236. Yesus di hadapan Pilatus (Mat 27:11-26)

Seluruh rakyat menjawab – 27:25
Bagaimana reaksi khalayak atas pernyataan Pilatus? Menurut Mat, pernyataan itu langsung ditanggapi oleh seluruh rakyat, artinya oleh mereka yang hadir pada waktu itu, termasuk para imam kepala dan tua-tua yang secara gemilang berhasil menyetir rakayat. Dengan menuruti hasutan para imam, khalayak mengikutsertakan dirinya dalam keputusan Mahkamah Agama untuk membunuh Yesus.

Seluruh rakyat – 27:25
Dalam teks Yunani ayat ini muncul kata laos yang sering kali lebih tepat diterjemahkan “umat” daripada “rakyat.” Sebab kata “rakyat” mudah disamakan dengan “khalayak” atau “orang banyak,” yaitu semua orang yang bukan pimpinan Yahudi. Padahal di sini justru dimaksudkan seluruh khalayak dan pimpinan Yahudi. Perbedaan ini dengan mudah dapat dilacak dalam teks asli kisah ini. Pilatus mencuci tangan di hadapan orang banyak (Y: okhlos), tetapi selanjutnya Matius menegaskan bahwa rakyat yang menanggapi pernyataan Pilatus ialah laos. Jadi, seluruh bangsa Yahudi bertanggung jawab atas kematian Yesus. Hal ini sebelumnya sudah dinubuatkan oleh Yesus sendiri, ketika Ia berkata, bahwa bangsa Yahudi “harus menanggung penumpahan darah orang yang tidak bersalah, mulai dari Habel, orang benar itu” (Mat 23:35). Hal ini sesuai pula dengan apa yang dikatakan dalam Kitab Imamat: Seorang penghujat harus dihukum mati oleh “seluruh jemaah” (Im 24:14). Pimpinan Yahudi telah menjatuhkan hukuman mati atas Yesus karena memandang-Nya sebagai penghujat. Khalayak ramai membiarkan diri diyakinkan oleh pimpinan itu, sehingga menjadi alat untuk memaksa Pilatus menjatuhkan hukuman mati di salib atas diri Yesus. Dengan demikian, Matius hendak menegaskan bahwa seluruh rakyat bertanggung jawab atas darah orang tak bersalah.

Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami …! – 27:25
Banyak orang membaca pernyataan khalayak ini secara salah. Mereka berpikir bahwa dengan berkata, Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!, seluruh bangsa Yahudi mengutuk dirinya untuk selama-lamanya. Aslinya teks ini berbunyi begini, Darah-Nya atas kami dan atas anak-anak kami. Kalimat ini tanpa kata kerja! Di dalamnya tidak muncul kata “ditanggungkan”! Ini suatu rumusan hukum suci Israel yang berkaitan dengan tanggung jawab atas kematian. Kadang-kadang hukuman atas kematian disebut dengan jelas. Tetapi, pada umumnya hukuman itu diserahkan ke dalam tangan Allah. Di balik rumusan ini terdapat suatu arti mendalam: Manusia yang membunuh sesamanya melakukan kejahatan begitu besar terhadap wewenang Allah atas kehidupan, sehingga ia tidak boleh luput dari hukuman berat. Dengan memperhatikan latar belakang ini, maksud ayat ini menjadi lebih jelas. Pilatus sebentar lagi akan menjatuhkan hukuman mati atas Yesus yang diyakininya tidak bersalah. Ia tidak mau bertanggung jawab atas kematian itu, sehingga ia membasuh tangannya Ia memaksakan tanggung jawab itu pada khalayak yang berhasil disetir oleh para pemuka Yahudi. Lewat pernyataan, “Darah-Nya atas kami dan atas anak-anak kami,” khalayak menerima tanggung jawab itu. Mengapa? Sebab mereka tampaknya yakin bahwa Yesus adalah penghujat sebagaimana diputuskan oleh Mahkama Agama. Yang paling ironis ialah bahwa tanggung jawab itu diterima oleh khalayak, padahal semua pihak yang secara langsung terlibat dalam perkara ini cuci tangannya! Matius memahami semuanya ini secara sederhana: Yesus tidak bersalah. Arti inilah perlu diperhatikan oleh pembaca ayat ini.

Dan atas anak-anak kami – 27:25
Kata Yunani tekna (anak-anak) mempunyai arti luas, sehingga dapat diterjemahkan “keturunan” pula. Di sini kata ini mengacu kepada mereka yang mengalami kehancuran Yerusalem dan Bait Sucinya yang dalam Mat 24:21 disebut sebagai masa “siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia.” Bangsa Israel yang telah menolak Yesus harus berlalu dan memberi tempat agi Israel baru yang terdiri dari umat Kristen. Israel lama serua dengan penggarap-penggarap kebun anggur yang membunuh putra pemilik kebun itu. Sesuai dengan jawaban para pendengar perumpamaan ini,k pemilik kekbun itu “akan membinasakan para penggarap jahat dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarapl-penggarap lain” (Mat 21:41). Inilah sebabnya, menurut Injil Matius, para pengikut Yesus seharusnya “jangan menyimpang ke jalan bangsa lain, melainkan pergi kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 10:6), sembil mengusahakan pertobatan semua orang yang siap bertobat. Baru sesudah hancurnya Yerusalem, para pengikut Yesus harus pergi kepada segala bangsa (Mat 28:19). Allah selalu siap mengampuni dan Ia tidak pernah mengutuk keturunan orang jahat. Yesus sendiri tidak pernah memandang bangsa-Nya sendiri sebagai bangsa terkutuk. Pada waktu mengedarkan piala berisi darah-Nya, Ia berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang (artinya: bagi semua orang) untuk pengampunan dosa” (Mat 26:28).