168. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (23:2-7)

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi – 23:2
Bacalah komentar pada Mat 2:4 dan 3:7.

Menduduki kursi Musa – 23:2
Ungkapan Yahudi menduduki kursi searti dengan “memiliki wibawa resmi.” Kata kursi mengacu kepada fungsi pengajaran. Maka, orang yang menduduk kursi Musa ialah pengajar dan penafsir resmi Hukum Musa. Metafor ini tampaknya diilhami oleh adanya suatu tempat duduk dari batu di muka sinagoga yang biasanya dipakai oleh guru resmi.
Di zaman penjajahan Yunani, orang-orang Yahudi biasa memikirkan Musa sebagai guru (Yoh  9:28) yang ditetapkan oleh Allah sendiri untuk menduduki kursi di Sinai. Orang-orang Farisi mengklaim bahwa Musa, selaku pemegang wibawa tertinggi, “hanya dapat dipahami berdasarkan interpreasi yang disajikan oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat.” Dalam Misyna (Kumpulan ajaran lisan Yahudi) dikatakan bahwa Musa menerima Hukum dari Alah di Sinai dan meneruskannya kepada Yosua. Selanjutnya Yosua meneruskannya kepada para tua-tua, lalu para tua-tua kepada para nabi, dan para nabi kepada pimpinan sinagoga.
Wibawa tinggi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu tampak sangat kontras dengan gambaran mereka dalam ayat-ayat selanjutnya. Di dalamnya terungkap sekaligus pengakuan bahwa kedua kelompok itu memang berkuasa dan bertanggung jawab, namun dalam kenyataannya tidak layak memangku kedudukan tinggi iu.
Harus diakui bahwa masyarakat zaman itu sanga memerlukan lembaga pengajaran resmi, khususnya ahli-ahli kitab. Namun, dari lain pihak, lembaga resmi itu sangat mengecewakan.