238. Yesus dipermainkan oleh pasukan Romawi (Mat 27:27-31a)

Serdadu-serdadu gubernur – 27:27
Setelah dijatuhi hukuman mati, Yesus langsung diserahkan ke dalam tangan para serdadu. Mat dengan sangat jelas menegaskan bahwa para serdadu itu – yang dalam Kisah Sengsara Yesus disebut di sini untuk pertama kalinya – adalah anggota-anggota pasukan wali negeri Romawi.
Membawa Yesus ke istana gubernur – 27:27
Diduga bahwa para serdadu membawa Yesus ke halaman praetorium, yaitu gedung pengadilan, sebab tempat itu cukup luas untuk menampung sebuah pasukan.

Seluruh pasukan – 27:27
Pasukan yang berkumpul di halaman gedung pengadilan itu menurut Injil Matius bernama Yunani speira. Pasukan jenis ini meliputi 600 hingga 1000 serdadu. Semasa kehidupan Yesus, di Palestina ada lima pasukan dan sebuah skuadron kavaleri. Satu pasukan selalu disiagakan di kota Yerusalem, sedangkan empat pasukan lain bermarkas di Kaisarea. Para serdadunya berasal dari Italian dan dari wilayah Siro-Fenisia. Legiun-legiun Romawi biasanya bermarkas di Siria dan digunakan di Palestina dalam keadaan darurat saja.

Berkumpul sekeliling Yesus – 27:27
Para serdadu, khususnya yang berasal dari wilayah Siro-Fenisia, pada umumnya sangat membenci bangsa Yahudi dan menunjukkannya pada setiap kesempatan. Maka, dapat dipastikan bahwa pasukan yang dipanggil untuk berkumpul sekeliling Yesus, berbuat apa saja untuk menghina Yesus yang – dalam pendangan mereka – mewakili bangsa Yahudi.
Mereka menanggalkan pakaian-Nya – 27:28
Setelah seluruh pasukan berkumpul, para serdadu mulai menghina Yesus yang baru saja habis didera (ay 25). “Acara” penghinaan ini tidak pernah diperintahkan oleh Pilatus. Jadi, para serdadu bertindak secara spontan, dan karena itu semaunya juga. Buktinya: Mereka menelanjangi Yesus, dan mengganti pakaian-Nya dengan ….

Jubah ungu – 27:28
Tidak jelas, jubah macam apa yang dikenakan pada Yesus. Dari teks Mat dapat disimpulkan bahwa juga itu tidak ungu, melainkan merah tua. Jubah macam ini biasanya dipakai oleh para serdadu Romawi. Mungkin juga jubah itu bernama “paludamentum” yang dipakai oleh para pejabat tinggi Romawi, bahkan oleh kaisar sendiri. Seandainya memang demikian, maka Yesus hendak dipermainkan sebagai raja dan sekaligus dihina sebagai orang Yahudi yang berpakaian Romawi.

Sebuah mahkota duri – 27:29
Mahkota yang dianyam oleh para serdadu lalu dikenakan pada kepala Yesus merupakan masalah tersendiri. Dalam pemikiran Kristen pada umumnya, mahkota itu menjadi lambang penderitaan dan siksaan Yesus. Tetapi, dalam kitab-kitab Injil segi siksaan itu sama sekali tidak ditonjolkan. Antara lain, karena mahkota itu dikenakan pada kepala Yesus bukan pertama-tama sebagai alat siksaan melainkan sebagai lambang kuasa rajawi Yesus yang diperolokkan. Hal yang sama harus dikatakan sehubungan dengan jubah dan buluh. Selain itu sampai sekarang tidak jelas, tanaman berduri apa yang dipakai untuk menganyam mahkota itu dan bagaimana akhirnya bentuknya. Boleh jadi bahwa para serdadu memanfaatkan tanaman bernama poterium spinosam yang duri-durinya tidak terlalu besar namun tajam. Setelah ditempatkan pada kepala Yesus, “mahkota berduri” itu menyerupai semacam topi.

Sebatang buluh di tangan kanan-Nya – 27:29
Buluh yang harus dipegang oleh Yesus dalam tangan kanan-Nya juga dimaksudkan sebagai sarana untuk menghina kuasa rajawi Yesus. Sebab langsung sesudah buluh itu dipegang oleh Yesus, para serdadu mulai mengolok-olokkan-Nya.

Berlutut di hadapan-Nya – 27:29
Para serdadu berlutut di hadapan Yesus, mengolok-olokkan-Nya sambil menyalami-Nya sebagai Raja orang Yahudi. Kata mengolok-olokkan disebut oleh Mat dalam teks ini sebanyak dua kali, yaitu sekali sebelum acara berlutut, dan sekali sesudahnya. Dapat disimpulkan bahwa mula-mulanya para serdadu Romawi “main-main”. Menurut Injil Lukas, para sedadu mengolok-olokkan Yesus baru setelah Ia tergantung di kayu salib. Di zaman itu, mereka yang menghadap penguasa Helenis, wajib memberi hormat kepadanya dengan berlutut. Para serdadu romawi yang mempermainkan Yesus melakukan hal yang sama. Tetapi, tidak lama sesudahnya mereka mulai memperlakukan Yesus secara kejam.

Meludahi … memukulkan buluh – 27:30
Sebab mereka mulai meludahi Yesus dan memukulkan buluh pada kepala Yesus. Permainan berubah menjadi tindakan fisik yang penuh penghinaan dan sengsara. Dengan meludahi sesamanya, menusia menjunjukkan kebenciannya; Ia hendak mengucilkannya (Bil 12:14; Ayb 30:10). Dengan memukulkan buluh pada kepala Yesus, duri-duri yang ditancapkan padanya semakin masuk dan menyengsarakan Yesus.

Menanggalkan jubah … mengenakan pakaian-Nya – 27:31
Sehabis permainan yang keji itu, Yesus ditelanjangi lagi, lalu pakaian milik-Nya sendiri dikenakan lagi kepada-Nya. Tidak jelas – sebab hal ini tidak disebut dalam Injil – apakah mahkota Yesus ditanggalkan pula. Dalam masa awal kekristenan, Yesus di salib digambarkan tanpa mahkota itu. Berdasarkan Injil Matius dan Markus diketahui bahwa sebelum maju ke Golgota, Yesus sudah mengenakan pakaian-Nya sendiri. Biasanya orang yang dihukum mati di salib, harus maju ke tempat eksekusinya dalam keadaan telanjang, sambil disesah habis-habisan. Markus dengan jelas memberitahukan bahwa pakaian Yesus ditanggalkan secara definitif baru sebelum Ia dipaku di salib (Mrk 15:24). Mangapa Yesus dibiarkan berpakaian selama “jalan salib”-Nya? Barangkali, karena penguasa Roma menyesuaikan diri dengan adat setempat. Bangsa Yahudi memandang ketelanjangan sebagai sesuatu yang tidak boleh dipamerkan.