182. Pelita kami hampir padam; pintu ditutup (25:8-12)

Pelita kami hampir padam – 25:8
Di atas sudah disebut beberapa hal yang aneh: Gadis-gadis tertidur, pengantin pria terlambat, tengah malam terdengar teriakan. Kini tambah satu lagi: Lima dari rombongan gadis itu akhirnya sadar bahwa minyak mereka kurang.
Sangat mengherankan mengapa mereka tidak masuk ruang perjamuan saja. Bukankah beberapa pelita yang hampir padam ataupun sudah padam tidak menjadi masalah besar dalam perarakan penuh sukacita? Apakah perarakan itu harus menempuh jalan sangat panjang?
Karena panik, gadis-gadis bodoh itu minta sedikit minyak dari teman-temannya! Sebagaimana sudah dapat diduga, teman-temannya menolak. Mengapa mereka menolak? Mengapa mereka lebih suka memberi nasihat yang tampaknya tidak bijaksana?

Lebih baik kamu pergi kepada penjual – 25:9
Adakah orang yang menjual minyak tengah malam? Ternyata ada, seperti mudah disimpulkan dari ayat selanjutnya. Namun, kelima gadis itu tidak tertolong juga, sebab begitu mereka berangkat untuk membeli,

Datanglah mempelai – 25:10
Lalu terjadilah … Mereka yang siap, masuk bersama dengannya ke dalam ruang perjamuan kawin, lalu ….

Pintu ditutup – 25:10
Aneh sekali, mengapa pintu itu ditutup! Sebab, biasanya, pintu ruangan perjamuan justru terbuka untuk menerima tamu yang datang terlambat. Apa lagi di Timur. Pesta pernikahan biasanya diadakan di alam terbuka; para undangan dapat datang kapan saja! Jadi, dalam situasi normal, kalau ada tamu yang terlambat, lebih-lebih terlambat sedikit saja, tidak ada yang mempersoalkannya. Tetapi, dalam teks ini, keterlambatan menjadi sebab sebuah drama!
Pengantin wanita sama sekali tidak disebut. Pengantin pria tampaknya mulai sibuk menjaga pintu masuk! Dialah yang paling tahu bahwa di ruangan perjamuan tidak ada lima gadis lainnya. Lebih mengherankan lagi, mengapa ia setuju pintunya ditutup dan mengapa ia tidak mau membukanya. Daripada menyambut semua orang, ia bersikap arogan, padahal ia seharusnya bersikap paling ramah. Apakah ia lupa bahwa ia sendiri datang terlambat, dan bahwa semua orang menantikannya sejak lama? Daripada bertindak selayaknya seorang pengantin, ia mulai berperan sebagai hakim yang menjatuhkan vonis. Aku tidak mengenal kalian!
Setelah merenungkan semuanya ini, pembaca seharusnya sudah dapat menyimpulkan bahwa perumpamaan ini sama sekali tidak menggambarkan pesta pernikahan di bumi Israel, melainkan suatu situasi yang penting bagi orang beriman. Komunitas Kristen memandang pengantin aneh itu sebagai Allah sendiri. Tentu saja, mereka sama sekali tidak berpikir bahwa Allah bersikap dan bertindak sekasar digambarkan di sini. Perumpamaan ini hanya hendak mengajarkan bahwa situasi Kerajaan Allah serupa dengan yang dilukiskan di sini: Sebagai majikan waktu, Allah boleh saja datang pada saat yang dikehendaki-Nya. Kedatangan-Nya selalu serupa dengan intervensi kekekalan ke dalam waktu duniawi, sehingga selalu mengejutkan. Allah sama sekali tidak senang mengagetkan manusia. Justru manusialah yang suka terkantuk-kantuk dan tertidur. Maka, Allah memperingatkan, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak mengetahui hari maupun saatnya!”
Perumpamaan tidak mengajarkan pula bahwa Allah datang terlambat. Justru sebaliknya!  Demi menyambut kedatangan pengantin, semua orang seharusnya sipa pada waktunya. Kalau tidak, maka mereka akan mengalami nasib malang.
Gadis-gadis bijaksana ternyata siap pada saat Tuhan datang. Sama seperti gadis-gadis bodoh, mereka pun tidak tahu saat kedatangan pengantin. Tetapi, mereka tidak lupa mengadakan persiapan seperlunya. Mereka memikirkan siatuasi yang tidak terduga-duga. Mereka terutama memikirkan pengantin.Mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengiringinya masuk ke dalam ruangan pesta. Justru karena itulah mereka tidak mau berbagi minyaknya dengan kelima temannya yang lain. Seandainya mereka memberi minyak itu kepada para temannya, mereka tidak akan bisa masuk ruang perjamuan. Ciri khas gadis bijaksana ialah: Mereka memiliki minyak, sehingga nyala pelita mereka tetap aman. Gadis-gadis bodoh tidak siap. Mereka pun berusaha, tetapi terlambat. Mereka pun, sama seperti gadis-gadis bijaksana, berusaha merapikan pelita, tetapi terlambat. Jadi mereka cukup siap, tetapi bukan pada saat kedatangan pengantin!
Perumpamaan ini dapat saja berakhir dengan masuknya pengantin ke dalam ruangan pesta bersama rombongan penyambutnya. Tetapi, Matius meneruskannya dengan sebuah “perumpamaan mini” yang dapat diberi judul Pintu Tertutup. Memang tidak dapat dipastikan, apakah perumpamaan mini ini sepenuhnya ditambah oleh Matius sendiri. Namun, dari teknik penulisannya diketahui bahwa ia selalu berusaha memperjelas pengajaran Yesus. Dan ia melakukannya demi kepentingan jemaah Kristen sendiri.
Gais-gadis yang diperkenalkannya di sini adalah wanita-wanita Yahudi yang sudah mengikuti Kristus. Di empat lain Matius sudah memperingatkan bahwa bahaya dikucilkan dari Kerajaan Surga pertama-tama mengancam keturunan Abraham, bukan orang-orang kafir (Mat   8:12). Tidak cukup menjadi Kristen, artinya mengambil bagian dalam pesta pernikahan Mesias. Sebab mereka yang diikutkan dalam pesta itu, belum tentu akan dapat masuk ke dalam ruangan pesta. Perlu diadakan persiapan untuk menyambut kembalinya Tuhan.

Aku tidak mengenal kamu – 25:12
Vonis berupa, Aku tidak mengenal kamu, tampaknya keras sekali, tanpa ampun. Namun, mereka yang dipanggil, justru karena tidak mempersiapkan “minyak penantian,” akhirnya salah sendiri (vonis yang sama dapat dibaca dalam Mat 7:21-23).
Jadi, seperti gadis-gadis bodoh dari perumpamaan ini, para pengikut Kristus pun berseru, “Tuhan, Tuhan,” namun mereka pun ditolak, sebab Yesus tidak mengenal mereka. Dalam kenyataannya, tidak cukup berseru kepada Tuhan. Yang terpenting ialah melaksanakan kehendak Bapa.
Yesus memperingatkan di sini hal yang amat utama, yaitu bahwa tindakan lebih penting daripada kata. Bukan tindakan apa saja, melainkan tindakan yang diambil karena ketaatan kepada Bapa surgawi demi melaksanakan kehendak-Nya. Siap dengan “minyak” berarti melaksanakan kehendak Bapa.