166. Kamu Semua Adalah Saudara (Mat 23:1-12)

(bacalah perikope ini terlebih dahulu!)

Wejangan-kecaman
Perikop ini merupakan bagian pertama dari sebuah “kumpulan ucapan Yesus” yang dapat dibaca dalam Mat 23. Banyak ahli menyebut Mat 23 sebagai wejangan-kecaman terhadap orang-orang Farisi.
Dalam bagian kedua wejangan itu (23:13-26), Yesus mengucapkan tujuh kali kata celaka melawan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Bagian pertama yang menjadi pusat perhatian komentar ini (23:1-12) justru berisi pengajaran bercorak moral yang ditujukan oleh Yesus kepada khalayak dan murid-murid-Nya.
Dalam bagian ketiga wejangan itu (23:37-39), Yesus meratapi Yerusalem yang tidak lama lagi akan “ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Kata-kata terakhir ini sesungguhnya berperan sebagai pengantar wejangan eskatologis Yesus yang ditempatkan dalam bab 24.

Aktivitas Yesus di Yerusalem
Sebelum memasuki bab 23 Injil Matius ini, perlu diingat kembali bahwa mulai dengan bab 21, Matius menceritakan aktivitas mesianik Yesus di Yerusalem, tepatnya di Bait Suci. Aktivitas itu berupa pengajaran (Mat 21:23) atau semacam ketekese (Mat 22:33). Setelah menyucikan Bait Suci, Yesus tampil dengan penuh wibawa. Para pendengar-Nya terdiri dari tiga kelompok, yaitu: 1. Murid-murid; 2. Para lawan; 3. Orang banyak.
Para lawan Yesus yang ditampilkan oleh Matius mewakili kelompok-kelompok utama masyarakat Yahudi zaman itu; merekalah “pemimpin” bangsa itu. Namun, semua kelompok itu sesungguhnya mewakili seluruh bangsa Israel, saksi kedatangan Mesias, sejauh mereka melawan secara aktif pribadi Yesus dan amanat-Nya. Justru keseluruhan “lawan” itu biasanya disebut orang-orang zaman ini dalam Injil Matius (23:36).
Para penulis Injil, khususnya Matius, cenderung memandang farisiisme sebagai musuh nomor satu Yesus. Namun, pembaca Injil Matius selalu harus ingat bahwa Matius menyusun kitabnya bukan pertama-tama untuk mengecam orang-orang Farisi melainkan untuk membina umat Kristen! Ia bergerak di kalangan umat Kristen asal Yahudi, dan ia menulis kitabnya secara khusus bagi para pimpinan umat itu.
Pada masa itu habislah sudah hubungan baik antara masyarakat Yahudi dengan umat Kristen. Dalam keadaan itu Matius terus-menerus menegaskan pentingnya mengasihi para musuh, tetapi sekaligus dengan tajam sekali menggambarkan musuh-musuh yang bersikap anti terhadap Injil. Mengapa? Sebab ia menyaksikan sendiri, betapa mudahnya sikap Farisi yang dulu itu akhirnya menyusup, hidup kembali, bahkan berkembang di kalangan Kristen pula.

Pembagian teks ini
Bacaan ini dapat dibagi sebagai berikut:
23:1       Pengantar redaksional;
23:2-7   Tanggung jawab, egoisme dan kesombongan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
23:8-12 Sikap persaudaraan, kerendahan hati, dan pelayanan yang dituntut dari pemimpin umat.