206. Yesus ditangkap (Mat 26:47-50)

Hai teman – 26:50
Yesus sudah tahu bahwa Yudas akan mengkhianati-Nya (26:25). Jadi, pada waktu Ia menyapa Yudas sebagai teman, kata itu jelas ironis. Yesus ditangkap (Mat 26:47-50) tetapi, dengan nada apa Yesus mengucapkannya? Apakah Yesus memang biasa membalas salam murid-Nya dengan kata teman? Dalam seluruh Injil tidak ada satu bukti pun yang dapat membenarkan dugaan ini.
Dua kali dalam Injil Matius kata teman yang sama muncul dalam konteks perumpamaan. Dalam Mat 20:1-16 dapat dibaca perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur. Mereka yang bekerja sepanjang hari ternyata diberi upah yang sama seperti mereka yang bekerja beberapa saat saja. Maka, mereka bersungut-sungut. Kepada salah seorang yang bersungut-sungut itu tuan berkata begini, “Saudara (aslinya: teman), aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu” (20:13). Dalam Mat 22:12, raja menegur seorang tamu yang berani masuk ke dalam istananya dengan tidak berpakaian pesta, “Hai saudara (aslinya: teman), bagaimana engkau masuk ke mari …?” Tuan dan raja dari kedua perumpamaan ini berbuat baik. Perbuatan yang baik itu seharusnya ditanggapi dengan perbuatan baik pula. Nyatanya, tidak terjadi demikian. Karena sedihnya, tuan dan raja yang baik itu tetap menyapa, “Hari teman,” padahal orang yang dihadapinya bukan teman lagi. Boleh diduga bahwa Yesus pun menegur Yudas dengan rasa sedih yang serupa. Dalam kitab Sirakh dikatakan, “Bukankah suatu kesedihan yang mematikan, kalau seorang kawan atau teman berubah menjadi musuh?” (37:2).

Untuk itukah engkau datang? – 26:50
Kata-kata Yesus ini dapat dan nyata-nyata diartikan dengan berbagai cara, antara lain sebagai pernyataan, “Engkau memang datang untuk itu!” Arti ini kiranya paling meyakinkan. Yesus menguasai keadaan. Yesus tahu untuk apa Yudas datang, dan tidak ragu-ragu menyatakannya.

Maka majulah mereka – 26:50
Rombongan yang tadi berdiri, mulai bergerak maju. Adegan ini mudah dibayangkan …. Mula-mula Yudas maju mencium Yesus. Lalu majulah rombongan besar yang akhirnya menangkap Yesus. Semua pelaku kisah  ini berperan. Sejak saat itu, Yudas mulai bergerak “di luar” persekutuan dengan Yesus. Ia sudah memilih jalannya sendiri. Ia tidak akan mampu kembali lagi.