230. Harga darah orang tidak bersalah (Mat 27:3-10)

Imam-imam keppala mengambil uang perak itu – 27:6
Dengan melemparkan uang ke tempat para imam biasanya berkumpul, Yudas mengikutsertakan mereka dalam dosanya sendiri. Ia tahu bahwa uang itu najis. Uang najis itulah justru dilemparkannya ke tempat suci. Mula-mula para imam sama sekali tidak mau menyentuhnya, sehngga secara tidak langsung mereka pun mengakui bahwa Yesus memang tidak bersalah. Mereka tahu benar bahwa uang yang dibawa Yudas itu adalah “uang darah,” dan bahwa uang yang demikian tidak pernah boleh dijadikan perembahan bagi Allah.

Sesudah berunding, mereka membeli … tanah – 27:7
Sama seperti sebelumnya para imam mengambil keputusan untuk membunuh Yesus (27:1), demikian pun sekarang mereka mengambil kepuptusan (bukan “berunding” saja!) sehubungan dengan uang yang dibawa kembali oleh Yudas. Mereka membeli tanah yang dikenal dengan nama “Tanah Tukang Periuk.” Tidak jelas, tanah macam apakah itu. Tetapi, jelas, tanah itu langsung dikhususkan sebagai tempat penguburan orang asing. Yang dimaksud orang asing: tidak mengacu kepada orang-orang kafir, tetapi kepada orang-orang Yahudi yang dalam rangka kunjungannya di Yerusalem kebetulan meninggal dunia.

Tanah Darah – 27:8
Menurut St. Hieronimus, Tanah Darah itu terletak di barat daya Yerusalem, di tempat bertemunya Lembah Kidron, Tyropeon, dan Hinnom. Di situ memang ada tanah yang secara tradisional dipakai oeh tukang-tukang periuk. Mungkin saja tanah itu sejak dahulu sudah disebut “Tanah Darah” sebab ke situlah mengair air yag tercampur darah dari Bait Suci. Kalau memang demikian, maka nama itu dikaitkan oleh umat Kristen masa awal dengan Yudas.

Digenapi firman – 27:9-10
Kisah ini ditutup oleh Matius dengan sebuah kutipan dari PL. Mat dikenal dari berbagai “kutipan penggenapan” yang tersebar di seluruh Injilnya. Di sini Mat dengan jelas menyebut nama Yeremia sebagai sumber kutipannya. Setelah kutipan itu diselidiki, nyatalah bahwa isinya adalah sebuah paduan nas dari Kitab Yerema dan Zakharia. Melalui kutipan ini Mat hendak menjelaskan bahwa apa saja yang berhubungan dengan sengsara dan wafat Yesus, tidak terlepas dari Rencana Alah.