201. Yesus berdoa di Getsemani (Mat 26:36-46)

Maju sedikit – 26:39
Setelah menyatakan rasa tertekannya, Yesus maju sedikit, artinya memisahkan diri dari ketiga rasul-Nya. Dalam PL, ada beberapa contoh bahwa demi berdoa atau menjalin kontak dengan Allah, orang memisahkan diri dari orang lain (Abraham, Kej 22:5; Musa, Kel 19:17; 24:2.14; Harun, Im 16:17).

Sujud dan berdoa – 26:39
Waktu berdoa, sejak dahulu kala manusia biasa bersujud. Inilah tanda hormat yang sangat mendalam di hadapan kehadiran Allah. Abraham sujud sampai ke tanah, ketika ia dikunjungi tiga orang misterius (Kej 18:2). Lot pun “sujud dengan mukanya sampai ke tanah” di hadapan kedua malaikat yang tiba di Sodom (Kej 19:1).

Jikalau sekiranya mungkin – 26:39
Doa yang diucapkan oleh Yesus mengherankan sejumlah orang. Bagaimana mungkin Yesus minta, supaya cawan sengsara-Nya berlalu, padahal sebelumnya Ia berkali-kali menegaskan bahwa sengsara dan kematian-Nya adalah keharusan? Rasa heran ini bersumberkan salah paham mengenai relasi antara doa dan kehendak ilahi.
Menurut Kitab Suci sendiri, meminta Allah agar Ia mengubah rencana-Nya bukan sesuatu yang salah. Musa mengantara bagi umat Israel sesudah peristiwa lembu emas (Kel 32:10-14). Hizkia berdoa supaya Allah mengubah ketupusan-Nya mengenai kematiannya (2Raj 20:1-6).
Tetapi contoh aksi Raja Daud paling tepat sebagai ilustrasi doa Yesus di Getsemani. Setelah melintasi Kidron, Daud menyuruh Zadok membawa Tabut Perjanjian kembali ke Yerusalem. Lalu ia berkata, “Jika aku mendapat kasih karunia di mata Tuhan,  maka Ia akan mengizinkan aku kembali ke (Yerusalem), sehingga aku akan melihatnya lagi … Tetapi, jika Ia berfirman begini, ‘Aku tidak berkenan kepadamu!’ maka aku bersedia biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya” (2Sam 15:25-26). Dalam keadaan tertentu, doa seperti yang dimaksudkan di sini, bukan pemberontakan melainkan justru ungkapan pengharapan akan kasih dan keadilan. Allah mau mengabulkan doa yang demikian, bila itu sesuai dengan penyelenggaraan-Nya yang menyeluruh.

Cawan – 26:39
Yesus berdoa, “Biarlah cawan itu lalu daripada-Ku.” Kata cawan dalam PL hampir selalu harus diartikan sebagai murka Allah ataupun hukuman yang harus ditanggung manusia. Tetapi, dalam doa Yesus ini, cawan tidak mengacu kepada hukuman. Menurut Mrk 10:38-39, Yesus pernah menanyakan Yohanes dan Yakobus apakah mereka sanggup “meminum cawan” yang harus diminum-Nya sendiri. Setelah mereka menjawab, “Sanggup!”, Yesus langsung menyatakan bahwa cawan itu memang akan diminum oleh mereka. Sulit diterima bahwa Yohanes dan Yakobus akan meminumnya dalam rangka suatu hukuman!
Berdasarkan analisis ini dapat disimpulkan bahwa kata cawan dalam ayat ini mengacu kepada sengsara yang dalam kasus Yesus akan memuncak dalam kematian sebagai kriminalis. Cawan ini dapat diartikan pula sebagai lambang peperangan dahsyat yang timbl pada saa si jahat dikalahkan oleh Kerajaan Allah dalam diri Yesus. Bagaimana pun juga, Yesus sebagai manusia harus melewati proses “belajar” untuk taat lewat derita! Kata penulis Ibr 5:8, “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya.”

Seperti yang Engkau kehendaki – 26:39
Inilah kata-kata penutup doa Yesus. Yesus tetap memprioritaskan kehendak Allah! Dalam 26:42, penegasan Yesus malah lebih jelas lagi, “Jadilah kehendak-Mu!” Dalam doa Yesus di Getsemani ada satu unsur yang sangat menarik” Menjelang wafatnya, Yesus pada dasarnya berdoa dengan cara sama seperti selama Ia berkarya di hadapan umum (dalam doa “Bapa Kami”). Bukankah ini suatu petunjuk bahwa manusia harus berdoa pada saat kematian dengan cara sama seperti ia biasa berdoa selama hidupnya? Bila sepanjang hidup, dari kedalaman hatinya manusia menyapa Allah sebagai Bapa, tidakkah ia akan taat kepada-Nya pada saat kematian pula? Bila sepanjang hidup, dengan hati yang tulus manusia berdoa, “Jadilah kehendak-Mu!” tidakkah ia akan mampu menyerahkan dirinya kepada Allah pada saat terakhir?