190. Mari! Atau Enyahlah! (Mat 25:31-46)

(bacalah teks ini terlebih dahulu sebelum mengikuti penjelasannya!)

Ilustrasi berisi nubuat
Teks ini bukan perumpamaan melainkan semacam ilustrasi berisi nubuat tentang penghakiman terakhir. Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya (Mat 16:27; 19:28), sebagai raja, untuk mengadili segala bangsa dan mengganjar tiap manusia menurut tindakan belas kasihan yang mereka lakukan terhadap orang-orang yang seharusnya diperlakukan dengan penuh belas kasihan. Ternyata setiap perbuatan yang dilakukan terhadap orang lain berdampak kekal.
Teks ini boleh dipandang sebagai semacam “mahkota” wejangan terakhir/kelima Yesus yang dapat dibaca dalam Mat 24-25. Dalam teks ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan semua orang malang; mereka itu saudara-saudara-Nya. Langsung sesudah wejangan ini Matius memulai Kisah Sengsara Yesus (Mat 26-27).

Ungkapan semua bangsa
Ada dua kesulitan besar yang dihadapi oleh para ahli sehubungan dengan teks ini. Yang pertama menyangkut makna ungkapan semua bangsa dalam ayat 32. Siapa yang dimaksudkan? Sejumlah ahli berpendapat bahwa ungkapan ini mengacu di sini hanya kepada orang-orang kafir, sebab: (1) Inilah arti ungkapan ini dalam Mat 24-25; (2) Pada waktu Matius menuliskan teks ini, Israel dengan jelas-jelas sudah dikutuk (Mat 21:43; 22:7; 23:38; 24:2), tetapi Gereja tetap memberitakan Injil kepada bangsa itu, sehingga “semua bangsa” tetap mengacu kepada bangsa-bangsa kafir saja; (3) Orang-orang Kristen tidak termasuk “semua bangsa,” sebab mereka akan diadili berdasarkan kriteria yang disebut sebelumnya (inilah beberapa kriterianya: Pengakuan terhadap Yesus, Mat 10:32, ketaatan iman, Mat 7:21-23, kesiapsediaan untuk mengampuni, Mat 6:14, belas kasihan terhadap sesama, Mat 5:7, bertahan dalam iman, Mrk 13:13).
Namun, kebanyakan ahli justru berpendapat bahwa ungkapan semua bangsa mengacu kepada semua manusia secara menyeluruh. Inilah argumentasi mereka: (1) Sulit diterima bahwa mereka yang secara historis bertanggung jawab atas kematian Anak Manusia (Mat 25:27) tidak hadir pada saat Anak Manusia tampil dengan jaya menghadapi para musuhnya (Mat 26:64); (2) Di tempat lain dalam Injil Matius, misalnya dalam Mat 28:16-20, ungkapan “segala bangsa” berperspektif universal, sehingga meliputi seluruh umat manusia tanpa kecuali.
Beberapa ahli lain lagi menerima pendapat kedua tadi, tetapi mengubahnya dalam satu hal penting. Menurut mereka ungkapan “segala bangsa” mengacu kepada seluruh umat manusia, tetapi umat manusia itu sudah pernah diinjili, sehingga jelaslah sudah sikap mereka terhadap Injil, yaitu menerima atau menolaknya. Pendapat ini berdasarkan Mat 24:14, yaitu pernyataan Yesus sendiri, “Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”
Namun, ucapan Yesus ini belum tentu meyangkut setiap pribadi secara individu, seolah-olah semua orang tanpa kecuali harus secara langsung mendengar Injil dan berkesempatan menerima atau menolak Kristus secara eksplisit. Melalui ungkapan ini hanya hendak dikatakan bahwa Injil akan diberitakan kepada semua bangsa, sehingga boleh jadi bahwa sebagian orang di antara sekian bangsa dunia tidak pernah mendengar pemberitaan Injil secara pribadi dan langsung.

Leave a Reply