177. Berjaga-jagalah (24:42-44)

Karena itu berjaga-jagalah – 24:42
Menyadari akhir yang mendadak itu, yang serupa dengan air bah yang juga datang dengan tiba-tiba, orang beriman harus berjaga-jaga (dalam Injil Matius, kata ini muncul di sini untuk pertama kalinya. Tempat lain: Mat 24:43; 25:13; 26:38.40.41).
Dalam Mat 24:42-44 tidak dijelaskan bagaimana manusia harus berjaga-jaga. Maka, dapat disimpulkan satu hal saja: Karena sudah diperingatkan, para pengikut Yesus harus berjaga-jaga saja. Dengan mengatakan hal ini, Yesus tidak bicara lagi tentang air bah, tetapi mengantarkan  para pendengar-Nya kepada pemikiran baru lewat perumpamaan tentang pencuri.
Berjaga-jaga bukan suatu sikap yang tidak menentu ataupun suatu sikap pasif. Tetapi bukan juga semacam “demam menanti” penuh kepanikan! Berjaga-jaga searti dengan setia pada misi yang dipercayakan, mempersiapkan diri akan kedatangan Kristus, melaksanakan kewajiban serta memperhatikan saudara yang “hina” (Mat 25:40).

Tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang – 24:42
Kata mu (Tuhan-mu) dalam ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa Yesus berbicara di sini kepada pengikut-Nya, kepada umat Kristen. Daripada bicara tentang Anak Manusia, Matius menyebut di sini Tuhanmu. Penggunaan sebutan ini mungkin dipengaruhi oleh teks Mark 13:14 yang menyajikan perumpamaan tentang “tuan rumah” yang kembali secara mendadak untuk mengecek kesetiaan para hambanya. Tuan rumah umat Kristen adalah Tuhan.

Jika tuan rumah tahu – 24:43
Ungkapan tuan rumah muncul pula dalam perumpamaan tentang lalang (Mat 13:14-30).

Pencuri akan datang – 24:43
Di masa itu, pencuri sering kali datang pada malam hari. Kitab Keluaran malah mengizinkan tuan rumah membunuh pendatang yang tidak diharapkan itu (Kel  22:2).
Pada waktu mengungkapkan gagasan-Nya, Yesus mungkin saja mengingat suatu kasus perampokan yang baru saja terjadi dan diketahui masyarakat. Yesus memanfaatkan kasus itu untuk memberi peringatan: Daripada dikagetkan oleh kenyataan, lebih baik berjaga-jaga. Manusia memang tidak tahu kapan pencuri akan datang. Tetapi, kalau ia sudah datang, manusia tidak berhak mengatakan pula, “Seandainya saya tahu …”
Yesus menyadari bahwa bersamaan dengan karya-Nya, saat perhitungan terakhir semakin mendekat. Ia menceritakan Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang sudah hadir dan nyata dalam karya-Nya (Mat 12:28+). Maka, salah benar, kalau orang-orang di sekitar-Nya berpikir bahwa belum terjadi apa-apa. Inilah sebabnya, Yesus berseru, Berjaga-jagalah, persiapkanlah diri!
Dalam teks ini pencuri tampaknya disamakan dengan Anak Manusia. Namun, bukan inilah yang mau ditekankan oleh perumpamaan ini, melainkan ketidakterdugaan peristiwa. Terjadi sesuatu yang tidak diduga. Maka, perlu berjaga, biarpun saatnya tidak diketahui. Lebih-lebih bila disadari bahwa bagi umat Kristen, kedatangan Anak Manusia bukan saat malapetaka melainkan saat sukacita besar!
Mengapa dalam teks ini dibicarakan pencuri? Umat Kristen semula sangat sadar akan kedatangan Anak Manusia. Namun, karena kedatangan-Nya tidak jadi-jadi, tertunda, perhatian mereka semakin terpusat pada soal penghakiman yang memang ditakuti semua orang. Justru karena itulah tercipta perumpamaan tentang pencuri yang selain datang secara tidak terduga, merampas pula milik orang.
Gambaran tentang pencuri muncul berkali-kali dalam PB (antara lain dalam 1Tes 5:2.4 dan 2Ptr 3:10). Dalam teks-teks itu hari penghakiman dibandingkan dengan pencuri. Hari itu akan mengagetkan semua orang, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Hanya mereka yang siap saja, tidak akan kaget. Dalam Kitab Wahyu, Kristus sendiri diperkenalkan sebagai pencuri (Why 3:3; 16:15).