195. Kisah Sengsara Yesus Kristus (Mat 26:30-27:66) – 2/3

Lanjutan Pengantar

Yesus ditolak, namun sesungguhnya berkuasa
Penolakan terhadap Yesus dari pihak orang-orang Yahudi menjadi paling nyata dalam sengsara-Nya. Dalam kisah tentang Yesus dan Barabas “seluruh rakyat” menjatuhkan vonis mati pada Yesus. Memang, vonis itu secara resmi akhirnya dijatuhkan oleh Pilatus. Namun, menurut Matius, dalam hal ini Pilatus lebih bersikap ‘statis’ daripada ‘dinamis.’ Dengan cara demikian Matius menunjukkan betapa tidak senangnya bangsa Yahudi terhadap Yesus-Mesias.
Matius menegaskan kuasa mutlak Yesus dengan cara lain pula. Menurut Mrk 14:13, tugas mempersiapkan Paskah diserahkan kepada dua orang murid Yesus saja. Menurut Matius tugas itu diserahkan oleh Yesus kepada semua murid-Nya. Pada waktu menceritakannya (Mat 26:17-19), tiga ayat yang ada dalam Injil Markus dikurangi oleh Matius menjadi dua ayat saja.
Kuasa Yesus tidak hanya melebihi murid-murid-Nya! Kuasa itu malah mutlak terhadap pemilik ruangan Perjamuan Terakhir, sebagaimana dapat disimpulkan dari Mat 26:18.

Yesus Tuan situasi
Matius suka menggambarkan Yesus sebagai pribadi yang memerintah dan menguasai keadaan apa pun. Yesus sendiri menubuatkan sengsara yang akan dialami-Nya (Mat 26:2). Keputusan pimpinan agama Yahudi yang diambil pada waktu sidang resmi, malah dimungkinkan oleh Yesus sendiri (Mat 26:3). Saat sengsara-Nya disebut oleh Yesus sebagai “waktu-Ku” (Mat 26:18). Yesus dengan jelas menyebut rasul yang akan mengkhianati-Nya (Mat 26:25). Markus bicara tentang pengkhianat secara umum saja: salah seorang dari kedua belas rasul Yesus.
Semuanya ini menunjukkan bahwa Yesus menghadapi sengsara-Nya dengan penuh kesadaran. Semua keputusan-Nya bebas dari pengaruh apa pun. Ia sendiri yang memutuskan segala-galanya. Dalam hal ini tampak sekali bahwa Ia sungguh berkuasa, bukan seperti para musuh-Nya. Yesus dapat saja minta agar Bapa-Nya mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat untuk membantu Dia. Namun, Ia tidak melakukannya sebab ingin menggenapi apa yang tetulis dalam Kitab Suci (Mat 26:53-54).
Dari contoh-contoh tersebut agak mudah disimpulkan bahwa berbeda dengan Markus yang sangat menekankan sengsara Yesus yang diterima-Nya dengan taat kepada kehendak Allah, Matius menekankan pula kebebasan keputusan Yesus. Dalam Injil Markus pun motif ini terasa, namun hampir tidak berperan secara teologis.

Gelar-gelar Kristologis
Kemuliaan Yesus sebagai Mesias dalam Injil Matius tampak pula dalam gelar-gelar yang muncul dalam Kisah Sengsaya Yesus. Pada umumnya, gelar-gelar itu muncul hanya dalam pemberitaan Injil sesudah Yesus bangkit. Tetapi, dalam Injil Matius muncul sebelumnya.
Murid-murid Yesus menyebut-Nya Tu(h)an (Mat 26:22). Hanya Yudas mnyapa Yesus dengan gelar Rabi (Mat 26:25.49). Kodrat mesianis Yesus malah diakui oleh mereka yang menuntut hukuman mati atas diri Yesus (Mat 26:68; 27:17.22). Kayafas memanfaatkan kemesiasan Yesus sebagai landasan untuk menjatuhkan vonis mati pada-Nya (Mat 26:63).
Matius menerapkan pula gelar Anak Allah (yang hidup) pada Yesus (Mat 16:16; 26:63; 27:40.43.54). Bukan hanya kepala pasukan mengakui Yesus sebagai Anak Allah (Mat 27:54). Sebelumnya para majus memandang Yesus sebagai Anak Allah. Pengakuan keputraan ilahi diikuti kemudian oleh perwira di Kapernaum (Mat 8:5-13).

Mengikut Yesus
Injil Markus dikenal sebagai tulisan yang dengan tekun menyoroti soal “mengikut Yesus.” Hal ini tidak dapat dikatakan tentang Injil Matius. Tetapi dalam Kisah Sengsara Yesus versi Matius digarisbawahi ketaatan Yesus kepada kehendak Allah. Hal ini tampak dalam kisah tentang Yesus yang berdoa di Getsemani (Mat 26:52-53). Yesus menundukkan diri-Nya kepada Bapa secara bertahap, tetapi tanpa ragu-ragu.
Murid-murid-Nya pun seharusnya sepenuhnya mengandalkan Allah dan memilih jalan ketaatan sambil mencontoh Yesus (Mat 6:9-13). Murid-murid-Nya pun tidak boleh memakai kekerasan (Mat 5:39-42).