184. Diberi Talenta (Mat 25:14-30)

(bacalah perikop ini terlebih dahulu!)

Perumpamaan dan kedatangan Anak Manusia
Perumpamaan tentang talenta ini adalah perumpamaan ketiga dan terakhir dalam seri perumpamaan yang dipakai oleh Matius untuk mengilustrasikan segi-segi tertentu kedatangan Anak Manusia.
Dalam perumpamaan pertama (Mat 24:45-51) tidak dipakai dalam liturgi hari Minggu.
Dalam perumpamaan kedua (Mat  25:1-13), Matius memberi peringatan juga, tetapi lain: Hamba bisa begitu terpaku pada masa depan, sehingga ia tidak cukup mengurusi hidup yang sedang dihadapinya.
Dalam perumpamaan ketiga  (mat 25:14-30) Matius menyajikan ilustrasi bagaimana masa sekarang seharusnya dihayati dalam terang masa depan.
Dalam ketiga perumpamaan ini muncul tema yang sama: Kedatangan tuan tertunda (Mat 24:48; 25:5; 25:19).

Mengembangkan talenta
Dilihat dari sudut tingkah laku hamba yang baik dan yang jahat, perumpamaan ketiga ini serupa dengan yang disebut “pertama”  di atas. Namun, untuk dinilai “baik,” tidak cukuplah siap ataupun berkelakuan baik mengingat tuan akan kembali; perlu juga mengembangkan “talenta” yang dipercayakan, seturut pentingnya masing-masing. Dilihat dari sudut ini, perumpamaan ini justru serupa dengan Mat 25:31-46 yang dikenal dengan judul “Penghakiman Terakhir.”

Sasaran perumpamaan
Aslinya, perumpamaan ini barangkali dialamatkan oleh Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang karena nasionalisme picik dan eksklusivisme sempat “menahan harta Hukum” bagi mereka sendiri sehingga harta itu seolah-olah mandul/tidak bermanfaat, baik Israel sendiri maupun bagi bangsa-bangsa lain. Maka, dalam perumpamaan ini terkandung peringatan: Akan tiba saatnya Allah akan menuntut pertanggungjawaban atas sikap konservatif-mandul pimpinan agama Yahudi (beginilah peringatan Yesus dalam Mat 23:13, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Tayrat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutuip pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk”).
Sesungguhnya tidak dapat dipastikan, apakah perumpamaan ini disampaikan oleh Yesus dengan tujuan ini, namun kesimpulan ini sangat meyakinkan. Sebab hamba ketiga dari perumpamaan ini begitu hati-hati dan ketakutan (istilah Inggrisnya: scrupulous) sehingga ia mencari akal untuk aman. Setelah menemukannya, ia yakin bahwa ia tidak mungkin dipandang bersalah selama perbuatannya dinilai secara hukum. Sikap hamba itu sangat serupa dengan sikap orang-orang Farisi.

Makna perumpamaan asli
Dalam bentuk aslinya, makna perumpamaan ini dapat dijelaskan begini: Sama seperti seorang tuan yang telah mempercayakan uang kepada hamba-hambanya dengan maksud supaya modalnya bertambah besar selama ia tidak di tempat, lalu sesudah kembalinya mengganjar hamba-hamba yang berbuat sesuai dengan harapannya dan menghukum hamba yang mengecewakannya, demikian pun Allah yang telah mempercayakan sabda-Nya kepada umat-Nya dan pimpinannya agar bermanfaat dan membawa hasil seperti diharapkan-Nya, akan mengganjar mereka yang bertindak benar dan akan menghukum mereka yang “mengamankan” sabda-Nya secara yuridis.

Diterapkan pada hidup Gereja
Matius menerapkan perumpamaan ini kepada hidup Kristen di dalam Gereja. Maka, maknanya mengalami penyesuaian: Sama seperti seorang tuan yang mempercayakan sejumlah uang kepada para hambanya agar selama ia tidak hadir modal itu bertambah besar, mengganjar hamba-hamba yang memenuhi harapannya dan menghukum keras hamba yang mengecewakannya karena hanya mengamankan uang itu, demikian pun Kristus akan mengganjar atau menghukum setiap murid-Nya pada saat kedatangan-Nya waktu Parusia, menurut karunia-karunia spiritual yang dipercayakan-Nya untuk dikembangkan oleh para hamba itu.
Walaupun kebanyakan ahli yakin bahwa aslinya perumpamaan ini ditujukan kepada pimpinan Yahudi, khususnya kepada orang-orang Farisi, namun tidak ada satu bukti  apa pun yang mendukung pendapat ini. Kesulitan timbul pula karena tuan menyerahkan kepada hamba-hambanya modal yang amat besar, tetapi sendiri berkata, “Engkau telah setia dalam perkara kecil” (ay 21 dan 23). Kesulitan ini teratasi, bila diterima bahwa aslinya Yesus berbicara bukan tentang talenta melainkan tentang uang mina (seperti dalam Injil Lukas). Perubahan ini diadakan oleh Matius sendiri, sebab ia barangkali hendak menegaskan bahwa karunia-karunia spiritual yang diterima oleh orang-orang Kristen di dalam Gereja, sungguh sangat bernilai. Matius mengutamakan nilai, tetapi mengungkapkannya dengan banyaknya uang.