226. Petrus menyangkal Yesus (Mat 26:69-75)

Mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah – 26:74
Kata mulailah penting dalam kalimat ini. Sebab Petrus “mengutuk dan bersumpah” berkali-kali! Padahal Yesus dulu melarang sumpah sama sekali (Mat 5:34)! Sejumlah penafsir berpendapat bahwa kata mengutuk dan bersumpah hampir searti, sehingga sebaiknya diperlakukan sebagai kesatuan. Namun, ketepatan pendapat ini dapat dipertanyakan. Sebab menurut kisah Matius, pada saat menyangkal Yesus untuk kedua kalinya (ay 72), Petrus bersumpah juga. Selanjutnya ia bukan hanya bersumpah melainkan mengutuk juga! Lalu muncul pertanyaan yang lebih gawat lagi, yaitu “Apakah Petrus mengutuk dirinya sendiri atau Yesus?”

Saat itu berkokoklah ayam – 26:74
Kalimat Matius tentang ayam berkokok, dipermasalahkan oleh banyak komentator Injil. Semua penulis Injil, yaitu Mat, Mrk, Luk, dan Yoh, dengan tegas memberitahukan bahwa setelah Petrus menyangkal Yesus untuk ketiga kalinya, terdengarlah kokok ayam. Hanya dalam Injil Markus dikatakan, bahwa “pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya.” Yang dipersoalkan oleh para ahli ialah tiga hal, yaitu: (1) Apakah lewat kalimat itu para penulis Injil hendak melaporkan kokok ayam yang sebenarnya atau waktu/jam terjadinya peristiwa itu; (2) Apakah pada zaman itu para penduduk Yerusalem memelihara ayam?; (3) Kalau ayam dipelihara, maka pada jam berapakan ayam jantan itu berkokok?
Semua pertanyaan ini ditanggapi oleh para ahli secara berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan di sini bukan kokok ayam melainkan petunjuk waktu, yaitu “ronda malam ketiga,” antara pkl 00.00 03.00, yang dalam bahasa Latin disebut gallicinium (=kokok ayam). Pada akhir ronda itu dibunyikan tanduk. Orang-orang Roma memang biasa membagikan waktu jaga malam atas tiga ronda, yaitu: 21.00-00.00 (disebut “larut malam”), 00.00-03.00 (disebut tengah malam), dan 03.00-06.00 (disebut “pagi-pagi buta”). Ketiga ronda ini dicatat dalam Mrk 13:35. Namun, tidak ada bukti apa-apa bahwa dalam kisah tentang penyangkalah Petrus para penulis Injil memikirkan ketiga ronda jaga malam itu. Mereka tampaknya benar-benar memikirkan kokok ayam yang sebenarnya. Pada abad II M para penduduk Yerusalem memang dilarang memelihara unggas, khususnya para imam. Tetapi, tidak jelas apakan larangan itu sudah berlaku pada masa kehidupan Yesus. Para penulis Injil, khususnya Yohanes, melaporkan banyak detail menarik tentang Yerusalem masa itu, sehingga dapat disimpulkan bahwa – menurut mereka – pada saat Petrus menyangkal Yesus, benar-benar terdengar kokok ayam. Yang masih menjadi masalahnya ialah waktu ayam jantan di Yerusalem biasanya berkokok … Banyak orang yag sehari-hari berurusan dengan ayam pasti tahu bahwa jam ayam berkokok tidak dapat dipastikan.

Teringatlah Petrus – 26:75
Mat mencatat, Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya sebelumnya, tepatnya sehabis Perjamuan Terakhir. Pada waktu itu Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (26:34). Namun, dapat diduga bahwa Petrus teringat bukan akan kata-kata Yesus itu saja melainkan akan seluruh konteksnya pula.

Pergi ke luar – 26:75
Petrus pergi ke luar sambil menangis. Petrus terpukul sekali oleh kenyataan bahwa ia tidak mampu mewujudkan janjinya, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau” (26:35)

Menangis dengan sedihnya – 26:75
Kata menangis muncul dalam kitab-kitab Injil 21 kali. Dua belas kali kata ini dipakai sehubungan dengan tangis karena kematian seseorang, sehingga dapat disimpulkan bahwa tangisan Petrus sungguh memilukan. Menurut sebuah apokrifa, di kemudian hari Petrus konon memberi pengakuan begini, “Aku menangisi dan meratapi kelemahan imanku, sebab aku tertipu oleh si jahat dan tidak menyimpan kata Tuhan dalam hati.” Dengan tergenapinya nubuat Yesus, Petrus kiranya sadar bahwa nubuat-nubuat-Nya yang lain pula akan tergenapi, antara lain yang ini, “Sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea” (26:32). Yesus pernah berkata, “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni” (12:32). Petrus dapat mengharapkan pengampunan itu.

Peranan kisah ini
Kisah tentang penyangkalan Petrus ini kiranya sering dipakai dalam katekese setelah Petrus mati sebagai martir pada pertengahan tahun 60-an. Pada waktu itu banyak orang Kristen dikejar, dianiaya, bahkan dibunuh. Di antara mereka ada cukup banyak orang yang memilih menyangkal Yesus daripada mati dibunuh. Adakah masih harapan bagi orang-orang macam itu? Ada, dan salah satu contohnya ialah Petrus. Ia pernah menyangkal Yesus, tetapi kemudian dengan berani memberitakan Injil. Bagi mereka yang pernah berdosa berat, selalu ada harapan, asal mereka bertobat.