235. Yesus di hadapan Pilatus (Mat 27:11-26)

Orang banyak bertekad … meminta Barabas dibebaskan -27:20
Pembaca masa kini mungkin agak heran membaca laporan Matius tentang jalannya proses pengadilan Yesus di hadapan Pilatus. Sebab dalam proses itu peranan khalayak ramai tampaknya begitu menentukan! Namun, perlu diketahui bahwa PL sangat menganjurkan khalayak ramai diikutsertakan dalam berbagai proses penting. Dalam kitab Bilangan ditegaskan “supaya pembunuh jangan mati, sebelum ia dihadapkan kepada rapat umat untuk diadili” (Bil 35:12).
Menurut Injil Matius dan Markus, mula-mula khalayak ramai tidak memusuhi Yesus. Namun, sikap khalayak itu berubah total setelah mereka dihasut oleh para imam kepala dan tua-tua. Khalayak itu akhirnya menjadi begitu haus akan darah, sehingga menuntut agar Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. Permusuhan khalayak terhadap Yesus diungkapkan dalam semua Injil. Namun, dalam satu Injil pun tidak dijelaskan mengapa khalayak menuntut dibebaskannya Barabas yang jahat itu dan sedikit pun tidak mau membela Yesus.

Apa yang harus kuperbuat dengan Yesus – 27:22
Dalam 27:20 Matius sudah melaporkan bahwa para imam kepala dan tua-tua berhasil menghasut khalayak, sehingga mereka menuntut pembebasan Barabas dan penyaliban Yesus. Jadi, pembaca Injil Matius sudah tahu bagaimana khalayak akan bereaksi atas pertanyaan Pilatus, Apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus yang disebut Kristus? Yang menarik dalam pertanyaan ini ialah penggunaan gelar Kristus yang searti dengan “Mesias”; Pilatus menggunakannya untuk kedua kalinya (27:17)! Ternyata khalayak lebih suka Barabas daripada Mesias. Khalayak malah menuntut supaya Mesias disalibkan! Biarpun diberi kesempatan untuk memilih antara dua Yesus, khalayak sepakat untuk memilih Yesus-Barabas (Mat 27:16+).

Ia harus disalibkan – 27:22
Setelah mendengar keputusan khalayak, Pilatus mengajukan pertanyaan kedua, “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Kali ini khalayak bukan berkata melainkan makin keras berteriak: Ia harus disalibkan!

Pilatus melihat segala usaha akan sia-sia – 27:24
Setelah khalayak memaksakan kehendaknya untuk kedua kalinya, suasana menjadi tegang. Pilatus menyadari bahwa segala usahanya ternyata gagal, malah sudah mulai …

Timbul kekacauan – 27:24
Sebelumnya Mat sudah bercerita tentang perundingan antara para imam kepala dan tua-tua untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat, tetapi “jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat” (Mat 26:5). Kini, karena tipu muslihat, para pemuka Yahudi justru menimbulkan apa yang mereka hindari, yaitu kekacauan. Perubahan suasana yang mendadak itu meyakinkan Pilatus bahwa ia tidak punya pilihan, selain menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus. Tetapi, sebelum melakukannya, Pilatus ingin melepaskan dirinya dari tanggungjawab.

Ia mengambil air – 27:24
Selanjutnya Matius bercerita tentang suatu tindakan Pilatus yang agak tidak terduga-duga: Ia mengambil air untuk membasuh tangannya! Pilatus seolah-olah mengenal Kitab Suci Yahudi serta menyesuaikan diri dengan adat bangsa jajahannya. Sebab serupa dengan orang-orang Yahudi yang memang biasa membasuh tangannya sebagai tanda bahwa mereka tidak terlibat dalam kejahatan, Pilatus pun melakukannya. Namun, perlu diketahui bahwa kebiasaan ini – hal ini terbuka berdasarkan sastra Romawi-Yunani kuno – dikenal dan dipraktikkan oleh orang-orang yang bukan Yahudi pula.

Membasuh tangannya di hadapan orang banyak – 27:24
Dalam Mazmur 26:6 tertulis, “Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah.” Secara khusus pembasuhan tangan dilakukan dalam kasus pembunuhan. Menurut kitab Ulangan para tua-tua dari kota yang paling berdekatan dengan lokasi pembunuhan orang tak bersalah harus membasuh tangannya, lalu memberi pernyataan, “Tangan kami tidak mencurahkan darah ini dan mata kami tidak melihatnya.” Lalu mereka harus berdoa begini, “Janganlah, (ya Tuhan), timpakan darah orang yang tidak bersalah ke tengah-tengah umat-Mu, Israel” (Ul 21:8).Tetapi, antara pembasuhan tangan yang secara tradisional dilakukan oleh bangsa Yahudi dan pembasuhan tangan yang dilakukan Pilatus terdapat satu perbedaan besar sekali. Untuk menyadarinya, pernyataan Pilatus perlu dibaca dengan cermat.

Aku tidak bersalah … itu urusan kamu sendiri – 27:24
Pilatus justru menghendaki, supaya seluruh tanggungjawab atas kematian Yesus jatuh pada bangsa Yahudi. Dengan membasuh tangannya, Pilatus berusaha memenuhi pesan istrinya, supaya ia jangan mencampuri perkara orang benar itu (27:19), biarpun ia akhirnya menghukum mati Yesus.
Dalam pernyataan Pilatus, Itu urusan kamu sendiri, terdengar suara para imam kepala yang tidak mau menerima uang yang sebelumnya mereka beri kepada Yudas dan yang kemudian dikembalikan olehnya secara kasar. Pada waktu itu para imam berkata kepada Yudas, “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!” (27:4). Dulu para imam menjadikan Yudas bertanggungjawab; kini hal yang sama dilakukan oleh Pilatus: ia melemparkan tanggungjawab atas semua orang Yahudi. Tentu saja Pilatus tidak dapat melakukannya. Hukuman mati atas diri Yesus akhirnya dijatuhkan oleh dia, bukan oleh khalayak, biarpun seluruh khalayak yang pada waktu itu berkumpul di depan gedung pengadilan, mau menerima tanggungjawab itu dengan sukarela! Memang, harus diakui bahwa tanggung jawab Pilatus tidak sebesar tanggungjawab Yudas, lebih-lebih para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Namun, Pilatus tetap bertanggungjawab juga. Menurut legenda kuno, Pilatus terus dihantui oleh dosanya hingga saat kematiannya. Hidupnya di masa tua amat menyedihkan.