179. Gadis-gadis bijaksana dan bodoh (25:1-4)

Pada waktu itu – 25:1
Ungkapan pada waktu itu dipakai oleh Matius k.l 90 kali, tetapi hanya 6 kali oleh Markus dan 13 kali oleh Lukas. Artinya bisa macam-macam (bacalah komentar pada Mat 11:25).

Kerajaan Surga seumpama – 25:1
Konstruksi kalimat ini hampir sama dengan yang dapat dibaca dalam 13:24. Kalimat ini dapat dikaitkan dengan isi bab terdahulu, dalam arti: Pada saat kedatangan Anak Manusia sebagai Tuhan akan terjadi situasi serupa dengan apa yang diceritakan dalam perumpamaan ini. Arti ini didukung oleh kenyataan bahwa dalam perumpamaan ini disebut mempelai laki-laki saja. Dalam ayat 5,6,10 dan 11 satu kali pun tidak disebut mempelai perempuan. Namun, dalam perumpamaan ini Matius tidak mengidentifikasikan penggenapan Kerajaan Surga dengan datangnya Anak Manusia, sehingga ungkapan Kerajaan Surga seumpama sebaiknya diartikan secara umum saja, yaitu: Pada hari Allah akan menegakkan Kerajaan-Nya, situasi akan serupa dengan apa yang digambarkan dalam cerita ini.

Sepuluh gadis – 25:1
Aslinya perawan, tetapi kata ini pasti dipakai dalam arti luas, yaitu “wanita yang belum nikah,” “pengiring mempelai,” dsb.

Mengambil pelitanya – 25:1
Pelita di sini searti dengan lampu minyak. Pelita menyala sekitar 15 menit saja, lalu harus diisi lagi dengan minyak.

Pergi menyambut mempelai laki-laki – 25:1
Gadis-gadis itu pergi ke rumah pengantin wanita untuk menunggu pengantin pria. Aksinya berlangsung pada malam hari.

Bodoh – 25:2
Kata ini sama dengan yang muncul dalam 5:22 dan searti dengan dungu. Kata ini tidak hanya mengacu kepada orang yang tidak cukup inteligen, tetapi juga kepada orang fasik yang menentang hukum Allah, malah berani berkata bahwa Allah tidak ada (Mzm 14:1)
Dalam kitab-kitab Injil, hanya Matius memakai kata ini dan selalu dalam arti moral: Orang yang mendengarkan Yesus, tetapi tidak melaksanakan sabda-Nya (Mat 7:24). Kata ini begitu keras dan kasar, sehingga kalau seseorang memperlakukan sesamanya sebagai orang bodoh/dungu, ia harus dihukum dengan api neraka (Mat  5:22).

Bijaksana – 25:2
Kata yang sama muncul dalam perumpamaan terdahulu (Mat 24:45; hamba yang setia dan bijaksana; bacalah komentar pada Mat 7:26).
Kata bijaksana mengacu kepada orang yang memiliki hati, artinya inteligensi. Ia membangun rumahnya di atas cadas (Mat 7:24), sebab ia melaksanakan sabda Yesus. Ia bukan hanya cerdas secara manusiawi melainkan memahami misteri Allah pula.

Tidak membawa minyak – 25:3
Mereka tidak membawa minyak … tambahan. Mereka pasti lupa. Justru karena lupa, mereka disebut “bodoh/dungu” dalam pandangan Allah. Yang gawat pada mereka bukan tidak adanya perhatian pada minyak, melainkan sikap spiritual mereka.

Dalam botol mereka – 25:4
Botol itu (semacam buli-buli) menampung minyak dan barangkali dibuat dari tanah liat