170. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (23:2-7)

Mengikat beban-beban berat – 23:4
Sebagai contoh pertama, Matius memberitahukan betapa tidak konsekuen para pengajar resmi Yahudi itu: Mereka menuntut dari orang lain apa yang tidak pernah mereka tuntut dari diri mereka sendiri. Hati mereka bercabang, sehingga mereka pantas disebut “munafik” (ay 13 dst). Mereka membohongi Allah dan diri sendiri.
Beban-beban berat yang ditaruh pada bahu orang bertentangan dengan “beban ringan” yang dipasang Yesus (Mat 11:30).
Kiasan tentang beban mengingatkan budak yang harus memikul benda berat yang sebelumnya diikat pada bahunya agar jangan jatuh. Yang dimaksudkan di sini ialah segala macam kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat berdasarkan interpretasi para rabi terhadap Kitab Suci. Masyarakat menjadi letih-lesu karenanya dan berbeban berat (Mat 11:28). Sebab akibat legalisme berlebihan, mereka wajib melakukan lebih banyak hal daripada yang dituntut oleh Hukum sendiri. Padahal Hukum itu sendiri sudah berat (Kis 15:10).
Yang terpenting dalam kalimat ini bukannya ketatnya disiplin yang dituntut oleh ahli-ahli Taurat, melainkan kemunafikan dalam memakai dua ukuran yang berbeda-beda. Ukuran lain diterapkan pada diri sendiri dan ukuran lain – pada orang lain.

Mereka sendiri tidak mau menyentuhnya – 23:4
Aslinya, “Mereka sendiri dengan jari mereka tidak mau menggerakkannya.” Maksudnya: Mereka tidak mau berbuat apa-apa untuk membantu masyarakat memikul beban berat itu, yakni memenuhi segala kewajiban itu.

Mereka lakukan … untuk dilihat orang – 23:5
Sebagai contoh kedua, Matius menyebut egosentrisme perbuatan-perbuatan para ahli Taurat dan orang-orang Parisi. Cinta diri berlebihan itu jangan ditiru. Kalau mereka berlaku baik, mereka ternyata tidak mau menyenangkan Allah, tetapi mau dilihat dan dipuji orang! Kritik tajam ini mengingatkan ucapan-ucapan Yesus serupa dalam Wejangan di Bukit (Mat 6:1-6.16-18).

Memakai tali sembahyang yang lebar – 23:5
Inilah salah satu karikatur hidup keagamaan pimpinan Yahudi. Pemakaian tali sembahyang (aslinya: tefillin) di zaman Yesus merupakan suatu tradisi kuno sekali. Sebuah kotak kecil dari kulit diikat dengan tali-tali pada dahi dan lengan kiri (sesuai dengan Kel 13:9.16; Ul 6:8; 11:8); dalam kotak itu terdapat beberapa teks paling dasariah dari PL (menurut peraturan para rabi, isinya ialah Kel 13:1-10; 13:11-16; Ul 6:4-9; 11:13-21). Ini  bukan jimat melainkan suatu lambang keagamaan bermakna mendalam. Lambang itu mengingatkan orang Yahudi bahwa mereka harus selalu ingat akan Hukum Allah serta terlibat dalam pelaksanaannya (Ul 6:8; 11:18; Kel 13:9.16). Orang-orang saleh memakai tali-tali sembahyang itu bukan waktu berdoa saja, melainkan sepanjang hari.
Dalam teks aslinya dikatakan bahwa “mereka memperlebar tali-tali sembahyang.” Dengan cara ini orang-orang Farisi ingin mempertegas tingkat pengabdian mereka kepada Allah.
Yesus sama sekali tidak mengkritik penggunaan tali-tali sembahyang; Ia mengecam pemakaiannya demi pamer.

Jumbai yang panjang – 23:5
Hal serupa dengan yang dikatakan di atas mengenai tali sembahyang, harus dikatakan sehubungan dengan jumbai-jumbai, yang menurut peraturan Hukum (Bil 15:37-39; Ul 22:12; juga Mat 9:20; 14:36) dipasang orang Yahudi pada empat ujung jubahnya; salah satu benang jumbai berwarna ungu, sehingga melambangkan surga. Benang itu diharapkan dapat mengingatkan pemakaiannya akan perlunya mempraktikkan perintah-perintah Allah serta selalu menyembah Allah.
Jumbai dipakai oleh semua orang Yahudi, termasuk Yesus sendir (Mat 9:20; 14:30), tetapi hanya orang-orang Farisi memperpanjangnya secara khusus.