172. Sikap pemimpin umat (23:8-12)

Janganlah kamu disebut ‘Rabi’ – 23:8
Secara simetris dengan ayat-ayat terdahulu yang menggambarkan sikap sombong, Matius mengemukakan tiga larangan tegas yang ditujukan kepada kamu, artinya kepada murid-murid Yesus (ay 1), dan melalui mereka kepada pimpinan jemaah Kristen. Isi ayat 8-12 dapat dipandang sebagai pelengkap “pedoman pastoral” yang dikemukakan dalam Mat 18.
Larangan pertama menyangkut gelar Rabi yang sudah disebut dalam ayat 7. Matius tampaknya mengandaikan bahwa gelar ini, pada waktu itu, sudah bermakna guru (Yoh 1:38). Dengan melarang pemberian gelar ini, Matius menunjukkan dengan jari sumber infeksi farisaisme yang mengancam hidup umatnya. Gereja pada waktu itu tampaknya sudah kehilangan semangat kesederhanaan. Matius cemas melihat Gereja sudah kemasukan sikap dan cara bicara yang berbahaya bagi kejujuran Kristen.
Dalam bahasa Ibrani, kata dipanggil/disebut hampir searti dengan ada/jadi. Maka, kata-kata dalam ayat 8 ini hampir searti dengan: “Janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru”; jangan mengangkat diri sebagai guru, sebab “Guru kalian – di dalam Gereja – satu saja.” Kalau diperhatikan kesejajaran dengan ayat 10 serta konteks umum PB (Yoh 13:13+), maka Guru yang satu dan unik ialah Kristus sendiri.
Anehnya, kata rabi ini – dalam Injil Matius – dipakai hanya oleh Yudas pada saat ia menyapa Yesus waktu Perjamuan Terakhir (Mat 26:25) dan waktu ia mengkhianati-Nya (Mat 26:49). Dalam Injil Matius, Yesus disapa guru hanya oleh para lawan-Nya (Mat 8:19; 9:11; 12:38; 22:16). Matius tampaknya menganggap gelar ini tak memadai, sebab murid-murid memanggil Yesus “Tuhan.”

Kamu semua adalah saudara – 23:8
Sebenarnya kata saudara ini lebih cocok ditempatkan sesudah bicara tentang Bapa, jadi dalam ayat 10. Kalau Matius menempatkannya di sini, maka pasti ada alasannya.
Kata saudara adalah sebuah kata biasa dalam PB. Kata itu diterapkan pada setiap anggota jemaah Kristen. Semua saudara bersama-sama membentuk keluarga gerejawi. Keluarga itu dipimpin oleh Guru dan Tuhan (Mat 12:49+); di situ Ia pun menjadi saudara (Mat  25:40; 28:10), sebab semua bersama-sama mengaku Bapa yang satu dan yang sama (ay 9).