174. Berjaga-jagalah (Mat 24:37-44)

(bacalah terlebih dahulu perikope ini dengan baik dan cermat!)

Cuplikan dari wejangan terakhir
Teks ini adalah cuplikan dari wejangan agung Yesus terakhir mengenai Kerajaan Allah. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, dalam Injil Matius terdapat lima wejangan Yesus:
1.Kebenaran Kerajaan Allah (5-7).
2.Pemberitaan Kerajaan Allah (10).
3.Misteri Kerajaan Allah (13).
4.Anak-anak Kerajaan Allah (18).
5.Manifestasi Kerajaan Allah yang akan terjadi pada akhir zaman (24-25).

Sasaran wejangan
Apa sebabnya Matius menempatkan wejangan ini di tempat ini? Mungkin karena konflik antara Yesus dengan para pemimpin bangsa-Nya semakin meningkat. Matius kiranya menangkap adanya hubungan antara penolakan terhadap Yesus dengan malapetaka besar yang dinubuatkan-Nya. Tetapi, bila dilihat dari sudut kepentingan komunitas Kristen masa itu, maka dapat disimpulkan bahwa wejangan ini ditujukan kepada orang-orang Kristen sendiri sebagai peringatan, agar mereka jangan dikuasai “demam apokaliptiik,” yaitu memikirkan dan menghitung saat datangnya akhir zaman, melainkan selalu siap menghadapi apa saja.

Tulisan apokaliptik
Teks yang mendahului bacaan ini (Mat 24:1-36) merupakan sebuah tulisan apokaliptik. Di dalamnya tercampurlah tradisi dan pandangan Yahudi dengan tradisi dan visi Kristen. Tidak jelas, sejauh mana seluruh isinya pernah diucapkan oleh Yesus sendiri. Sulit juga ditentukan, ucapan-ucapan manakah yang menyangkut kehancuran Bait Suci Yerusalem dan manakah yang berkaitan dengan akhir zaman.
Tetapi, para ahli sependapat bahwa fokus perhatian utama Matius dalam wejangan itu ialah akhir zaman. Sebab pada waktu Injil Matius berhasil disusun, kehancuran Bait Suci di Yerusalem sudah menjadi fakta sejarah, masa lampau. Maka, peristiwa itu ditunjuk sebagai pra-tanda keguncangan-keguncangan yang akan terjadi pada akhir zaman.
Sesuai dengan gaya tulisan apokaliptik, dalam bacaan ini ditemukan aplikasi moral: Sambil menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, umat Kristen harus berjaga-jaga dan setia pada misi yang dipercayakan kepadanya.

Susunan wejangan
Karena sebagian wejangan ini akan dibahas selanjutnya, maka di sini disajikan susunan keseluruhan Mat 24:37-25:46.
24:37-44 – Kembalinya tuan tidak dapat diduga; perlu berjaga-jaga;
24:45-51  – Perumpamaan tentang tuan rumah: Kelakuan hamba karena tuan menunda kedatangannya;
25:1-13    – Perumpamaan tentang sepuluh gadis: Gadis-gadis yang bodoh tidak siap akan kedatangan pengantin;
25:14-30  – Perumpamaan tentang talenta: Tugas yang dipercayakan dan kembalinya tuan sesudah lama pergi;
25:31-46  – Penghakiman terakhir: Gambaran Anak Manusia sebagai hakim.

Perumpamaan
Jenis sastra “perumpamaan,” yang dikenal baik oleh bangsa Yahudi, sering dipakai dalam sastra apokaliptik, entah dalam bentuk perumpamaan lengkap entah dalam bentuk ucapan bergaya perumpamaan.
Para ahli sampai kepada keyakinan bahwa semua perumpamaan yang dapat dibaca dalam kitab-kitab Injil harus dikaitkan (entah bagaimana) dengan ajaran Yesus sebagai sumbernya. Yang tidak jelas ialah artinya, sebab para penulis kadang-kadang mengubah perumpaan menjadi alegori/kiasan.