204. Yesus berdoa di Getsemani (Mat 26:36-46)

Masihkah kamu tidur dan beristirahat? – 26:45
“Tidurlah sekarang dan istirahatlah.” Para ahli tidak sependapat dalam mengartikan ucapan Yesus ini. Sebab ada yang membacanya sebagai pernyataan, “Kalian tidur … dan beristirahat,” atau sebagai pertanyaan bernada sindiran, “Masihkah kalian tidur … dan beristirahat?” atau sebagai perintah, “Tidurlah  … dan istirahatlah!” Karena dalam ayat sejajar dalam Luk  22:46 muncul pertanyaan, “Mengapa kamu tidur?”, maka teks Matius ini pun kiranya lebih tepat dibaca sebagai pertanyaan, bukan sebagai perintah.

Lihat, saatnya sudah tiba – 26:45
Kata lihat (Y: idou) muncul dalam teks Mat ini sebanyak tiga kali: Dalam ayat ini, dalam ayat 46, dan dalam ayat 47. Dalam terjemahan Indonesia, kata ini dimunculkan dalam ayat 45 saja, sedangkan dalam ayat 46-47 dihilangkan. Tetapi, kata singkat itu dipakai oleh Mat dengan tujuan khusus: Ia ingin menegaskan betapa dekatnya saat yang harus dihadapi Yesus. Maka, ia memakai kata idou, artinya’ perhatikan, camkanlah!’ Saat itu baginya sama dengan datangnya Yudas yang akan mengakibatkan Yesus ditahan.

Anak Manusia diserahkan ke tangan orang berdosa – 26:45
Menarik sekali bahwa setelah berdoa kepada Bapa, Yesus tidak ragu-ragu menyebut diri-Nya Anak Manusia. Ia akan melakukan hal yang sama pada saat Ia harus menghadapi Mahkamah Agama. Setelah ditanya, apakah Ia Anak Allah, Yesus mulai bicara tentang diri-Nya sebagai Anak Manusia (Mat 26:63-64). Jadi, menurut Matius, Yesus memang “Anak Allah” dan sekaligus  “Anak Manusia.”
Untuk terakhir kalinya, Yesus memakai gelar Anak Manusia pada waktu Perjamuan Terakhir. Pada waktu itu Ia memperingatkan, “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang tertulis tentang Dia; akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan” (Mat 26:24). Mengapa Yesus memakai gelar ini sesudah Ia berdoa kepada Bapa, agar cawan itu dijauhkan daripada-Nya? Sebab Ia memang harus menghadap kematian. Maka, sama seperti dulu, ketika Ia menubuatkan kematian-Nya (Mat 17:22), demikian pula sekarang. Ia mulai bicara lagi tentang diri-Nya sebagai Anak Manusia.
Yesus akan diserahkan ke tangan orang-orang berdosa, tidak terlalu jelas. Tentu saja Yudas yang mengkhianati Yesus. Tetapi, bukan dia saja! Sebab Yesus akhirnya diserahkan kepada para imam kepala, kepada Pilatus, kepada para prajurit … Dengan menyerahkan diri kepada Allah Bapa (“Jadilah kehendak-Mu”), Yesus tidak membiarkan diri-Nya dikuasai oeh kegelapan dosa. Itulah yang dinantikan Bapa dari pada-Nya.

Bangunlah – 26:46
Kisah tentang Getsemani ini ditutup dengan kata-kata Yesus, “Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.” Dengan berkata, Bangunlah!, Yesus minta kesediaan para murid-Nya untuk bersama-sama menyambut si pengkhianat. Yesus tetap menghargai murid-murid-Nya. Sebab mereka bukan di pihak pengkhianat ataupun orang-orang berdosa yang sebentar lagi akan menangkap-Nya.

Marilah kita pergi – 26:46
Murid-murid dipanggil oleh Yesus untuk kelak memberitakan Kabar Baik. Tetapi, mereka harus mengerti bahwa pemberitaan Kabar Baik tidak terpisahkan dari “Minum cawan sengsara.” Justru karena itu Yesus berkata kepada mereka, “Mari kita pergi!” Kabar Baik adalah urusan Yesus bersama murid-murid-Nya. Hanya orang yang menyerahkan dirinya secara total kepada Yesus, dapat benar-benar mengikuti-Nya, lalu memberitakan-Nya.

Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat – 26:46
Pada saat mengucapkan kata-kata ini, Yesus sadar bahwa sebentar lagi Ia harus menghadapi sengsara dan kematian-Nya tanpa ditemani seorang pun. Yesus sadar akan kesendirian-Nya. Pada waktu Ia berdoa, Ia sendirian pula, sebab murid-murid-Nya tidur pada waktu itu. Mereka memang tidak siap menghadapi cobaan berat. Tetapi, Ia sada juga bahwa Allah pun tidak akan membantu Dia secara kelihatan. Sebentar lagi Yesus akan diserahkan, tetapi sesungguhnya Ia sudah diserahkan oleh Bapa, sebab Ia sendiri telah menyerahkan diri-Nya sebagai Anak Manusia yang taat.