228. Yesus diserahkan kepada Pilatus (Mat 27:1-2)

Mereka membelenggu Dia – 27:2
Menurut Injil Matius dan Markus, baru sekarang Yesus dibelenggu. Jadi, mulai saat ini Yesus diperlakukan sebagai kriminalis yang terbukti jahat, serupa dengan Barabas (Mrk 15:7). Dengan membelenggu Yesus, para anggota MA mau menunjukkan kepada Piatus betapa berbahayanyalah Yesus. Lukas tidak pernah mencatat bahwa Yesus dibelenggu. Menurut Injil Yohanes, Yesus dibelenggu langsung pada saat Ia ditangkap di Taman Getsemani (Yoh 18:12), dan dalam keadaan terbelenggu pula Ia dibawa kepada Kayafas (18:24).

Dan menyerahkan-Nya – 27:2
Jauh sebelumnya, Yesus sudah bernubuat, “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” (Mat 20:18). Kini nubuat Yesus itu terlakana. Dengan demikian, prosesnya berlangsung begini: Mula-mula Yesus diserahkan oleh Yudas kepada pimpinan Yahudi; pimpinan itu menyerahkan Yesus kepada Pilatus; akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Pilatus – 27:2
Di sini untuk pertama kalinya dalam Kisah Sengsara Yesus disebut nama Pilatus. Mat menjelaskan bahwa Pilatus adalah hegemon, artinya “gubernur” atau wali negeri. Dalam bab 27 Injilnya, Matius menyebut Pilatus “gubernur” sebanyak 6 kali, dan sekali lag dalam 28:14. Mrk dalam Injinya tidak pernah menjelaskan siapakah Pilatus itu (mungkin karena sidang pembaca Injilnya sudah tahu identitasnya). Lukas juga tidak pernah memperkenalkan pejabat tinggi dari Roma itu secara jelas sebagai “gubernur,” tetapi pada awal kitabnya ia mencatat bahwa Yohanes Pembaptis mulai berkarya pada waktu Pontius Pilatus “menjadi gubernur Yudea” (Luk 3:1). Yohanes dalam Injilnya menyebut Pilatus untuk pertama kalinya dalam 19:6, tetapi ia pun tidak memperkenalkannya sebagai “gubernur.” Pertanyaan ini hanya terjawab dalam Injil Yohanes: Ia dibawa ke praetorium, tempat yang biasa dipakai Pilatus untuk memutuskan perkara-perkara Yahudi. Tempatnya kiranya di Istana Herodes yang terletak di puncak bukit sebelah barat kota Yerusalem. Para penulis Injil tidak peduli mengenai lokasi itu. Sebab bagi mereka yang terpenting ialah kenyataan bahwa Yesus telah diserahkan ke dalam tangan bangsa asing yang selalu dipandang kafir.