu (24:14). Setelah bangsa Yahudi berhasil menduduki Tanah Terjanji, perintah itu disesuaikan dengan keadaan baru: Para hukuman dieksekusi di luar tembok kota. Kebiasaan mengeksekusi hukuman di luar kota diikuti pula oleh bangsa Roma. Hal ini diketahui dari berbagai dokumen kuno. Baiklah diingat bahwa Stefanus, martir Kristen pertama (Kis 7:58) juga diseret ke luar kota lalu dilempari batu. Quintilian,seorang pejabat Roma, melaporkan bahwa para kriminalis biasanya disalibkan di dekat jalan yang ramai dilalui orang, supaya dilihat dan menimbulkan rasa takut pada masyarakat. Tidak lama sesudah Yesus wafat, Herodes Agripa I membangun “tembok ketiga” di Yerusalem. Dengan adanya tembok itu kota Yerusalem diperluas, khususnya di bagian utaranya. Pada pertengahan pertama abad II penguasa Roma membangun Aeia Capitolina sebagai pengganti kota Yeruslem yang dihancurkan sebelumnya. Sejak itu lokasi penyaliban Yesus berada di tengah kota Yerusalem.