215. Yesus di hadapan Mahkamah Agama (Mat 26:59-66)

Aku dapat meruntuhkan Bait Allah – 26:61
Dalam kesaksian yang diberikan oleh dua orang ini terasa nada permusuhan. Namun, tidak ada petunjuk apa pun bahwa kesaksian mereka palsu! Bagaimana bunyi kesaksian kedua orang itu? “Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah.” Lain sedikit bunyinya dalam Injil Markus: “Aku akan (bukan: dapat) merubuhkan … “ (14:58).
Dengan berkata, “Aku dapat,” Yesus menyatakan kuasa-Nya. Matius memang biasa menggambarkan Yesus sebagai orang berkuasa penuh, hampir tidak terbatas. Markus, sebaliknya, biasa agak “membatasi” kuasa Yesus. Contohnya, yang cukup banyak jumlahnya, dapat dibaca dalam Mrk 1:45; 3:20; 6:5; 7:24; 9:22-23. Karena selanjutnya Mat menggunakan ungkapan Bait Allah, maka ia sekali lagi menegaskan kuasa Yesus. Mrk bicara tentang Bait Suci buatan manusia ini. Dengan mendengar kesaksian ini, para anggota MA kiranya langsung menarik kesimpulan bahwa Yesus adalah musuh Allah, sebab Ia memaklumkan diri-Nya sebagai Allah sendiri.

Membangunnya kembali dalam tiga hari – 26:61
Namun, Yesus tidak pernah berkata, “Aku dapat merubuhkah Bait Allah” saja. Ucapan-Nya masih mencakup bagian kedua, yaitu “dan (Aku dapat) membangunnya kembali dalam tiga hari.” Mendengar bagian kedua ucapan Yesus ini, orang beriman tidak dapat menuduh Yesus sebagai penghujat ataupun musuh Allah. Yesus tidak mau merubuhkan apa-apa demi merubuhkannya saja. Ia datang untuk membarui apa yang salah di bumi. Dengan cara ini, Matius menggambarkan Yesus sebagai orang yang berpikiran sama dengan Allah yang suatu ketika akan menggantikan rumah (suci) biasa dengan suatu “bangunan” yang benar-benar ilahi.
Sebelumnya, dalam 12:6, Matius sudah menggambarkan Yesus menurut pola ini, “Di  sini ada yang melebihi Bait Allah!” Justru karena klaim yang berani inilah, Imam Besar akan menuntut pengakuan Yesus apakah Ia memang Mesias, Putra Allah.
Jadi, kesaksian yang dikemukakan oleh dua orang di hadapan MA, memang benar (menurut Injil Matius). Yesus memang diberi kuasa untuk menginaugurasikan Kerjaan Allah sejati.

Sejarah ucapan Yesus mengenai Bait Allah
Ucapan Yesus mengenai Bait Allah yang dapat dirubuhkan-Nya, lalu dapat dibangun-Nya kembali dalam tiga hari, pasti mempunyai “sejarah” perkembangannya. Namun, “sejarah” itu sulit dilacak berdasarkan keempat Injil.
Boleh diyakini, bahwa selama berkarya di hadapan umum, Yesus pernah memperingatkan para pendengar-Nya bahwa Bait Suci di Yerusalem akan dirubuhkan dan diganti dengan yang lain. Peringatan itu kiranya serupa dengan yang pernah dibuat oleh Nabi Yeremia, tetapi bernada lebih tajam. Sebab kedatangan Kerajaan Allah dalam diri Yesus, telah mempertajam segala sesuatu. Pimpinan agama Yahudi selalu berprasangka buruk mengenai apa yang diharapkan masyarakat di luar Yerusalem yang pada umumnya sibuk sebagai petani. Masyarakat itu menantikan perubahan situasi, sedangkan pimpinan agama mau mempertahankan apa yang sudah mereka kuasai. Maka, dengan bicara tentang kemampuan mendirikan Bait Allah baru, “dalam tiga hari,” Yesus tentu jadi sasaran cemoohan tanpa habis-habisnya, tetapi dari lain pihak, justru karena bicara-Nya demikian, Ia semakin ditakuti.
Biarpun Yesus akhirnya bangkit dari alamt maut, ucapan-Nya tentang “merubuhkan Bait Allah,” tidak menjadi kenyataan langsung. Maka, hal ini menjadi bahan pemikiran umat Kristen masa awal: Apa gerangan yang dimaksudkan Yesus ketika dulu Ia bicara demikian? Sambil merenung, umat Kristen masa awal kiranya tetap yakin pula bahwa Bait Suci di Yerusalem  suatu ketika akan mengalami kehancuran. Sebab pada saat Yesus wafat, muncul beberapa tanda mendekatnya “akhir”: Tabir Bait Suci terbelah dua, terjadi gempa bumi, kuburan-kuburan terbuka, dan banyak orang kudus (yang telah meninggal) bangkit (Mat 27:51-52). Penulis Injil Markus lebih tegas lagi pendiriannya: Ia memandang terbelahnya tirai Bait Suci sebagai saat berakhirnya peranan Bait Suci sebagai sarana penyelamatan. Pada saat Yesus wafat, Bait Suci tetap berdiri, tetapi bukan lagi sebagai tempat yang benar-benar kudus, Allah telah meninggalkannya
Sejak membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah berdiam sepenuh-penuhnya dalam diri Yesus-manusia dan dalam diri semua orang yang mengikuti-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Yesus (dan Gereja-Nya) adalah Bait Suci baru dan kekal itu.
Dalam perkembangan selanjutnya, Bait Suci di Yerusalem akhirnya dihancurkan oleh tentara Roma. Hal itu terjadi pada tahun 70 Masehi. Pada waktu itu orang-orang Kristen masa awal, yang belum meyakini kebenaran ucapan Yesus tentang rubuhnya Bait Suci, akhirnya harus meyakininya juga. Allah adalah hakim yang tidak pernah tergesa-gesa dalam tindakan-Nya. Tetapi, Ia tetap hakim.