178. Siap Meyambut Mempelai (Mat 25:1-13)

(bacalah perikop ini dengan cermat agar lebih mudah mengikuti penjelasannya!)

Perumpamaan miskin akan data
Tidak terlalu banyak diketahui sekarang mengenai pesta pernikahan di zaman kehidupan Yesus. Sebab apa yang diketahui, pada umumnya menyangkut zaman agak kemudian. Selain itu, adat-istiadat dapat sangat bervariasi, bahkan sangat berbeda satu sama lain dari kota ke kota.
Perumpamaan Matius ini malah “miskin akan data.” Sebab upacara sendiri tidak diceritakan. Yang menjadi perhatiannya ialah gadis-gadis yang berperan sebagai dayang. Dapat diduga bahwa mempelai wanita tinggal di rumah keluarganya, bersama dengan teman-temannya, sedangkan mempelai pria akhirnya datang ke rumahnya untuk membawanya ke rumahnya sendiri. Di rumah mempelai prialah tersedia “ruang perjamuan kawin” (ay 10).
Tentu saja, dalam perumpamaan ini unsur tersebut sangat penting. Tetapi, ceritanya sudah dilucuti dari segala unsur menarik lainnya, seperti tari-tarian, sorak sukacita, nyanyian-nyanyian, obor, pujian terhadap kecantikan mempelai wanita, dan lain-lain yang justru disebut dan diketahui dari sumber-sumber lain, antara lain dari Kidung Agung. Maka, boleh dikatakan bahwa perumpamaan dalam versi Matius ini tampaknya kaku.

Dayang-dayang di istana raja
Ada sepuluh wanita muda yang menurut perumpamaan ini menjadi teman dan pendamping mempelai wanita. Peranannya sama dengan dayang-dayang di istana raja kuno. Mereka belum kawin, sehingga dalam bahasa Yunani mereka disebut parthenoi, yaitu perawan. Apakah dayang-dayang itu memang perawan menurut pengertian zaman kini? Apakah waktu bercerita Yesus memikirkan mereka sebagai perawan? Para ahli agak sependapat bahwa Yesus memikirkan “putri-putri pengiring mempelai,” bukan “perawan.”
Teks ini tersusun lama sesudah Yesus bercerita, yaitu sekitar tahun 70. Mengapa Gereja masa awal mempertahankan kata parthenoi sehubungan dengan para dayang itu?

Keperawanan
Yesus menyarankan selibat demi Kerajaan Allah dan ucapan-Nya mengenai hal ini sangat misterius. Bunyinya begini, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga” (Mat 19:12). Ternyata di kalangan Kristen sejak awalnya selalu ada saja orang yang hidup berselibat. Di Korintus ada sekelompok orang beriman yang disebut “perawan-perawan.” Justru bagi mereka Rasul Paulus menyampaikan sejumlah nasihat (1Kor 7:25 dst).
Selain itu parusia yaitu kedatangan Anak Manusia untuk kedua kalinya, mengundang orang untuk menyangkal diri. Mereka selalu siap untuk “berangkat” berkarya demi Kerajaan Allah. Kata Paulus, “Waktu telah singkat!  Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri” (1Kor 7:29).
Apakah perumpamaan tentang kesepuluh “perawan” mengacu kepada sekelompok “biarawan” masa awal Gereja yang berkaul selibat? Tidak! Sebab seluruh Gereja, menurut pemikiran Paulus, adalah “perawan suci yang dipertunangkan dengan Kristus” (2Kor 11:2-3). Maka, perumpamaan ini tidak tertuju kepada sekelompok orang saja, melainkan kepada seluruh Gereja.

Kedatangan Tuhan yang tertunda
Perumpamaan ini tercantum dalam Injil Matius saja. Serupa dengan yang terdahulu, perumpamaan ini pun terpusat pada masalah “kedatangan Tuhan tertunda” (Mat 24:48; 25:5). Namun, dalam perumpamaan ini perhatian utama tidak diarahkan kepada hamba-hamba yang berkelakuan buruk, tetapi pada perlunya siap (Mat 24:44; 25:10) dan perlunya bijaksana (Mat 24:45; 25:2). Orang bijaksana selalu siap, juga pada tidur, sebab ia sadar bahwa hari maupun saatnya Tuhan akan datang, tidak diketahui seorang pun.
Ternyata umat manusia terbagi dua: Ada yang bijaksana dan ada yang bodoh (sama seperti mereka yang mendirikan rumah, – Mat 7:24-27).

Pembagian teks ini
Tahap-tahap perumpamaan ini dapat dibagi begini:
25:1-4       Gadis-gadis bijaksana dan bodoh;
25:5         Mempelai laki-laki terlambat;
25:6-7       Tengah malam;
25:8-10b     Pelita kami hampir padam;
25:10c-12    Pintu ditutup;
25:13        Berjaga-jagalah!