Selasa, 14 Desember 2021 ; Pw St. Yohanes dr Salib, ImPuG

C-017 – Zef 3:1-2.9-13 – “Celakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan! Ia tidak mau mendengarkan teguran siapa pun dan tidak mempedulikan kecaman; kepada Tuhan ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap” (ay 1-2)

PERSATUAN UNIVERSAL YANG DIBANGUN ATAS DASAR KEMISKINAN

  1. Nabi menggambarkan Yerusalem yang dikenalnya secara pribadi sebagai benteng para pemberontak, para pencemar kekudusan dan para penindas (ay 1-2). Bukan demikianlah Yerusalem masa mendatang! – seru nabi. Israel mendatang, yaitu “sisa Israel” (ay 13), akan terdiri dari suatu “umat yang rendah hati dan lemah” (ay 12), yaitu dari orang-orang ‘miskin’ di hadapan Allah. Baru di zaman yang akan datang itu bangsa-bangsa lain akan bertobat serta mengakui Yahwe (ay 9-10).
  2. Untuk pertama kalinya seorang nabi menilai mutu bangsa Israel dari sudut kemiskinan. Untuk pertama kalinya pula ia menyebut pengudusan bangsa sebagai prasyarat berhasilnya usaha yang bertujuan mempersatukan segala bangsa.

Mat 21:28-32 – “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah”