199. Yesus berdoa di Getsemani (Mat 26:36-46)

(bacalah dengan cermat teks ini terlebih dahulu!

Kisah-kisah berbeda-beda
Kisah Lukas tentang doa Yesus di Getsemani (22:39-46) lebih singkat daripada kisah Mark (14:32-42) dan Mat (26:36-46). Dalam Injil Yohanes hanya ada berita sekilas, yaitu, “Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang Sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya” (Yoh 18:1). Matius dan Markus menceritakan doa Yesus di Getsemani secara cukup rinci, lagi pula dramatis. Pusat kisah mereka ialah doa Yesus. Lewat doa itu diperkenalkan reaksi Yesus terhadap nasib yang menantikan-Nya serta reaksi murid-murid-Nya.

Yesus bersama murid-murid-Nya – 26:36
Dalam bagian pertama kisah ini, Yesus melakukan tiga “gerakan:” (a) Ia sampai ke Getsemani bersama murid-murid-Nya; (b) Ia membawa tiga murid-Nya; (c) Ia maju untuk berdoa. Dalam bagian kedua kisah ini, Yesus kembali kepada murid-murid-Nya sebanyak tiga kali juga. Murid-murid itu ternyata tetap di samping Yesus, walaupun Ia sudah menubuatkan bahwa mereka akan terguncang. Mereka masih tetap solider dengan Yesus ketika Ia berdoa sendiri.
Dalam ayat 37, Matius menyebut nama Petrus, lalu secara umum “kedua anak Zebedeus.” Dalam kisah perubahan rupa Yesus (Mat 17:1), masing-masing murid itu disebut dengan nama lengkapnya, yaitu: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Tidak lama setelah berdoa, (ay 40-41) kisah ini), Yesus akan bicara kepada Petrus, tetapi bicara-Nya sekaligus tertuju kepada Yakobus dan Yohanes pula. Sebab Ia berkata, “Tidakkah kalian sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”

Suatu tempat – 26:36
Setelah meninggalkan ruangan Perjamuan Terakhir, Yesus pergi ke Bukit Zaitun, lalu ke Getsemani. Umumnya diduga bahwa Yesus sampai ke situ melalui area Bait Suci lewat gerbangnya di sebelah timur ataupun menuruni bukit yang ada di sebelah selatan area Bait Suci sambil melewati beberapa anak tangga yang semasa penjajahan Roma terdapat di sebelah utara Gereja Santo Petrus . Namun, semua dugaan ini tidak dapat dibuktikan.
Dalam Mat 26:30 sudah dikatakan bahwa sehabis perjamuan, Yesus pergi bersama murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun. Kini Matius menegaskan bahwa di Bukit Zaitun itu ada suatu tempat yang bernama Getsemani. Nama ini dapat dikaitkan dengan kata Ibrani/Aramea Gatsyemani yang berarti “alat pemeras minyak zaitun.”  Nama ini tidak disebut dalam Injil Lukas, sebab Lukas menghindari semua kata Semit yang bernada eksotis.
Menurut Ianjil Matius dan Markus, Yesus berdoa di Getsemani, lalu ditangkap di situ pula. Tetapi, berita ini pun tidak dapat dipastikan. Dalam Injil Yohanes sama sekali tidak disebut nama tempat Yesus ditangkap. Walaupun berita para penulis Injil tidak terlalu jelas, tetap dapat disimpulkan secara pasti, bahwa pada malam hari sebelum ditangkap, Yesus berdoa.
Tanpa menyebut nama Getsemani, Yohanes melaporkan bahwa Yesus masuk ke sebuah taman. Kata Yunani “kepos”  mengacu kepada kebun pada umumnya (kebun sayur-sayuran, bunga, pohon).
Dapat diduga bahwa di Bukit Zaitun ada sebidang tanah atau kebun/taman dengan pohon-pohon zaitun dan alat pemeras minyak zaitun yang bernama Getsemani. Menurut Yosefus Flavius, penulis Yahudi, semua pohon zaitun di sebelah timur kota Yerusalem ditebang habis semasa kota Yerusalem dikepung oleh tentara Roma pada tahun 70 M. Justru karena itu tidak dapat dipastikan di mana sesungguhnya terletak Getsemani, tempat Yesus berdoa sebelum ditangkap. Tetapi, sejak abad IV umat Kristen yakin bahwa Getsemani itu terletak di tempat pohon-pohon zaitun tumbuh dengan subur dan di mana terdapat sebuah informasi cadas yang dulu kiranya dipakai sebagai tempat alat pemeras minyak zaitun. Tempat itu sampai sekarang dihormati sebagai tempat Yesus berdoa.

