196. Kisah Sengsara Yesus Kristus (Mat 26:30-27:66) – 3/3

Lanjutan Pengantar

Era baru
Markus memanfaatkan Kisah Sengsara Yesus untuk menonjolkan motif mendekatnya era penyelamatan. Dalam era baru itu, Israel tidak akan berperan lagi.
Matius juga menonjolkan gagasan ini, tetapi dengan cara lain. Menurut dia, era itu tiba pada saat Yesus wafat. Sebab langsung sesudahnya, orang-orang mati bangkit dari kuburnya. Matius lebih jelas menggabungkan kematian Yesus dengan kebangkitan, sebab orang-orang mati – sama seperti Kristus/Mesias – bangkit untuk hidup secara baru.
Berhubungan dengan gagasan ini dalam Injil Matius muncul suatu tambahan: Intisari era penyelamatan baru ialah kekuasaan Yesus yang mutlak di bumi maupun di surga. Murid-murid-Nya akan ikut serta dalam kuasa tersebut melalui misi yang bertujuan menjadikan segala bangsa murid Yesus (Mat 28:18-20). Demikianlah bayangan Matius tentang Gereja yang tumbuh dari kematian dan kebangkitan Yesus.

Gereja Yesus Kristus
Gereja Yesus Kristus (Mat 16:18) ialah Israel yang baru dan sejati. Israel lama telah menolak Yesus. Pimpinan agama Yahudi telah menjatuhkan hukuman mati atas Yesus (Mat 26:66). Namun, seluruh rakyat ikut bersalah atas keputusan itu (Mat 27:20.22.23). Tanggungjawab kolektif itu mencakup pula anak-anak.
Tidak mustahil bahwa Matius memandang penghancuran Yerusalem oleh pasukan Romawi (thn 70) sebagai penggenapan keputusan Allah.
Kuasa Yesus yang ditinggikan sebagai Anak Manusia, secara khusus dialami oleh Mahkamah Agama Yahudi (Mat 26:64). Para anggotanya mencari saksi-saksi palsu, lalu menghina Yesus dan bersama dengan rakyat mengambil tanggung jawab atas kematian Yesus. Demi menghancurkan Yesus, mereka tidak peduli haram-halalnya cara. Mereka melanggar hukum secara nyata. Pada hari Sabat pun mereka menempatkan para penjaga di sisi makam Yesus (Mat 27:63), padahal mereka begitu bersemangat dalam soal ‘melindungi kesucian’ hari itu.
Cerita-cerita kecil itu menampakkan kecenderungan kuat Matius untuk mengkritik Yudaisme. Tetapi yang lebih penting ialah bahwa melalu cerita-cerita itu tampak konsep teologis Matius. Bagi dia, Israel adalah kebalikan Gereja. Semuanya yang terjadi adalah penggenapan Kitab Suci yang tidak dibaca semestinya oleh pimpinan agama Yahudi.
Sesudah Yesus wafat dan bangkit, bangsa Israel tidak berefleksi, tidak bertobat. Bangsa itu tetap menolak Yesus dan tidak mau percaya. Mereka menciptakan cerita bohong tentang mayat Yesus yang dicuri dari kubur-Nya, dan “cerita ini tersebar di antara orang Yahudi sampai sekarang” (Mat 28:15).
Sambil bicara tentang Gereja Kristus, Matius menggambarkan pula sejumlah ciri khasnya. Gereja itu universal dan mencakup segala bangsa (Mat 28:18-20). Otoritasnya ialah Yesus yang telah bangkit. Fundamennya ialah Petrus. Kepada Petrus diberi kuasa sebagai yang pertama (Mat 16:17-19). Dalam Mat 18:18 disebut kuasa kolegial para rasul.
Tentu, semuanya yang disebut di atas bukan suatu definisi Gereja yang memuaskan dalam segala detailnya. Namun, semuanya ini menyoroti hakikat Gereja yang sesungguhnya, sedangkan Kisah Sengsara Yesus versi Matius dalam hal ini menjadi sumbangan yang amat berharga.

Pembagian Kisah Sengsara Yesus

Mat 26:30-35 – Yesus ke Bukit Zaitun bersama murid-murid-Nya;
Mat 26:36-46 – Yesus berdoa di Getsemani;
Mat 26:47-50 – Yesus ditangkap’
Mat 26:51-56 – Sesudah Yesus ditangkap;
Mat 26:57-58 – Yesus dibawa kepada Imam Besar;
Mat 26:59-66 – Yesus di hadapan Mahkamah Agama;
Mat 26:67-68 – Yesus diperlakukan secara kejam;
Mat 26:69-75 – Petrus menyangkal Yesus;
Mat 27:1-2    –  Yesus diserahkan kepada Pilatus;
Mat 27:3-10   –  Harga darah orang tidak bersalah;
Mat 27:11-26 – Yesus di hadapan Pilatus;
Mat 27:27-31a – Yesus dipermainkan oleh pasukan Romawi;
Mat 27:31b-32 – Yesus dibawa untuk disalibkan;
Mat 27:33-50 – Yesus disalibkan;
Mat 27:52-56 – Sesudah Yesus wafat;
Mat 27:57-61 – Pemakaman Yesus;
Mat 27:62-66 – Makam Yesus dijaga.