216. Yesus di hadapan Mahkamah Agama (Mat 26:59-66)

Imam Besar itu berdiri – 26:62
Baik dalam Injil Matius maupun Markus, berdirinya Imam Besar berperan penting sebagai saat menentukan dalam proses pengadilan Yesus di hadapan MA. Dalam Mrk 14:58 malah ditegaskan bahwa “Imam Besar bangkit berdiri di tengah-tengah sidang.” Jadi, Imam Besar berbicara kepada Yesus atas nama seluruh MA. Peranan kunci Imam Besar ditegaskan pula dalam Injil Yohanes (11:47-53). Tradisi Kristen menyebut beberappa pihak yang terlibat dalam proses pengadilan Yesus (yaitu saksi-saksi, hadirin), namun Imam Besar selalu disebut sebagai lawan utama Yesus. Lain halnya dalam Injil Lukas; di dalamnya peranan Imam Besar sama sekali tidak disinggung!
Namun, apa yang tidak dilakukan oleh Lukas dalam Injilnya, dilakukannya dalam Kisah Para Rasul sehubungan dengan proses pengadilan Stefanus, martir Kristen pertama. Stefanus dituduh begini, “Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus …, sebab kami telah mendengar dia mengatakan bahwa Yesus, orang Nasaret itu akan merubuhkan tempat ini …” (Kis 6:13-14).

Tidakkah Engkau memberikan jawaban – 26:62
Menurut Injil Matius dan Markus, Imam Besar mula-mula bicara tentang saksi-saksi yang melontarkan berbagai ucapan melawan Yesus. Dalam hal ini Mrk lebih tegas dari Mat. Sebab sejak 14:55 ia sudah memberitahukan bahwa MA mencari kesaksian untuk dapat menghukum mati Yesus. Hal yang sama ditegaskannya dalam 14:60 dan 14:64.

Yesus tetap diam – 26:63
Menurut Injil Markus, semua saksi mengemukakan kesaksian-kesaksian palsu dan tidak konsisten. Maka, untuk menyelamatkan “muka” MA, Imam Besar mengajukan pertanyaan, “Tidakkah Engkau memberi jawaban …? Yesus diam, dan dengan demikian Ia menolak apa saja yang dikatakn melawan diri-Nya.
Lain halnya dalam Injil Matius. Sesudah kesaksian palsu, muncul sebuah kesaksian benar, yang memenuhi syarat-syarat hukum. Isi kesaksian itu ialah klaim Yesus atas kuasa-Nya, “Aku dapat merubuhkan Bait Allah … “ Maka, Imam Besar menanyakan Yesus apakah Ia membenarkan klaim itu atau tidak.
Mengapa Yesus tidak menjawab? Pertanyaan ini menarik perhatian banyak orang. Timbul kesan bahwa Yesus sudah menerima nasib-Nya; Ia tahu bahwa apa saja yang akan dikatakan-Nya kepada orang-orang yang begitu membenci-Nya, akan sia-sia saja.
Tetapi banyak penafsir menghubungkan bungkamnya Yesus dengan apa yang tertulis daam kitab Mazmur: Orang benar memang tidak membuka mulutnya untuk membela diri terhadap para musuhnya. “Orang-orang yang ingin mencabut nyawaku, memasang jerat, orang-orang yang ingin mencabut nyawaku, memasang jerat, orang-orang yang mengkhtiarkan celakaku, memikirkan kehancuran … Tetapi aku ini seperti orang tuli, aku tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya, ya, aku ini seperti orang yang tidak mendengar, yang tidak ada bantahan dalam mulutnya” (Mzm 38:13-15). Dalam Mzm 39:10 pemazmur berdoa, “Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak.” Bagaimanapun juga, bungkamnya Yesus dihadapan MA telah menjadi teladan bagi banyak orang. Dalam surat Perus tertulis begini, “Kristus telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1Ptr 2:21).

Demi Allah yang hidup – 26:63
Dengan mengucapkan rumusan Demi Allah yang hidup, Imam Besar menuntut jawaban resmi Yesus. Mungkin saja rumusan itu sudah baku dan dipakai sebagai ganti sumpah, justru karena dalam rumusan itu muncul nama Allah. Ungkapan Allah yang hidup sudah dikenal dalam PL (mis Ul 5:26; Yos 3:10) dan dipakai sebagai sejenis sumpah; Allah yang Mahatahu dan Hakim Agung akan bertindak sendiri terhadap orang yang bersumpah palsu.
Menurut Injil Matius, Yesus menolak kebiasaan untuk bersumpah, sehingga Ia mengajar murid-murid-Nya begini, “Aku berkata kepadamu: Jangan sekali-kali bersumpah … Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya; jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:34-37). Ironisnya, pada akhir hidup-Nya, Yesus diperintahkan oleh Imam Besar untuk memberi jawaban di bawah sumpah. Ia dipaksa menyatakan secara resmi bahwa Ia adalah Mesias, Putra Alah. Pernyataan semacam ini tentang Yesus pernah diberikan oleh Petrus, murid pilihan Yesus (Mat 16:16). Tetapi tidak lama kemudian Petrus “mengutuk dan bersumpah: Aku tidak kenal orang itu!” (Mat 26:74). Petrus tampaknya suka bersumpah asal-asalan!