Duduklah di sini – 26:36
Dengan berkata demikian, Yesus tidak menyuruh mereka duduk melainkan “tinggal/menunggu” di tempat tertentu. Perintah Yesus ini dapat dihubungkan dengan ucapan Abraham kepada para hambanya ketika ia mempersiapkan diri untuk mengorbankan Ishak. “Tinggallah kalian di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepada kalian” (Kej 22:5).

Aku pergi ke sana untuk berdoa – 26:36
Doa adalah tujuan utama Yesus datang ke Getsemani.

Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya – 26:37
Timbul pertanyaan, apakah Yesus menjauh dari ketiga rasul ini dan murid-murid lain? Pertanyaan ini memang tidak dapat dijawab secara pasti, namun diduga bahwa ketiga murid pilihan Yesus itu agak terpisah dari murid-murid lain supaya agak dekat pada Yesus yang berdoa.
Petrus, Yakobus dan Yohanes berperan penting dalam kisah ini. Kisah tentang doa Yesus di Getsemani sering dibanding-bandingkan dengan kisah perubahan Yesus di gunung (Mat 17:1-9). Dalam  kisah tentang Getsemani, Yesus sujud-tersungkur (ay 39) dan hal yang sama dilakukan oleh ketiga murid-Nya pada saat Yesus berubah rupa (Mat 17:6). Namun, antara kedua kisah ini terdapat satu perbedaan besar: Pada waktu Yesus berubah rupa, ketiga murid pilihan-Nya menerima wahyu ilahi tentang identitas Yesus; pada waktu Yesus berdoa di Getsemai, ketiga murid itu menjadi saksi kesedihan Yesus. Dalam kisah pembangkitan putri Yairus dan dalam kisah perubahan rupa Yesus, ketiga murid menyaksikan kuasa Yesus. Tetapi, di Getsemani, mereka menyaksikan kelemahan-Nya. Dalam kisah yang mendahului kisah ini, Yesus bernubuat bahwa semua murid-Nya akan terguncang dan tercerai berai. Dalam kisah ini suasananya berubah. Yesus malah minta dukungan doa murid-murid-Nya yang sebentar lagi akan tercerai berai itu!

Ia merasa sedih dan gelisah – 26:37
Dalam PL ada cukup banyak ayat yang menggambarkan derita dan kesedihan orang benar yang minta pertolongan Allah, antara lain dalam Mzm 22. Tetapi, mengapa Yesus begitu sedih dan gelisah? Menurut Markus, Yesus “sangat susah dan gelisah” (Mrk  14:33). Teringatlah pembaca akan Mzm 55:5, “Hatiku gelisah, kengerian maut telah menimpa aku. Aku dirundung takut dan gentar, perasaan seram meliputi aku!” Tetapi Yesus …, mengapa?
Para pemikir menjawab pertanyaan ini dengan berbagai cara, antara lain: (a) Yesus tahu apa yang akan terjadi dan semuanya itu tampak di hadapan-Nya secara mengerikan; (b) Yesus sedih sekali memikirkan bahwa sebentar lagi Ia akan ditinggalkan semua orang yang selama ini begitu dengat dengan-Nyal (c) Yesus memikirkan kematian-Nya sebagai “orang terkutuk” (Gal 3:13; (d) Yesus tidak merasa cukup baik, padahal Ia mahabaik; (e) Yesus tidak pasti mengenai nilai dan makna kematian-Nya.