221. Yesus di hadapan Mahkamah Agama (Mat 26:59-66)

Mengoyakkan pakaiannya – 26:65
Perbuatan Imam Besar berupa pengoyakan pakaian dilaporkan dalam Injil Matius dan Markus saja. Kalau orang Yahudi amat berdukacita, khususnya mendengar berita tentang kematian seorang tokoh atau orang yang sangat dicintainya, mereka biasa melakukan tindakan simbolis ini. Yakub mengoyakkan jubahnya setelah mendengar bahwa Yusuf, anaknya, telah meninggal dunia (Kej 27:34). Daud melakukan hal yang sama setelah diberitahu bahwa Saul dan Yonatan telah tewas (2Sam 1:11-12).
Bila orang Yahudi mengoyakkan pakaiannya karena mendengar penghinaan terhadap Allah, maka rasa sedihnya pasti lebih mendalam daripada pada saat dilaporkan bahwa orang yang dicintainya telah berpulang. Salah satu cerita tentang hujat (panglima Asyur) dan pengoyakan pakaian (oleh Raja Hizkia) dapat dibaca dalam PL, tepatnya dalam 2Raj 18:13-19:1.
Apakah Imam Besar mengoyakkan pakaian yang dikenakannya sebagai imam atau pakaian sehari-hari? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara pasti. Sebab tidak jelas, apakah pada waktu itu Imam Besar mengenakan pakaian kebesaran atau pakaian biasa. Dalam kitab Imamat (21:10) ditetapkan begini, “Imam terbesar …, yang sudah diurapi dengan menuangkan minyak urapan di atas kepalanya dan ditahbiskan dengan mengenakan kepadanya segala pakaian kudus, janganlah membiarkan rambutnya terurai dan janganlah ia mencabik pakaiannya.”

Untuk apa kita perlu saksi lagi? – 26:65
Pertanyaan Imam Besar ini mengandaikan bahwa melalui pernyataan tentang identitas-Nya, Yesus telah memberatkan diri-Nya sendiri. Perlu diingat bahwa pimpinan Yahudi berkali-kali sebelumnya sudah berusaha menjebak Yesus dalam bicara-Nya. Salah satu buktinya ialah pertanyaan kaum Farisi dan orang-orang Herodian tentang perlunya membayar pajak (Mat 22:15-16a).
Harus diakui, bahwa pertanyaan Imam Besar, Untuk apa kita perlu saksi lagi?, memang masuk di akal, sehingga langsung meyakinkan para anggota Mahkamah Agama, walaupun pada umumnya berlaku prinsip bahwa orang yang dituduh tidak dapat memberatkan dirinya sendiri, selama kesalahannya belum terbukti secara obyektif.
Menurut cerita Matius, Yesus sudah dianggap bersalah sebelumnya, sebab Ia berani mengatakan bahwa Ia dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari (Mat 26:61).

Telah kamu dengar hujat-Nya – 26:65
Apakah Yesus memang menghujat? Dalam kitab Imamat (24:16) dikatakan begini, “Siapa yang menghujat nama Tuhan, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah.” Dalam Kel 22:27 ditegaskan, “Janganlah engkau mengutuki Allah.” Yesus ternyata tidak pernah menghujat nama Tuhan ataupun mengutuki Allah. Jadi mengapa Ia dianggap menghujat?
Menurut Injil Yohanes (10:36), sebelum dihukum mati, Yesus dianggap menghujat, karena Ia menyatakan diri-Nya Putra Allah.”
Stefanus, martir Kristen pertama, dianggap menghujat melawan Musa dan
Allah dengan bicara secra tertentu mengenai tempat kudus dan hukum Taurat (Kis 6:11-14). Tetapi, baru setelah berkata, “Aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah,” Stefanus diserbu dan mulai dilempari batu hingga mati (Kis 7:54-60).
Menurut Injil Markus, sejak semula pimpinan Yahudi memandang Yesus sebagai penghujat (Mrk 2:7), sehingga tidak mengherankan bahwa pada saat Ia diadili, tuduhan pertama itu dibenarkan saja.
Menurut Injil Matius, Yesus dianggap menghujat, pertama-tama karena Ia menyatakan diri-Nya mampu merubuhkan Bait Allah, lalu karena di bawah sumpah Ia membenarkan identitas-Nya selaku Mesias dan Putra Allah.