175. Pada kedatangan Anak Manusia (24:37-41)

Sebagaimana halnya pada zaman Nuh – 24:37
Teks yang mendahului bacaan ini menekankan kedatangan Anak Manusia sebagai sesuatu yang pasti, terutama manifestasinya. Biarpun akan muncul nabi-nabi palsu yang harus diwaspadai oleh umat Kristen (Mat 24:24-26), “seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kedatangan Anak Manusia” (Mat 24:27). Jadi, pasti akan ada tanda.
Dalam Mat 24:37-41 ditegaskan gagasan lain, yaitu ketidakterdugaan kedatangan Anak Manusia. Gagasan itu diperkembangkan dengan bantuan ilustrasi tentang zaman Nuh (Kej 6:9-22).

Kedatangan Anak Manusia – 24:37
Dalam bicara-Nya tentang peristiwa yang akan datang itu, Matius, satu-satunya di antara para penulis Injil, menggunakan kata parousia (Mat 24:3.27.37.39. Kata parousia sesungguhnya profan, tetapi dalam arti sakral mengacu kepada kedatangan/kunjungan Tuhan dan sering muncul dalam PL, antara lain dalam Am 5:18-20; Yes 19:1; Zef 1:15-18; Dan 7:13-27).
Aslinya, kata ini searti dengan kedatangan. Di dunia Yunani, kata ini dipakai pada saat kedatangan seorang tokoh atau (wakil) raja ke kota.
Umat Kristen masa awal menerapkan kata ini pada kedatangan meriah Kristus pada akhir zaman. Tetapi, kedatangan itu segera dikaitkan pula dengan peristiwa kedua, yaitu penghakiman.

Pada zaman sebelum air bah – 24:38
Dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus sering menggunakan kiasan-kiasan dari PL yang dikenal baik oleh para pendengar-Nya (misalnya: Kebun anggur, bapak, hakim, pemilik, tuan rumah, panen, dll). Tetapi, di sini, Yesus tampaknya menciptakan sebuah kiasan baru: Kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman akan serupa dengan air bah baru. Jadi, akhir zaman itu akan ditandai dengan suatu malapetaka tiba-tiba, dan manusia sama sekali tidak berdaya menghadapinya.

Makan dan minum – 24:38
Langsung sesudah memberitahukan terjadinya suatu malapetaka dahsyat, Yesus menyibukkan diri dengan sikap manusia. Orang-orang di zaman Nuh tetap menjalankan kehidupannya seperti biasa: Mereka makan, minum, nikah. Namun, ketidakpahaman mereka sangat berbahaya: Mereka mati, sebab tidak menangkap tanda-tanda yang diberikan kepada mereka. Begitulah akan terjadi pada akhir zaman. Waktunya sudah akan terlambat untuk berbuat apa yang seharusnya dilakukan sebelumnya. Maka, sekarang juga manusia harus membuka mata dan mempersiapkan diri.
Dalam Mat 24:37-39 pembaca berhadapan dengan dua aspek pemberitaan Yesus; dari satu pihak Yesus memberitakan keselamatan, tetapi dari lain pihak Ia memberitakan bencana. Kedua hal ini senantiasa harus diingat oleh manusia. Seruan agar manusia bertobat yang sekaligus diiringi pemberitaan tentang kedatangan Anak  Manusia merupakan dua peringatan yang Allah memberi kepada umat-Nya.
Ada banyak ucapan Yesus yang harus dibaca dengan cara serupa, antara lain peringatan yang ditujukan kepada para pemimpin bangsa (Mrk 12:1-11), kepada orang-orang Farisi (Yoh 9:40), kepada para penduduk Yerusalem (Mat 23:37) atau kepada umat manusia pada umumnya (Luk 13:6-9). Manusia masa kini akhirnya perlu sadar bahwa inilah saat terakhir untuk mengambil keputusan.
Ada baiknya pembaca ingat di sini akan perumpamaan Yesus tentang Lazarus yang malang dan tentang orang kaya yang setiap hari mengadakan pesta. Perumpamaan Lukas itu sama sekali tidak menyoroti soal kekayaan ataupun kemiskinan. Pusat perhatian perumpamaan ialah orang kaya serta kelima saudaranya. Si kaya hidup secara egois, sedangkan saudara-saudaranya, sesudah kakak mereka meninggal, tetap saja meneruskan cara hidup mereka yang serupa. Hati mereka sudah demikian tegar, sehingga mukjizat apa pun tidak mungkin membelokkan mereka dari jalan hidup yang salah. Mereka memang tidak insaf, sama seperti orang-orang semasa Nuh. Tidak insaf dalam arti apa? Mereka tidak pernah memikirkan kegiatan sehari-hari dari sudut datangnya penghakiman ilahi!