197. Yesus ke Bukit Zaitun bersama murid-murid-Nya (Mat 26:30-35)

Kisah peralihan
Dalam masing-masing kitab Injil, cerita tentang kepergian Yesus ke Bukit Zaitun berperan sebagai kisah peralihan dari perjamuan Paskah yang diadakan di sebuah rumah di Yerusalem ke daerah di sebelah timur kota (lewat Kidron), yaitu ke Bukit Zaitun, ke tempat yang bernama Getsemani.

Sesudah menyanyikan nyanyian pujian – 26:30
Tidak jelas, apakah Yesus bersama murid-murid-Nya mengakhiri perjamuan Paskah dengan satu atau lebih nyanyian-pujian. Nyanyian itu tentu saja bertujuan memuji-muji Allah, tetapi belum tentu sama dengan mazmur-mazmur, walaupun cukup banyak ahli berpendapat demikian. Pada akhir perjamuan Paskah biasanya dinyanyikan Mzm 115-118. Namun, lebih tepat kiranya pendapat bahwa perjamuan suci ditutup oleh kelompok murid Yesus dengan lagu keagamaan yang menunjang suasana doa.

Yesus dan murid-murid-Nya – 26:30
Seusai perjamuan, Yesus pergi  ke Bukit Zaitun bersama murid-murid-Nya. Hal ini dengan jelas dikatakan dalam kisah serupa oleh Lukas dan Yohanes, dan secara tidak langsung oleh Matius dan Markus. Siapa murid-murid itu? Kedua belas rasul, sebagaimana dapat disimpulkan dari Mat 26:20. Tetapi, Yudas kiranya tidak ikut dalam rombongan itu.

Bukit Zaitun – 26:30
Bukit Zaitun terletak di sebelah timur kota Yerusalem. Untuk sampai ke situ, Yesus harus menyeberangi Lembah Kidron.
Dalam PL, Bukit Zaitun dengan paling jelas disebut dalam Za 14:4 saja. Dikatakan bahwa pada Hari Tuhan, “kaki Tuhan akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar.”
Tetapi, dalam teks Injil ini Bukit Zaitun kiranya perlu dikaitkan dengan teks dari 2Sam 15:30. Absalom memimpin pemberontakan melawan Raja Daud. Absalom dibantu oleh Ahitofel, penasihat andalan Daud yang ternyata mengkhianatinya. Setelah mengetahui hal itu, Daud “mendaki bukit Zaitun sambil menangis,” lalu berdoa kepada Allah. Yesus juga dikhianati oleh seorang murid pilihan-Nya sendiri, sehingga Ia pun pergi ke Bukit Zaitun untuk berdoa.
Menarik untuk dicatat bahwa menurut Mat 27:5, Yudas menggantung diri, dan hal yang sama dikatakan dalam 2Sam 17:23 tentang Ahitofel. Dalam seluruh Kitab Suci hanya dua orang inilah yang “menggantung diri.”

Akan terguncang imanmu – 26:31
Setelah meninggalkan ruangan perjamuan, Yesus mengucapkan semacam nubuat sehubungan dengan rasul-rasul-Nya. Nubuat ini berpusatkan keguncangan iman karena Yesus. Dikatakan-Nya bahwa keguncangan itu akan terjadi “malam ini.” Penegasan yang sama terulang dalam ayat 34: Pada “malam ini” Petrus akan menyangkal Yesus.
Dalam arti umum, kata Yunani skandalizo yang muncul di sini, berarti ‘tersandung, jatuh,” lalu “berdosa,” bahkan “kehilangan iman.” Yesus mengkonkretkan “kehilangan iman” itu sebagai tercerai-berainya kawanan domba.
Pada saat Yesus ditangkap, semua murid-Nya melarikan diri. Dan inilah inti “skandal” yang disebut oleh Yesus. Dalam pandangan Kristen, pelarian murid-murid Yesus sama dengan mengkhianati-Nya.

Aku akan membunuh gembala – 26:31
Tema “skandal” atau keguncangan iman ini disusul dengan sebuah kutipan dari kitab Za 13:7. Kutipan ini mengungkapkan pemikiran Matius tentang Yesus. Dia seorang gembala yang sungguh prihatin terhadap nasib domba-domba gembalaan-Nya. Tetapi, setelah Ia “terpukul,” dalam arti dibunuh, Ia tidak mampu memelihara domba-domba-Nya lagi, sehingga kawanan domba itu tercerai berai. Mereka tercerai berai sebab telah melarikan diri dari Dia. Akibatnya, mereka tidak kompak lagi di antara mereka sendiri pula. Mereka bukan satu kawanan lagi!
Kata-kata yang dikutip dari PL ini diucapkan oleh Allah sendiri. Artinya: Dialah yang akan “membunuh” gembala itu.Kematian Yesus terjadi sesuai dengan rencana Allah. Manusia yang selalu berpikir bahwa keselamatan searti dengan bebas dari derita dan kemalangan, sungguh tidak mungkin memahami rencana Allah itu.