Senin, 07 Pebruari 2022

C-072 – 1Raj. 8:1-7.9-13 – “Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan Tuhan dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dai tanah Mesir” (ay 9)

TEMPAT TIDAK SESUAI UNTUK MENGHAYATI PENGALAMAN PADANG GURUN

  1. Pembangunan Bait Allah di kota Yerusalem baru saja selesai. Oleh karena itu raja Salomo bermaksud mentahbiskannya.
  2. Penyusun, yang mengarang kisah ini dalam abad ke-6 sM, berpendapat, bahwa berkat pentahbisan itu, Bait Allah menjadi sebuah tugu, yang terus-menerus akan mengingatkan bangsa yahudi akan pengalaman dan perjanjiannya di padang gurun. Pendapat pengarah kitab ini dapat diamati dalam beberapa hal. Pertama-tama: Bait Allah ditahbiskan pada hari raya Pondok Daud (ay 2), yang dalam masa kehidupan penyusun kisah ini dirayakan sebagai pesta peringatan akan masa tinggalnya bangsa Isael di padang gurun. Kedua: Tabut perjanjian dipindahkan secara meriah (ay 3.9). Ketiga: Allah menampakkan diri dalam awan (ay 10), hampir sama seperti di masa dahulu, di gunung Sinai.
  3. Maka dapat disimpulkan, bahwa Bait Allah di Yerusalem melembagakan peristiwa di gunung Sinai, tetapi tidak merugikannya. Para nabi justru akan menilai ibadat dalam Bait Allah itu berdasarkan kesetiaan bangsa Israel pada perjanjian. Tetapi sukar sekali bagi manusia untuk memelihara sikap rohani seorang pengembara, bila ia sudah mulai menikmati kemewahan, bila tanahnya yang subur menghasilkan panen berlimpah dan perdagangan membawa keuntungan baginya!

Mrk. 6:53-56 – “Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh” (ay 56)