223. Yesus diperlakukan secara kejam (Mat 26:67-68)

Dua macam tindakan jahat
Setelah Mahkamah Agama menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus, Mat langsung melapor bahwa Yesus: (1) Diperlakukan secara kejam; (2) Diolok-olok. Hal yang serupa dilaporkannya sesudah Yesus dihukum mati oleh Pilatus (27:26b-31a) dan pada waktu Yesus sudah di salib (27:39-44). Laporan serupa terdapat dalam Injil Markus pula. Karena isi semua laporan itu sangat serupa, maka ada yang meragu-ragukan nilai historisnya. Menurut sejumlah ahli, mungkin saja cerita yang satu menjadi pengilham terciptanya cerita kedua (bahkan ketiga) yang serupa. Memang, harus diakui, bahwa data yang tersedia dalam kita-kitab Injil sangat minim, lagi pula tidak seragam. Namun, kebanyakan ahli yakin bahwa Yesus diperlakukan kejam dan diolok-olok oleh pihak Yahudi maupun Roma karena dua alasan yang berbeda-beda. Orang-orang Yahudi menghina Yesus sebagai nabi palsu. Orang-orang Roma menghina Yesus sebagai “Raja orang Yahudi.” Kebanyakan ahli setuju pula bahwa “laporan” mengenai hal ini yang disusun oleh Mat dan Luk, dalam arti tertentu meniru teks Injil Markus. Yang barangkali lebih menarik daripada pendapat para ahli ialah daftar sejumah kata yang dipakai oleh para penulis Injil dalam kisah tentang Yesus yang dihina-hina itu.

Kosakata Matius
Pada waktu Yesus menubuatkan sengsara-Nya, Ia sudah mensinyalir bahwa Ia akan diolok-olok (Mat, Mrk, Luk). Tetapi, setelah Ia dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Agama, Ia diludahi, ditinju (26:67), dan dipukul (26:67.68). Para serdadu Roma menanggalkan pakaian Yesus (27:27), menaruh mahkota duri pada kepala-Nya, lalu mengolok-olokkan Dia (27:29). Setelah itu mereka meludahi Yesus dan memukulkan buluh pada kepala-Nya (27:30). Setelah Yesus tergantung di salib, para imam kepala, ahli-ahli kitab, dan para tua-tua mengolok-olokkan Dia (27:41), sedangkan kedua penyamun mencela Dia (27:44). Umat beriman Kristen mungkin “terbiasa” dengan kosakata ini, sehingga tidak bereaksi lagi. Tetapi, kalau diingat bahwa cerita-cerita Injil sangat hemat akan kata dan sama sekali tidak pernah bermaksud mempermainkan emosi pembaca, maka harus diterima bahwa di balik semua kata ini terbaca satu kenyataan saja: Yesus diperlakukan secara tidak berperikemanusiaan.

Lalu mereka – 26:68
Setelah Yesus dijatuhi hukuman mati, Markus bercerita begini, “Mulailah beberapa orang meludahi Dia dan menutupi muka-Nya dan menjinju-Nya, sambil berkata kepada-Nya: ‘Hai nabi, cobalah terka!’ Malah para pengawal pun memukul Dia” (Mrk 14:65). Jadi, Markus memperkenalkan dua kelompok yang mulai menyiksa Yesus: para anggota Mahkamah Agama dan para pengawal. Tetapi, menurut Matius, Yesus mulai diperlakukan secara kejam oleh para anggota Mahkamah Agama sendiri.

Meludahi … meninju … memukul – 26:68
Sebagian anggota sidang terhormat meludahi muka Yesus dan meninju-Nya, sebagian lagi memukul Dia. Siksaan itu memuncak pada saat mereka menantang Yesus untuk bernubuat, “Hai Mesias, cobalah katakan kepada kami siapa yang memukul Engkau!? Matius sama sekali tidak menyinggung tindakan berupa “muka Yesus ditutup.” Mengapa? Sebab ia tampaknya memandang Yesus sama dengan Hamba Tuhan yang diperkenalkan oleh Nabi Yesaya. Dalam nubuat nabi itu dapat dibaca kalimat berikut, “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku; aku tidak menyembunyikan mukaku, ketika aku dinodai dan diludahi” (Yes 50:6). Adakah orang diludahi, bila mukanya ditutup?

Hai Mesias – 26:68
Sapaan, hai Mesias, dalam cerita ini sungguh unik dalam Kitab Suci. Sapaan ini sejajar dengan yang muncul dalam kisah mengenai Yesus diolok-olok oleh para serdadu Romawi, “Salam, hai Raja orang Yahudi!” (27:29). Mengapa Yesus lewat permainan “Ayo, tebaklah!” mau dicek identitas-Nya sebagai Mesias? Sebab sebelumnya Yesus membuat pernyataan bahwa Ia dapat merubuhkan Bait Suci dan membangunnya kembali alam tiga hari. Ia sudah menyatakan pula bahwa selaku Anak Manusia Ia akan duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa. Maka setelah dijatuhi hukuman mati, kemampuan-Nya sebagai nabi menjadi bahan olokan. Lewat sapaan hai Mesias, Matius memeragakan hal ini secara jelas sekali. Dari awal kitabnya, Matius memang bermaksud memperkenalkan Yesus sebagai Kristus-Mesias. Tetapi, ironisnya, Petrus, orang pertama yang mengakui Yesus sebagai Mesias, justru menyangkalnya dalam kisah selanjutnya.