191. Mari! Atau Enyahlah! (Mat 25:31-46)

Siapakah saudara yang paling hina?

Kesulitan kedua berkaitan dengan ungkapan salah seorng dari saudara-Ku yang palig hina ini dalam ayat 40.45. Siapa “orang yang paling hina” itu menurut Yesus?
Menurut sejumlah ahli ungkapan ini mengacu kepada para misionaris Kristen. Menurut pendapat mereka, semua orang seharusnya sudah diinjili. Dan inilah argumentasi para ahli pendukung pendapat ini: (1) Setiap kali Matius menggunakan ungkapan “yang paling kecil/hina,” ia menerapkannya kepada murid-murid Yesus (Mat 10:42; 18:6); dan ini dibenarkan oleh kenyataan bahwa dalam banyak teks kata “saudara” Yesus mengacu kepada murid-murid-Nya (Mat 12:49-50; 18:15-35; 23:8; 28:10) Matius tidak terlalu berperhatian terhadap orang-orang miskin dan masyarakat rendahan ataupun terhadap amal yang dilakukan demi orang-orang yang demikian; (3) Karena ungkapan “semua bangsa” mengacu kepada orang-orang yang sudah diinjili, maka “yang paling hina” ialah mereka yang menginjili orang-orang itu, yakni para misionaris Kristen; (4) Dalam Ma  10:40.42 Yesus menyatakan bahwa sambutan baik yang diberikan kepada murid-murid-Nya sama dengan sambutan baik terhadap diri-Nya sendiri, penolakan terhadap Injil akan berakhir dengan penghakiman keras (Mat 10:11-15.32). Semuanya ini cocok sekali dengan teks mengenai penghakiman terakhir.
Namun, kebanyakan ahli berkeyakinan bahwa ungkapan salah seorang dari saudara-Ku yag paling hina ini jusru mengacu kepada orang miskin dan yang butuh pertolongan pada umumnya. Demi mendukung pendapatnya, ahli-ahli itu mengemukakan argumentasi berikut: (1) Memang benar bahwa dalam Injil Matius ungkapan “yang paling kecil” mengacu kepada murid-murid Yesus, namun ungkapan ini muncul dalam wejangan-wejangan yang ditujukan kepada murid-murid, bukan kepada khalayak ramai. Lagi pula Yesus selalu memperingatkan para pemimpin komunitas bahwa anggota-anggota yang paling rapuh/hina harus mereka perhatikan secara khusus; jadi jangan mencari kontras antara “yang paling kecil” dengan “orang kafir” melainkan antara “orang yang paling kecil” dan “rasul;” (2) Matius kurang berperhatian khusus terhadap orang-orang miskin dan tidak berdaya daripada Lukas, namun tidak dapat dikatakan bahwa ia sama sekali tidak berperhatian, sebab ia bicara tentang mereka setidak-tidaknya dalam selusin teks berbeda-beda; karena Matius  menulis untuk orang-orang Yahudi yang sudah bertobat, yang tahu bahwa PL sagat menghargai orang miskin, ia tidak perlu menonjolkan tema ini seperti Lukas yag menulis untuk sidang pembaca yang aslinya kafir; (3) Ungkapan “semua bangsa” sulit sekali diterapkan kepada bangsa-bangsa yang sudah diinjili, sebab mereka gagal mengenal Yesus dalam diri orang miskin, dan yang butuh, padahal justru inilah aspek  paling sentral dalam Injil; (4) Dalam Mat 10:42 Yesus secara eksplisit menyamakan “yang paling kecil” dengan para misionaris lewat rumusan karena ia murid-Ku; hal yang sama berlaku bagi Mat 18:5 ketika Yesus bicara tentang penyambutan baik bagi “yang kecil” dalam nama-Ku; tetapi dalam adegan Penghakiman Terakhir tidak muncul rumusan yang dapat membenarkan interpretasi bahwa “saudara-saudara” Yesus sama dengan para misionaris; (5) Seandainya Yesus mengadili orang-orang kafir atas dasar penyambutan yang mereka beri kepada para misionaris Kristen, maka buat apa Ia menyebut tindakan-tindakan kasih material saja?; justru dapat diharapkan kriteria lain, misalnya iman,  baptisan, ketaatan, dll; (6) Seandainya kisah tentang Penghakiman Terakhir menyangkut bangsa-bangsa yang sudah diinjili saja, maka apa jadinya dengan jutaan orang kafir yang meninggal sebelum evanglisasi dilaksanakan?; (7) Sebaliknya, seandainya ungkapan “saudara” mengacu kepada semua orang yang membutuhkan bantuan, maka mudah dipahami kenyataan bahwa orang baik maupun orang jahat dapat menolong atau tidak menolong “orang yang paling hina” itu tanpa referansi apa pun kepada Kristus. Dan ini cocok dengan situasi kebanyakan manusia yang hidup dan mati tanpa menjumpai seorang misionaris Kristen pun, namun sering menjumpai orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dan ini cocok pula dengan pandangan universalitas Matius. Dalam ajaran Paulus pun dikatakan bahwa orang-orang kafir akan dibenarkan sebab mereka melaksanakan hukum kasih, Rom 2:12-16 bersama dengan Rom 13:8-10.

Leave a Reply