222. Yesus di hadapan Mahkamah Agama (Mat 26:59-66)

Bagaimanakah pendapat kamu? – 26:66
Sebelum para anggota Mahkamah Agama mengambil keputusan, Imam Besar menantang mereka sambil bertanya, “Bagaimana pendapat kamu?” Ternyata pendapat mereka sama dengan Imam Besar: Yesus harus dihukum mati! Padahal mereka tidak harus sepakat dengan Imam Besar. Mereka dapat saja melepaskan Yesus, setelah menyesah-Nya, seperti dilakukan terhadap Petrus dan Yohanes (Kis 5:40). Tetapi, kedua rasul itu memang tidak dituduh sebagai penghujat.

Ia harus dihukum mati – 26:66
Pada akhir proses pengadilan Yesus, seluruh Mahkamah Agama serentak menyatakan kesepakatannya, Ia harus dihukum mati. Keputusan ini disebut dalam Injil Matius dan Markus.
Laporan yang serupa dapat dibaca dalam Injil Yohanes. Menurut Injil ini, Yesus dihukum mati sebelumnya, in absensia, pada suatu rapat khusus yang diadakan setelah Yesus membangkitkan Lazarus.  “Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia” (Yoh 11:53).
Lukas menyinggung keputusan Mahkamah Agama itu baru setelah Yesus bangkit, dalam kisah tentang dua murid dalam perjalanan ke Emaus. Sambil berjalan, mereka berkata kepada Yesus yang secara incognito menyertai mereka, “Imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya” (Luk 24:20).
Dalam menceritakan kesepakatan Mahkamah Agama untuk menghukum mati Yesus, para penulis Injil pasti mengingat ayat-ayat PL, yang menggambarkan cara orang jahat menangani perkara orang benar. Dalam kitab Kebijaksanaan dapat dibaca kalimat berikut ini, “Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya.” Pada waktu Nabi Yeremia mau dibunuh, “berkatalah para imam dan para nabi (palsu) itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu: Orang ini (=Yeremia) patut mendapat hukuman mati” (Yer 26:11).
Dengan mengatakan, Ia harus dihukum mati, Yesus dijatuhi hukuman mati karena alasan-alasan keagamaan semata-mata. Memang, selanjutnya Yesus akan diserahkan ke dalam tangan kuasa penjajah dari Roma yang akan mengukuhkan hukuman mati itu. Tetapi, penguasa Roma di Yerusalem mempunyai alasan lain untuk mematikan Yesus.

Hujat dalam arti apa?
Dengan memperhatikan segala data yang terdapat dalam PB, dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Mahkamah Agama, Yesus menghujat ataupun menghina Allah, karena: (1) Ia mengklaim diri-Nya sebagai Putra Allah, Mesias, Anak Manusia yang mulia; (2) Ia mengklaim diri-Nya mampu merubuhkan Bait Allah; (3) Ia mengklaim diri-Nya mampu mengubah Hukum Musa. Sejauh manakah semua klaim itu dapat dipandang sebagai hujat?
Diketahui bahwa Yesus kiranya pasti dipandang oleh sejumlah pengikut-Nya sebagai Mesias. Yesus sendiri tidak pernah protes, bila seseorang melihat dalam diri-Nya Mesias. Tetapi, apakah kenyataan ini memadai untuk menuduh Yesus sebagai penghujat? Menurut para ahli: Tidak memadai!
Kalau begitu, bagaimana dengan kemungkinan kedua: Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Putra Allah? Diketahui bahwa semasa hidup-Nya Yesus kiranya tidak pernah menyebut diri-Nya Putra Allah dan orang lain pun hampir pasti tidak pernah memberi kepada-Nya gelar itu.
Apakah Yesus dijatuhi hukuman mati karena Ia menyebut diri-Nya Anak Manusia? Para ahli sependapat bahwa gelar Anak Manusia menjadi awal segala tuduhan terhadap Yesus sebagai penghujat (bacalah Mrk 2:7-10). Maka, boleh jadi, bahwa dengan mulai bicara tentang Anak Manusia, para anggota Mahkah Agama menilai Yesus sebagai manusia yang terlalu arogan, bahkan menghujat. Tetapi, apakah itu menjadi alasan Yesus dihukum mati? Rasanya tidak!
Menurut Mat 26:65, Yesus dicap sebagai penghujat, karena bicara-Nya tentang kemampuan-Nya untuk merubuhkan Bait Allah. Bangsa Yahudi biasa bereaksi keras sekali terhadap setiap orang yang berani mengkritik Bait Suci (Yer 26:6-8). Sikap dan bicara Yesus ditakuti pimpinan Yahudi, sehingga menurut Yoh 11:48, para imam kepala berkata, “Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya, dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” Jadi, pimpinan Yahudi gelisah karena kata dan sikap Yesus. Tetapi, kata dan sikap itu tidak begitu saja dapat dinilai sebagai hujat!
Kalau demikian, manakah hujat sebenarnya yang dituduhkan pada Yesus? Bila diingat bahwa seusai proses verbal, Yesus mulai diludahi, ditinju, dipukul, dan dihina dengan macam-macam cara, maka dapat disimpulkan bahwa salah satu alasan serius Yesus dituduh sebagai penghujat ialah karena Ia dianggap nabi palsu. Pimpinan Yahudi takut bahwa lewat ajaran dan perbuatan tertentu, Yesus akhirnya akan menyesatkan umat, menjadikannya murtad dari Allah yang benar, yaitu Allah Israel. Dalam ajaran dan karya-Nya, Yesus mengemukakan ataupun melakukan cukup banyak hal yang dapat dinilai sebagai keinginan menyamai Allah sendiri, sehingga akhirnya dinilai sebagai hujat. Ia mengklaim  kuasa mengampuni dosa. Mukjizat-mukjizat-Nya ditunjukkankan-Nya sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah. Ia berkali-kali menegaskan bahwa orang akan dihakimi sesuai dengan sikap terhadap pemberitaan-Nya. Menurut penilaian orang fanatik, Yesus sering melanggar hukum yang berlaku. Ia berani mengkritik Bait Suci. Ia menyapa Allah sebagai Abba, dan berkali-kali secara tidak langsung bicara tentang diri-Nya sebagai anak yang berelasi khusus dengan Allah. Semuanya itu dapat lebih memberatkan Yesus daripada segala tuduhan yang dikemukakan terhadap diri-Nya pada waktu Ia diadili!