171. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (23:2-7)

Suka duduk di tempat terhormat … di tempat terbaik – 23:6
Suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan, atau di sinagoga bukan tanda egosentrisme melainkan kesombongan yang tidak berdasar. Semua orang Timur di zaman dulu sangat memperhatikan urutan kehormatan dalam acara resmi. Mereka seolah-olah berlomba-lomba untuk menjadi “lebih besar” (Luk 22:27).
Yesus selalu mengajar bahwa mereka yang menjadikan dirinya kecil, sesungguhnya besar dalam pandangan Allah (ay 12 teks ini). Memimpin orang lain seharusnya diartikan sebagai menjadi pelayan, bahkan menjadi budak orang lain (ay 11 teks ini; juga: Mat 20:26+).
Mereka yang duduk di rumah ibadah pada tempat yang utama, berhadapan muka dengan jemaah, sehingga kotak yang menyimpan gulungan Taurat ada di belakang mereka.

Suka menerima penghormatan di pasar – 23:7
Pasar, waktu dulu, adalah pusat kehidupan publik. Letaknya, pada umumnya, dekat gerbang masuk kota.
Penghormatan (aslinya: salam) di dunia Timur kuno disampaikan secara khusus sehingga mirip tindakan ‘seni.’ Sambil menyalami, orang melakukan gerak-gerik lamban namun anggun.
Dalam ayat ini terbaca ironi pedas terhadap orang sombong yang suka dipuja oleh orang lain.

Suka dipanggil orang ‘Rabi’ – 23:7
Kata rabi ditempatkan pada akhir segala kritik ini. Kata ini menjadi pula semacam kata peralihan kepada bagian kedua bacaan ini. Kata rab (besar), di masa kehidupan Yesus, berarti “tuan.” Biasanya kata itu ditambah dengan sufiks bi, sehingga kata itu searti dengan “tuanku.” Karena sering dipakai, sufiks ini lama kelamaan kehilangan artinya semula, sehingga di sekitar dekade 70-an abad I, kara rabi mengacu kepada fungsi yang setaraf dengan ahli dan diterapkan pada guru-guru agama. Selanjutnya gelar ini hanya diterapkan – setidak-tidaknya dalam teori – pada mereka yang telah dikukuhkan secara resmi ataupun tamat studi sebagai pengajar agama.