173. Sikap pemimpin umat (23:8-12)

Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapa’ – 23:9
Larangan kedua ini tampaknya harus dibaca sebagai ketidaksetujuan Matius terhadap penggunaan gelar Abba yang ternyata disukai sejumlah pemimpin komunitas Kristen, biarpun hanya sebagai gelar kehormatan sepert “Rabi.” Jelas sekali bahwa maksudnya di sini bukan bapak keluarga dalam arti biasa (Mat 15:4 dst; 19:19).
Dengan mengatakan ini, Matius sama sekali tidak melawan tradisi kuno yang dapat dijumpai di antara semua bangsa (juga di kalangan Yahudi) yang mengharapkan adanya relasi khusus antara guru dan murid, yaitu relasi yang menyerupai hubungan antara bapak dengan anak. Ternyata sampai sekarang gelar bapak dipakai di dalam Gereja (Abas, Paus, Bapa Suci) dan ini bukan penyimpangan terhadap Injil. Yang penting bukan soal huruf melainkan motivasi dan tujuan.
Tema kebapaan Allah berperanan sangat fundamental dalam Injil Matius. Tidak ada satu kuasa pun di dalam Gereja yang berhak memanfaatkan kuasanya itu untuk merendahkan kehormatan warga Kristen, sebab kehormatanya tinggi sekali sebagai “anak Allah” (1Yoh 3:1+; Rom 9:26).

Janganlah kamu disebut pemimpin – 23:10
Larangan ketiga ini hampir sama dengan yang pertama. Yang menarik ialah bahwa kata Yunani yang dipakai Matius di sini, yaitu katheghetes, dalam seluruh Kitab Suci muncul dalam ayat ini saja. Artinya “penuntun,” dengan nuansa “kepala/ketua/pemimpin.” Sejak abad I kata ini dipakai di bidang pengajaran, tetapi masih dalam arti “menuntun/membimbing,” sehingga mirip pembimbing rohani, bapak pengakuan, rektor, gembala, dsb. Dalam bahasa Latin diterjemahkan Magister.