217. Yesus di hadapan Mahkamah Agama (Mat 26:59-66)

Apakah Engkau Mesias, Anak Allah – 26:63
Pembaca Injil tidak mungkin tahu secara tepat bagaimana ungkapan Mesias dan Anak Allah dipahami pada waktu itu oleh Imam Besar serta para anggota MA. Injil-injil ditulis lama (paling sedikit 40 tahun!) sesudah Yesus diadili. Pada waktu itu para penulis Injil tidak memikirkan kata Mesias dalam arti aslinya. Menurut keyakinan umat Kristen zaman penulisan Injil, Yesus bukan hanya “keturunan Daud yang diurapi Allah” saja. Kata “Mesias” sudah menyatu dengan nama-Nya, menjadi Yesus KRISTUS (=Yesus Mesias). Sama halnya dengan ungkapan “Anak/Putra Allah.” Bagi umat Kristen masa itu, “Putra Allah” searti dengan Yesus yang tidak diperanakkan oleh seorang pria melainkan yang dilahirkan karen Roh Kudus, sehingga Allah benar-benar adalah Bapa-Nya. Menurut Injil Yohanes, “Putra Allah” selalu ada dalam kehadiran Bapa (1:8). Ia malah ada di hadapan Bapa pada saat dunia diciptakan.
Apa yang mau diungkapkan oleh Matius lewat pertanyaan Imam Besar itu? Matius tentu ingat akan pengakuan rasuli, “Sesungguhnya Engkau Anak/Putra Allah” (Mat 14:33), dan akan pengakuan Petrus sendiri, “Engkau adalah Mesias, Anak/Putra Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Apa yang diimani oleh para rasul dan Petrus, tentu saja tidak diimani oleh Imam Besar. Ungkapan “Putra Allah” dalam ucapan Imam Besar berhubungan erat dengan ucapan Yesus mengenai kemampuan-Nya untuk merubuhkan Bait Allah. Jadi, menurut Matius, Yesus memang adalah Mesias rajawi yang penuh kuasa ilahi, dan ia menyuruh Imam Besar menyatakan hal ini di hadapan seluruh MA, biarpun Imam itu sama sekali tidak dapat menerimanya.

Yesus – Mesias
Kata Mesias berasal dari bahasa Aramea mesyiha dan bahasa Ibrani masyiah. Dalam bahasa Yunani, kata ini diterjemahkan khristos, sehingga Yesus disebut Kristus. Kata ini searti dengan “yang diurapi.”
Ada banyak orang yang disebut “diurapi,” baik secara fisik maupun rohani, tetapi paling sering kata ini diterapkan pada para raja Yahudi. Dengan “diurapi (oleh Allah”), raja menjadi semacam wakil Allah bagi rakyatnya. Secara khusus kata ini diterapkan pada keturunan Daud (2Sam 7; Mzm 89; 1Taw 17). Tetapi, pada abad VIII sM ada begitu banyak raja keturunan Daud yang tidak baik, sehingga mulai diyakini bahwa suatu ketika Allah akan bertindak secara khusus: Ia akan membangkitkan seorang keturunan Daud yang layak. Keyakinan ini tampak dalam Yes 7:14-16 dan 9:1 dst. Menurut Yes 11:1 dst, keturunan itu akan menegakkan damai kosmis.
Dalam masa sesudah Pembuangan Babel, habislah sudah dinasti Daud. Maka, muncul macam-macam pemikiran baru sehubungan dengan Mesias yang dinanti-nantikan itu. Dalam masa menjelang kelahiran Yesus, tidak semua orang Yahudi menantikan Mesias, sedangkan mereka yang menantikannya, memahaminya secara berbeda-beda.
Apakah sebelum bangkit, Yesus pernah disebut Mesias? Adalah kenyataan pula bahwa dalam kitab-kitab Injil, Yesus jarang sekali disapa atau diakui sebagai Mesias. Kedua kenyataan ini begitu berbeda, sehingga sulit sekali memahami prosesnya. Tetapi, perlu memperhitungkan kemungkinan bahwa Yesus dihukum mati di salib karena Ia mengklaim diri-Nya sebagai Raja Yahudi. “Raja orang Yahudi” yang tertulis di salib Yesus, bukan suatu pengakuan para pengikut Yesus selama Ia masih berkarya di hadapan umum. Namun, gelar ini pada dasarnya cocok dengan gelar “Mesias.”
Berdasarkan berbagai data Injil yang dengan seksama diteliti oleh para ahli, dapat disimpulkan begini: Sangat masuk di akal bahwa selama Yesus hidup, sejumlah pengikut-Nya memandang-Nya sebagai Mesias, artinya sebagai raja keturunan Daud yang sudah lama dinanti-nantikan, yang akan merajai umat Allah. Dihadapkan pada pertanyaan Imam Besar apakah Ia Mesias, Yesus menjawab secara tidak tegas. Bukan karena Ia menyembunyikan identitas-Nya, melainkan karena Ia tidak dapat menerima sejumlah unsur yang dikaitkan dengan gelar mulia itu, dan juga karena Allah belum menentukan peranan yang akan dimainkan-Nya kelak. Jawaban yang tidak tegas itu menjadi alasan Yesus diserahkan ke tangan orang-orang Roma. Ia diserahkan karena mengaku diri-Nya raja!