234. Yesus di hadapan Pilatus (Mat 27:11-26)

Duduk di kursi pengadilan – 27:19
Mat, Mrk, dan Luk memberi kesan bahwa pada waktu diperiksa oleh Pilatus, Yesus berdiri di hadapannya di tempat terbuka, di luar gedung, sedangkan para imam kepala, tua-tua, dan khalayak berada tidak jauh dari Pilatus, sebab mereka dapat bercakap-cakap dengannya. Tetapi, baru setelah Pilatus membebaskan barabas dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan dikatakan bahwa Injil Matius bahwa para “serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus” (27:27).
Menurut Injil Yohanes, sejak saat pertama diadili, Yesus sudah berada di “gedung pengadilan” sedangkan semua orang Yahudi tetap tinggal di luar tempat itu. Jadi, menurut Inujil Yohanes, Pilatus mondar-mandir antara Yesus dengan orang-orang Yahudi (Yoh 18:29.33.28; 19:4.9). Dalam Yoh 19:13 malah diberi penjelasan yang lebih lengkap tentang gedung pengadilan itu. Dikatakan begini, “Pilatus … menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabbata.” Baru di situlah – menurut Injil Yohanes – Pilatus menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus. Di luar Injil Yohanes, kursi pengadilan itu disebut dalam teks Mat ini saja.
Gedung yang dipakai Pilatus untuk mengadili Yesus adalah tempat yang berfungsi sebagai markas administrasi Romawi. Gedung pengadilan resmi di Palestina ada di kota Kaisarea Maritima, tempat kediaman tempat wali negeri. Maka, gedung yang dipakai di Yerusalem, dipakai untuk proses pengadilan dalam keadaan darurat saja. Kursi pengadilan berdiri di atas semacam panggung batu yang bertangga. Gedung apa yang dipakai Pilatus itu? Di Yerusalem – menurut para ahli sejarah – ada dua gedung milik Raja Herodes yang dapat dipakai oleh Pilatus sebagai gedung pengadilan “darurat”: Yang satu ialah Benteng Antonia (di sebelah timur Yerusalem), dan yang satu lagi ialah Istana Raja (di sebelah barat Yerusalem). Menurut penyelidikan terbaru, Pilatus mengadili Yesus di Istana Raja, bukan di Benteng Antonia.

Istrinya mengirim pesan kepadanya – 27:19
Sebelumnya Mat sudah menegaskan (27:28) bahwa Yesus diserahkan kepada Pilatus karena dengki dan bahwa Pilaus menyadarinya, sehingga ia pasti cenderung membebaskan Yesus. Dalam ayat ini Mat menambakan satu alasan lagi yang dapat mempengaruhi Pilatus, yaitu pesan istrinya. Walaupun berita ini hanya tercatat dalam Injil Matius, namun nilai historisnya tidak diragu-ragukan. Pilatus menerima pesan itu pada saat ia duduk di kursi pengadilan, artinya pada saat hidup-mati Yesus ada di tangan Pilatus.
Siapa istri Pilatus itu? Sejak awal kekristenan, istri itu dipandang sebagai seorang wanita yang luhur malah suci. Dalam “Kisah Pilatus” (apokrifa) disebut namanya, yaitu Procula. Ada sesorang ahli yang berusaha membuktikan bahwa wanita itu bernama lengkap Claudia Procula atau Claudia Vilia Procula. Menurut Origenes, wanita itu akhirnya menjadi Kristen. Dalam Gereja Ortodoks ia malah dihormati sebagai seorang santa. Santo Agustinus membandingkan Procula ini dengan Hawa. Hawa mendorong Adam, suaminya, untuk menempuh jalan menuju kematian, sedangkan Procula sebaliknya – jalan menuju kehidupan.
Bila teks Injil Matius diperhatikan secara cermat, tampaklah bahwa “mimpi istri Pilatus” ini berhubungan dengan cerita-cerita tentang Yudas (dan darah orang tak bersalah) dan dengan pembasuhan tangan oleh Pilatus.
Para ahli sejarah membenarkan bahwa cukup banyak wanita Roma (khususnya istri-istri pejabat tinggi) bersimpati dengan agama Yahudi, juga dengan agama Kristen.

Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu – 27:19
Istri Pilatus membela Yesus sebagai orang benar. Pada awal Injilnya Mat sudah menegaskan bahwa Yesus datang untuk menggenapkan seluruh kebenaran. Yesus memang seorang benar, namun Yudas berdosa karena ia tidak peduli akan kebenaran Yesus itu. Akhirnya ia sendiri mengakui, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tidak bersalah” (Mat 27:4). Pilatus memang menjatuhkan hukuman mati atas Yesus, namun ia tampaknya sadar bahwa Yesus tidak bersalah, sehingga ia mencuci tangan, sambil berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!: (Mat 27:24).
Melalui cerita singkat tentang istri Pilatus ini, Matius menggambarkan keterbukaan dunia kafir terhadap Kabar Baik dan Yesus. Dunia itu menangkap kebenaran Yesus.

Karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi – 27:19
Istri Pilatus memberitahukan bahwa ia sangat menderita karena Yesus dalam mimpinya. Istri Pilatus menderita karena jiwanya yang peka tidak dapat menerima kenyataan bahwa darah orang tak bersalah akan ditumpahkan.
Dalam kisah-kisah tentang masa kanak-kanak Yesus, Mat menceritakan empat macam mimpi yang dipakai oleh Allah sebagai sarana wahyu-Nya. Yosef bermimpi tiga kali. Tetapi, para majus pun bermimpi, padahal mereka orang-orang asing yang tidak beragama Yahudi. Mereka menerima wahyu tentang identitas Yesus lewat sebuah bintang, sehingga mereka datang dan menyembah Yesus, padahal pada waktu bersamaan, Herodes, para imam kepala, ahli-ahli kitab, bahkan masyarakat berusaha membunuh Yesus. Mimpi istri Pilatus termasuk narasi populer tentang cara Allah berkarya di tengah-tengah umat yang konon tak beragama. “Orang-orang kafir” itu tidak memiliki Kitab Suci seperti umat Yahudi, sehingga Allah memperkenalkan Yesus kepada mereka dengan cara tidak biasa. Banyak penulis gerejawi mengakui asal ilahi masing-masing mimpi itu, termasuk mimpi istri Pilatus ini.