220. 16Yesus di hadapan Mahkamah Agama (Mat 26:59-66)

Kamu akan melihat Anak Manusia -26:64
Pernyataan meriah Yesus, Aku berkata kepadamu, adalah pernyataan ilahi, wahyu. Para musuh-Nya akan melihat Yesus sebagai Mesias yang dilantik sebagai raja, sebagai Anak Manusia yang diberi kuasa. Tetapi, pemandangan itu tidak akan membawa keselamatan kepada Imam Besar maupun kepada para pendukungnya, melainkan justru hukuman. Ketika Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup, Yesus langsung mengucapkan sabda bahagia, “Berbahagialah engkau Simon Petrus!” (Mat 16:17). Yesus amat bahagia, sebab pengakuan Petrus adalah sabda Allah sendiri, bukan kata-kata manusia semata-mata. Dalam pernyataan di hadapan Imam Besar, Yesus malah dengan lebih jelas menyatakan identias-Nya.
Apakah Imam Besar dan para anggota Mahkamah Agama akhirnya melihat sesuatu dari apa yang dikatakan oleh Yesus? Ya, pada saat Yesus wafat di salib. Menurut Mat 27:51-54, pada saat itu terjadia beberapa hal yang menakutkan, yaitu: Tabir Bait Suci terbelah, ada gempa bumi, bukit-bukit batu terbelah, kuburan-kuburan terbuka, banyak orang yang telah meninggal bangkit. Di hadapan Mahkamah Agama, Yesus bicara tentang tanda-tanda kelihatan. Pada saat Yesus wafat, para anggota Mahkamah Agama dapat melihat tanda-tanda yang pakai oleh Allah untuk menunjukkan siapakah Yesus itu. Setelah Yesus bangkit, gempa bumi terjadi lagi, lalu turun seorang malaikat dan menggulingkan batu dari kuburan. Semua gejala dan tanda itu dilihat para penjaga kubur Yesus dan mereka melaporkannya kepada imam-imam kepala (Mat 28:2-4.11-12). Dengan cara inilah Matius hendak menegaskan bahwa para musuh Yesus akhirnya akan menyaksikan kemuliaan Anak Manusia.

Anak Manusia – 26:64
Ungkapan Anak Manusia muncul dalam kitab-kitab Injil sebanyak 80 kali dan dua kali (dalam Mrk 2:10; Yoh 12:34) Yesus sendiri menyebut diri-Nya demikian. Namun, anehnya, tidak seorang pun dalam kisah-kisah Injil menyapa Yesus sebagai Anak Manusia dan Yesus sendiri tidak pernah menjelaskan arti ungkapan ini. Dalam seluruh Kisah Sengsara,  Yesus tidak pernah diejek sebagai Anak Manusia! Para ahli kitab suci cukup yakin bahwa ungkapan ini tercipta oleh Gereja masa awal berdasarkan ucapan-ucapan dan tindakan Yesus sendiri. Gagasan tentang “anak manusia” timbul kiranya karena pengaruh kitab Daniel (bab 7) yang menggambarkan seorang Mesias-manusia yang ada di surga sejak awalnya, yang dimuliakan oleh Allah dan yang dijadikan-Nya hakim. Yesus memahami diri-Nya sebagai Anak Manusia terutama dalam hubungan dengan zaman akhir. Yesus tampaknya yakin bahwa Ia akhirnya akan ditolak dan dihukum mati sama seperti nabi-nabi dahulu. Ia yakin pula bahwa Allah akan menegakkan kerajaan-Nya dengan menghukum semua orang yang menganggap-Nya sebagai nabi palsu maupun orang kerasukan Setan. Berdasarkan kitab Daniel dan sejumlah nas kitab Mazmur, Yesus memperluas konsep simbolis mengenai “seorang yang mirip anak manusia” pada seorang yang kelak akan diberi kemuliaan dan kuasa. Maka, muncullah ungkapan “anak manusia.” Melalui dialah Allah akan menyatakan kemenangan-Nya. Yesus menerapkan ungkapan ini pada diri-Nya sendiri sebagai sarana rencana Allah. Umat Kristen masa awal mengambil alih ungkapan ini, lalu menerapkannya pada berbagai aspek kehidupan Yesus. Padahal Yesus sendiri secara tegas mungkin mulai memakai ungkapan ini baru setelah Ia terpaksa menghadapi pendapat salah orang-orang sezaman-Nya mengenai Mesias.

Imam Besar dan Mahkamah Agama
Jawaban Yesus atas pertanyaan Imam Besar mengenai identitas Yesus (Mesias dan Putra Allah), menimbulkan reaksi dari pihak Imam Besar dan Makamah Agama (=mereka). Reaksi pertama: Imam Besar mengoyakkan pakaiannya. Reaksi kedua: Imam Besar menyatakan bahwa dalam perkara Yesus tidak diperlukan saksi lagi. Reaksi ketiga: Imam Bear menyatakan kepada para anggota Mahkamah Agama bahwa Yesus telah menghujat dan bahwa hujat itu mereka telah dengar. Reaksi keempat: Mahkamah agama mengambil keputusan bahwa Yesus harus dihukum mati.