192. Raja itu akan berkata, “Mari!” (Mat 25:31-40)

(bacalah terlebih dahulu perikop ini dengan baik!)

Anak Manusia – 25:31
Di sini Anak Manusia bertindak sebagai wakil Allah. Tentang Anak Manusia bacalah komentar 13:37 dan 16:13

Datang dalam kemuliaan-Nya – 25:31
Dalam kemuliaan, yaitu sebagai Raja. Sebab dalam ayat 34 Anak Manusia disebut Raja. Kemuliaan ialah keagungan dan kuasa yang tidak terpisahkan dari Allah ataupun Raja.
Kemuliaan adalah sifat Kristus dan malaikat-malaikat. Menurut Mat 16:27, Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa, sedangkan menurut Mrk 8:38 para malaikat tampaknya termasuk kemuliaan Bapa, bukan Kristus.

Bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya – 25:31
Dalam kenyataannya, hanya dalam ayat 31 ini dan dalam Mat 19:28 – dalam seluruh Kitab Suci – dikatakan bahwa Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya. Takhta kemuliaan searti dengan takhta rajawi.
Sekitar tahun 120 Rabi Aqiba dituduh sebagai penghujat, karena berpendapat bahwa Mesias harus bersemayam di sebelah Allah.
Ungkapan akan dikumpulkan adalah “pasif biblis.” Artinya: akan dikumpulkan oleh Allah. Namun, menurut banyak ahli, semua bangsa akan berkumpul sendiri.

Seperti gembala memisahkan domba dari kambing – 25:32
Kawanan campuran (domba+kambing) semacam ini tidak asing di Palestina. Siang harinya domba dan kambing merumput bersama, tetapi menjelang malam kedua jenis ternak ini dipisahkan, sebab kambing harus ditempatkan di tempat lebih hangat, sedangkan domba suka tidur di tempat terbuka.
Kata Yunani eriphos yang muncul di sini biasanya diterjemahkan kambing padahal arti aslinya “anak,” sehingga mungkin saja kata ini mengacu kepada suatu jenis binatang/ternak yaang kurang bernilai.
Menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya 25:33
Dari ayat 46 diketahui bahwa domba ialah orang-orang benar.
Menurut adat istiadat Yahudi baik posisi di sebelah kiri maupun kanan dipandang sebagai tempat kuasa/wewenang, namun sebelah kanan tetap dianggap lebih terhormat, sebagai tempat karunia khusus.

Raja itu akan berkata – 25:34
Dalam ayat ini Anak Manusia disebut Raja, dan hal ini dilakukan oleh Matius saja (Mat 13:41; 16:28). Kerajaan sendiri adalah milik Bapa, sebab “Kerajaan Surga” searti dengan “Kerajaan Allah.” Dalam ayat-ayat lain dalam Injil Matius, Anak Manusia tampaknya hanyalah saksi penghakiman (Mat 10:32), tetapi di sini Ia adalah Hakim sendiri. Ia tidak menjatuhkan vonis, tetapi memaklumkan penghakiman Bapa-Nya.
Presentasi Kristus sebagai Tuhan dan Hakim dunia mungkin saja berasal dari Matius. Ia tampaknya sangat menghayati klaim Yesus di hadapan Pilatus bahwa Ia adalah Raja (Mat 27:11)

Mari … terimalah Kerajaan – 25:34
Harfiahnya, warisilah Kerajaan. Dengan cara khas Semit ini hendak dikatakan bahwa manusia menerima sesuatu dari Allah secara cuma-cuma (Mat 5:5).

Disediakan bagimu sejak dunia dijadikan – 25:34
Diandaiakan bahwa yang menyediakannya ialah Allah sendiri.

Sebab ketika Aku lapar – 25:35
Kata sebab menegaskan adanya hubungan antara undangan yang baru disampaikan oleh Raja dan isi dua ayat yang menyusul. Mereka yang disebelah kanan, yang “diberkati oleh Bapa,” diundang untuk menerima warisan mereka, karena dengan berbuat baik terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan, mereka memperlakukan mereka sebagai Raja.
Dalam ayat 35-36 disebut enam dari tujuh perbuatan belas kasihan terhadap tubuh yang dikenal dalam tradisi kateketis; perbuatan ketujuh itu ialah “menguburkan orang mati.” Dalam buku Puji Syukur no 4, dikatakan tentang ketujuh perbuatan itu: 1. Memberi makan kepada orang yang lapar; 2. Memberi minum kepada orang yang harus; 3. Memberi perlindungan kepada orang asing; 4. Memberi pakaian kepada orang yang telanjang; 5. Melawat orang sakit; 6. Mengunjungi orang yang dipenjarakan; 7. Menguburkan orang mati.

Orang-orang benar itu akan menjawab Dia – 25:40
Orang benar ialah orang yang melakukan kehendak Allah (Mat 1:19).

Seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini – 25:40
Tema “kasih persaudaraan” secara khusus dikemukakan oleh Matius. Dalam seluruh Injilnya ditegaskan pentingnya perbuatan kasih. Pelaksanaan perintah ini adalah satu-satunya kriterium yang akan dipakai pada saat penghakiman manusia. Kasih nyata, biarpun tidak secara eksplisit ditunjuk “demi Kristus,” adalah kasih yang ditunjukkan kepada Kristus sendiri. Tema ini sangat erat hubungannya dengan tema lain yang juga dikembangkan oleh Matius, yaitu “kehadiran Kristus dalam Gereja.”
Ungkapan paling hina muncul dalam ayat-ayat lain pula, walaupun oleh oleh Alkitab tidak selalu diterjemahkan dengan cara yang sama (Mat 2:6; 5:19; 25:45).

Leave a Reply